Lima Alasan Peribadatan Orang Kristen Tidak Disukai

Best Regards, Live Through This, 13 September 2019
Oh ya, baca artikel ini jangan baper, ya. Bawa ketawa aja sambil koreksi diri dan gereja kita!

*in collaboration with Olivia Elena Hakim.


Sepanjang tahun 2016-2019, kita kerap membaca berita tentang gereja yang didemo oleh umat beragama lain. Wah, sebal dong rasanya, mau beribadah saja kok dilarang-larang! Yap, hal itu juga yang terlintas dalam benak saya, terlebih gereja yang saya layani di Yogyakarta—yang katanya kota penuh toleransi—juga tidak diizinkan beribadah di gedung gereja yang telah lama dibangun.

Tentu ada banyak kemungkinan yang berada di benak umat beragama lain. Kita pun mungkin kerap menggunjingkan penyebab negatif yang melandasi tindak intoleran tersebut. So, daripada kita gibah, mending kita simak lima alasan satir berikut, siapa tahu ini benar terjadi dalam diri kita. Oh ya, baca artikel ini jangan baper, ya. Bawa ketawa aja sambil koreksi diri dan gereja kita!


Alasan #1: Tinggal Di Mana, Eh Gerejanya Jauh Banget

Sejak dalam kandungan nih, bapak dan ibu saya GKI, saya pun GKI; maka di mana pun saya berada harus beribadah di GKI. Wah, label #arekgki atau apapun gereja asal kita melekat kuat nih di hati dan pikiran; entah alasan kita fanatik dengan gereja dan denominasi gereja tertentu karena musikalitas lagu, pelayan Firman yang (kelihatannya) intelek, ataupun jemaat mudanya cantik dan cakep.


      IMG_256

#TrueStory,bukan?

Kadang-kadang kita ga peduli tinggal jauh di daerah Kelapa Gading pokoknya harus gerejanya di Bekasi Timur dengan alasan-alasan di atas.

Sedikit berbeda dengan saudara kita umat beragama Islam—di mana mereka melaksanakan sholat di masjid atau mushola yang dekat dengan tempat tinggal mereka— kecuali jika mereka sedang memiliki urusan di luar rumah. Agak memaksa nampaknya jika beberapa orang yang tinggal di Jawa lalu merantau ke pulau lain (contohnya ke Sulawesi) dan berkeinginan membangun jemaat gereja asalnya, padahal sudah banyak gereja lain di sana.

Hmmm... Mungkin kita ga perlu fanatik juga dengan gereja asal kita. Tuhan tetap hadir kok, jika kita beribadah di gereja lain, asalkan kita membuka hati dan pikiran kita.


Alasan #2: Bikin Jalanan Macet, Parkir Semrawut

Nah, ini efek domino dari alasan #1. Beribadah jauh ga mungkin kita jalan kaki, gempor kaki kita ntar. Entah bawa kendaraan pribadi atau naik angkutan umum, tentu berdampak pada kemacetan di jalan. Secara hari Minggu banyak kantor yang libur, maka jam 9-12 pagi serta jam 5-7 sore jadi jam rawan kendaraan orang-orang yang akan dan usai beribadah bertatap muka di jalanan dan menyebabkan kemacetan. Bisa dibayangkan juga kalau setiap anggota keluarga atau anak muda membawa kendaraan masing-masing (kecuali dalam proses PDKT atau pacaran biasanya berkendara dengan sang cemewew).

IMG_256

Udah melewati kemacetan (atau justru menjadi biang macet), sekarang efek lainnya pun terjadi, yaitu permasalahan parkir. Tentu agak menyebalkan kalau ada mobil yang parkir di depan pintu rumah kita, dan itulah yang dilakukan sebagian besar orang Kristen pada hari Minggu: parkir seenaknya. Jumlah anggota jemaat yang membawa kendaraan pribadi menjadi permasalahan bagi gereja yang tidak memiliki lahan parkir yang besar, sehingga mau tidak mau jadi mengambil porsi jalan di area luar gereja.

IMG_256

Sudah seharusnya gereja memikirkan solusi untuk kemacetan dan parkir kendaraan. Gereja perlu meningkatkan koordinasi dengan petugas keamanan dan melakukan sosialisasi kepada jemaat terkait penanggulangan permasalahan ini. Well, ingat: gereja sudah seharusnya menjadi jawaban bagi masyarakat sekitar, bukan pembuat masalah.


Alasan #3: Telat Beribadah Bikin Tidak Beretika di Jalan

Contoh kebiasaan anak muda adalah baru bangun setengah jam sebelum ibadah dimulai, lalu buru-buru mandi dan ngebut ke gereja.

Hayo, ngaku   

Permasalahan ngebut di jalan—entah lewat jalan perkampungan atau jalan raya—tetap berpotensi membawa bahaya bagi orang lain dan diri sendiri. Dengan kondisi terburu-buru, banyak di antara kita lupa (atau malah sengaja) tidak memakai helm serta tidak membawa SIM dan STNK. Kalau sudah terkena kondisi macet, ga jarang juga kita membunyikan klakson hingga menciptakan kebisingan.

Dalam kondisi bengal akan aturan tersebut, kita tidak akan terima jika ada polisi yang menghambat dan menilang kita. Kita—dengan memasang muka sedih—akan menyampaikan kepada petugas polisi bahwa kita ingin beribadah, minta untuk diberikan permakluman dan—bahkan memberikan sogokan kepada polisi tersebut. Jangan karena ada ritus pengakuan dosa, kita malah banyak-banyakin bikin pelanggaran sebelum ibadah, lho!

IMG_256

Nah, kita perlu memiliki kesadaran untuk mempersiapkan diri dengan baik sebelum beribadah. Kalau diri kita bisa mempersiapkan fisik masing-masing dengan bangun tidak mepet, tentu suasana hati kita juga bagus. Kita pun bisa membawa kendaraan dengan baik dan benar. Kalau dengan peraturan negara aja ga taat, gimana dengan peraturan dan perintah yang ditetapkan Allah?


Alasan #4: Ga Bikin Untung Ekonomi Pedagang Sekitar Gereja 

Sebagian gereja memberikan ruang berjualan—yaitu kedai pagi ataupun kafe sore—yang umumnya diisi oleh jemaat setempat. Tentu kita tidak punya hak dan kuasa seperti Yesus yang 2000-an tahun lalu mengobrak-abrik meja pedagang di depan Bait Allah, karena kedai pagi memiliki “tujuannya” tertentu—entah untuk pembangunan gereja ataupun lainnya. Setelah ibadah, kita yang keluar dari gedung gereja akhirnya tak bisa mengelak dari tawaran bapak-ibu anggota jemaat yang menjajakan gorengan, bakso, nasi goreng, nasi campur dan aneka makanan lain.

    IMG_256

Setiap keputusan—termasuk keputusan gereja memberikan ruang untuk kedai pagi ataupun kafe sore—tentu membawa dampak positif maupun dampak negatif. Dampak negatifnya ialah pedagang lain yang memang sehari-hari berjualan di lingkungan sekitar gereja tidak diminati. Kalaupun ada yang mampir ke pedagang sekitar gereja biasanya mahasiswa yang kadang beli makanan semurah mungkin, nongkrong di sana berjam-jam, bahkan hutang sama si pemilik warung.

Well, seharusnya gereja bukan hanya berfokus kepada perkembangan perekonomian saja, tetapi juga berusaha melakukan diakonia kepada pedagang sekitar lingkungan gereja. Bukan hanya sekadar membeli dagangan mereka, namun dengan memberikan pelatihan kepada pedagang-pedagang tersebut, yang mentransformasi mereka dalam mencari penghasilan.


Alasan #5: Sibuk Sosialisasi Sendiri, Lupa Masyarakat Sekitar

Nah buat kita yang habis pulang gereja langsung pergi nge-mall atau jalan-jalan sama keluarga atau teman-teman seumuran mana, nih suaranya? Kadang-kadang, kegiatan seperti ini nih penting, lho. Kan, alasannya demi melanjutkan persekutuan dan peribadatan, jadi lanjut dong dengan acara “kebersamaan”.

       IMG_256

Terus pertanyaannya, kapan nih sosialisasi dengan masyarakat sekitar gereja? Mungkin sebagian dari kita akan menjawab, "Kan, ada Komisi Kesaksian dan Pelayanan yang bagi-bagi sembako atau baju layak pakai setiap bulannya."

Helloooo, kebutuhan masyarakat sekitar gereja kita bukan hanya masalah sandang dan pangan, mereka juga butuh bersosialisasi dengan kita! Seharusnya, jika ada kegiatan di lingkup RT/RW, gereja juga ikut ambil bagian—baik menjadi peserta maupun ikut andil mengurus kegiatan tersebut. Tentu tujuan kita bersosialisasi lebih besar daripada sekadar mendapatkan perizinan dari masyarakat, melainkan kita menyatakan kasih Kristus tanpa ada batasan.

***

Jadiiii, apakah lima alasan ini kerap dilakukan oleh kita, orang-orang (yang mengaku) Kristen? Mungkin masih ada alasan-alasan lain yang membuat umat beragama lain tidak suka dengan peribadatan orang Kristen. Namun ada yang jauh lebih penting, yaitu terdapat banyak alasan yang membuat umat beragama lain mensyukuri adanya orang Kristen di Indonesia.

"Ehmmm... emang apa, ya?"

Nah, mari kita jawab dan wujudkan bersama, karena kita adalah garam dan terang dunia!

LATEST POST

 

Sobat, pernah ngga sih kalian merasa ketika kalian berpelayanan, ada yang berkomentar pedas atas pel...
by Kevin J. Darmawan | 30 Nov 2019

Pernah mendengar atau membaca ungkapan pada gambar ini? Sebuah ungkapan yang melegakan bagi orang-or...
by Tri Surya Maharani Pasaribu | 30 Nov 2019

Pertama kali saya menjejakkan kaki di Guang Zhou, saya terkejut mendapati langitnya yang berwarna ke...
by Priscila Stevanni | 30 Nov 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER