Berjalan di Atas Air

Best Regards, Live Through This, 13 May 2019
yang Tuhan lakukan saat tidak meredakan badai adalah membuat kita mampu berjalan di atas air

“Kamu yakin engga ikut resign? Rumah sakit ini akan bangkrut loh?” kata seorang teman di hari perpisahannya

Enggak mba, aku yakin Tuhan punya rencana buat aku di rumah sakit ini”.

“Wah.. kamu memang benar-benar anak Tuhan, terjadilah sesuai dengan imanmu ya.” tuntasnya sambil memelukku erat lalu ia pamit pulang.

He didn’t bring me this far to leave me. God didn’t bring me this far to leave me.

Aku mengulang kalimat ini bagaikan mantra untuk menyakinkan diriku sendiri, bahwa bertahan di tengah kekacauan merupakan hal yang benar.

Image by Michal Jarmoluk from Pixabay

Aku telah bekerja sebagai seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta milik perseorangan selama hampir tiga tahun lamanya. Pada akhir tahun lalu, setelah menyelesaikan pendidikan lanjutanku di jurusan manajemen rumah sakit, aku diminta untuk bergabung di jajaran manajemen sebagai seorang kepala bagian kepegawaian. Sebuah cerita yang seharusnya menyenangkan karena ya ... sebut saja aku naik pangkat.

Tapi ternyata di bulan pertama aku bekerja, rumah sakit mengalami kemunduran yang cukup signifikan di bidang keuangan. Hal ini semakin memburuk menyebabkan lebih dari setengah karyawan mengundurkan diri dan pada akhirnya rumah sakit terpaksa menghentikan operasional sementara karena obat, alat kesehatan, dan dokter tidak lagi tersedia secara lengkap.

Awalnya aku begitu bersemangat menanti-nantikan sebuah perkara besar yang akan Tuhan lakukan untuk rumah sakit ini, Aku merasa ada janji yang Tuhan taruh di hatiku. Aku begitu percaya diri dengan iman dan pengenalanku akan Tuhan, bahwa Dia tidak mungkin menjebakku dalam situasi semengerikan ini hanya untuk memperlihatkan kehancuran rumah sakit dari jarak dekat. Aku yakin pasti akan ada sebuah kejutan besar yang sedang Tuhan siapkan bagiku maupun bagi perusahaan ini.

Photo by Pim Chu on Unsplash

Namun, yang terjadi keadaan malah semakin memburuk. Berkali-kali aku melihat kegagalan dalam upaya memulai kerjasama dengan investor. Banyak kejadian yang meleset jauh dari apa yang aku perkirakan. Perusahaan ini bukan lagi tidak mampu beroperasional, tapi juga kesulitan membayar gaji karyawan dan juga tagihan listrik yang terus berjalan. Segala permasalahan yang terjadi dalam perusahaan ini sungguh mempengaruhiku secara pribadi. Aku menantikan janji Tuhan, tapi tak juga kunjung melihat adanya titik terang. Malah keadaaan yang makin terasa gelap, sesak dan membingungkan. 

Pernahkah kalian sedang dalam situasi menanti-nantikan pertolongan Tuhan, tapi pertolongan itu tidak kunjung datang?  Saat keadaan tidak kunjung membaik, saat belum terlihat adanya jalan keluar, atau saat keadaan sekeliling menjadi sangat mengecewakan, masih adakah pengharapan yang tersisa? Masihkah kita percaya bahwa Tuhan sungguh punya rencana baik untuk hidup kita? Atau pernahkah kita memikirkan bahwa kesulitan ini merupakan bagian dari rencana Tuhan juga?

Sebenarnya apa yang sungguh-sungguh mengecewakan kita? Tuhan atau keadaan?


God is too wise to be mistaken

Good is too good to be unkind

So when you don’t understand

When you don’t see His plan

When you can’t trace His hand

Trust His Heart.

Image by RitaE from Pixabay 

Lagu Trust His Heart by Babbie Mason yang dikirimkan seorang sahabat baru-baru ini, meneguhkan kembali hatiku yang sempat hampir habis termakan kekecewaan akan keadaan. Aku mungkin tidak bisa mengerti maksud Tuhan, tetapi aku mau tetap mempercayai hati Tuhan, bahwa hanya damai sejahtera yang Tuhan rencanakan. Hanya hari depan yang penuh harapan yang Dia janjikan. 

 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 11:29).

Semakin memandang kepada Tuhan, aku semakin merasa salah dalam merespons keadaaan selama ini. Lima bulan terakhir aku memang terlihat bekerja begitu keras untuk mengembalikan kondisi perusahaan menjadi baik, namun  yang sebenarnya sedang aku lakukan adalah memaksa Tuhan untuk segera melakukan apa yang “aku mau” untuk Tuhan kerjakan. Aku bukan sedang beriman, aku sedang menuntut Tuhan. 

 “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5) 

Photo by Diana Simumpande on Unsplash


Aku selama ini mengaku bertahan karena memiliki iman, bahwa Tuhan akan memulihkan keadaan rumah sakit adalah benar. Namun ternyata sikap hatiku yang memaksa Tuhan melakukannya dengan caraku, adalah suatu ketidakdewasaan dalam iman. 

Aku akhirnya belajar bahwa percaya pada rancangan ‘hari depan yang penuh harapan’ berarti juga bersedia ‘Tidak bersandar kepada pengertianku sendiri’. 

The canvas doesn’t tell the artist what to paint (Bob Goff), right ?

Kita tidak akan pernah punya kuasa untuk membuat Tuhan bekerja sesuai dengan keinginan kita, apalagi sesuai waktu yang kita tetapkan. Kita hanya bisa percaya penuh, berserah penuh dan berpegang teguh pada perkataan Tuhan. Bahkan saat keadaan sekeliling tampak gelap, saat keadaan tidak kunjung membaik dan saat tidak terjadi apa-apa, tetaplah percaya kalau Tuhan tetap bekerja. 

Dulu aku berdoa agar Tuhan dapat segera meredakan ‘badai’ seperti yang dia lakukan saat bersama murid-murid-Nya di dalam alkitab. Tapi setelah mengalami permasalahan ini, aku seperti mengalami perjumpaan kembali dengan Tuhan. Permasalah tidak berubah, namun aku yang diubahkan oleh Tuhan. 

Image by StockSnap from Pixabay 

Aku bahkan berpikir bahwa saat Tuhan tidak meredakan badai, Sebenarnya Tuhan mau kita mampu untuk berjalan diatas air, dengan begitu lembut Tuhan meminta kita untuk mempercayai-Nya. Seperti yang dikatakan-Nya pada Petrus, “Tenanglah! Aku ini, Jangan Takut!” maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus (Matius 14:27 dan 29).

Pada awalnya dengan penuh keyakinan, Petrus menapakan kakinya di atas air di tengah badai. Namun ketika ia merasakan tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam. 

Persis seperti Petrus, kitalah yang takut dan ragu. Tapi sebanyak kita mulai tenggelam, sebanyak itu juga Tuhan akan tetap memegang tangan kita dan meneguhkan kita untuk terus bersama-Nya sampai di tujuan.

LATEST POST

 

*in collaboration with Olivia Elena HakimSepanjang tahun 2016-2019, kita kerap membaca berita t...
by Ari Setiawan | 18 Sep 2019

Sebagian besar di antara kita menginginkan bisa berada di tempat yang kita inginkan atau kita impika...
by Aditya Seto Nugroho | 18 Sep 2019

Hai Gereja, bagaimana kabarnya? Kulihat wajahmu semakin banyak rupa Masihkah engkau setia membawa su...
by radith trinanda | 18 Sep 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER