Apa yang dari Hati, Akhirnya Sampai ke Hati (Bagian Satu)

Best Regards, Live Through This, 16 August 2019
Hati saya menjerit memohon pertolongan. Hiruk-pikuk pelayanan perlahan menggerogoti kesadaran saya, sehingga sampailah pada suatu titik: Perlukah pelayanan?

Dalam suatu titik tertentu dalam hidup, saya mengalami keletihan rohani selama bergereja dan berpelayanan. Tawaran mengiringi musik bergantian mengisi kalender seakan tidak mengizinkannya kosong. Jadwal latihan rutin dan rapat mengharuskan saya menahan diri untuk tidak bertamasya di akhir pekan, sehingga sebagian besar waktu saya habis di lingkungan gereja. Keinginan untuk visitasi rekan pemuda yang lama tidak hadir juga memaksa saya untuk tidak beristirahat. Semuanya terasa bising, hiruk-pikuk, menekan, bahkan menyebalkan...

hingga suatu hari, saya ingin sekali berhenti pelayanan.


painting of man

Photo by Aarón Blanco Tejedor on Unsplash


Kenyataannya, berhenti pelayanan bukanlah perkara mudah. Atau lebih tepatnya, apakah berhenti merupakan solusi dari kebisingan rohani saya?

Izinkan saya berbagi kisah ini. Mungkin sebagian pembaca mengalami hal-yang-lebih-memukau untuk dijadikan kesaksian, tapi kali ini saya tidak sedang berusaha memukau Anda dengan kisah saya. Satu yang ingin memukau Anda adalah kebaikan Tuhan dan cinta-Nya terhadap gereja. Mari kita mulai.


Lahir sebagai anak pendeta, kehidupan saya tidaklah berada jauh-jauh dari gereja. Apalagi lima tahun pertama hidup saya dilalui di pastori gereja yang lokasinya satu pagar dengan gedung gereja. Setiap kegiatan gerejawi saya dan saudara-saudara saya lewati seutuhnya karena orang tua saya tidak pernah (boleh) absen dari kegiatan tersebut. Sedikit banyak akhirnya nama-nama anggota jemaat dan simpatisan gereja jadi kami hafal.

Tetapi kebisingan itu belum sepenuhnya terasa sampai saya memasuki usia remaja. Terlebih sejak menjadi pengurus; setiap bulan kami mengadakan rapat rutin, visitasi, persiapan acara bulanan, dan persekutuan remaja itu sendiri. Belum termasuk latihan paduan suara dan musik yang di sana saya terlibat juga. Foto kover di atas adalah salah satunya: paduan suara kami cukup sibuk sampai setiap Minggu setidaknya ada satu orang yang harus merelakan liburannya demi mempelajari lagu untuk kami bawakan bersama. Tidak sedikit ujaran "Ga berencana bawa kasur ke gereja?" terlontar ke telinga saya. Risih, tapi mau bagaimana lagi.

Kegelisahan saya mulai timbul saat saya mengalami titik-titik kejenuhan yang saya sebutkan tadi. Saya bertanya-tanya, apakah semua pelayanan ini pantas? Lagipula, apakah Tuhan senang? Bukannya Tuhan itu mahakuasa sehingga Ia tidak membutuhkan pertunjukan seperti yang selama ini saya lakukan?

Pertanyaan ini tidak absen mengisi pikiran saya selama bertahun-tahun. Bahkan hingga saya pindah domisili sekalipun, pertanyaan-pertanyaan ini masih belum terjawab sepenuhnya.


question mark neon signage

Photo by Emily Morter on Unsplash


Sekalipun tiga pertanyaan di atas agak terkesan arogan dan naif, tetapi pada akhirnya Tuhan tetap mau menjawabnya. Secara progresif, saya diperhadapkan dengan jawaban-jawaban yang tidak pernah terbayang sebelumnya.


1. Apakah semua pelayanan ini pantas?

Jawaban pertama muncul ketika saya menyadari kejatuhan saya yang paling dalam.

Sejauh ini, momen tersebut menjadi titik terendah hidup saya yang disebabkan oleh keputusan-keputusan yang saya buat sendiri. Saya begitu angkuh dan menganggap pelayanan saya sudah cukup membahagiakan Tuhan, sehingga kompromi dengan dosa-dosa "terlihat tidak" diberikan ruang dalam hidup saya. Ketika Tuhan menampar untuk menyadarkan saya bahwa betapa dalamnya saya telah jatuh, di situ saya menyadari bahwa ternyata saya tidak bisa sendirian. Saya membutuhkan pertolongan.

Seperti pengelupasan kulit, pertolongan itu terasa menyakitkan. Tuhan menusuk diri saya sampai ke dalam untuk mengangkat dosa-dosa yang sudah lama menempel dalam diri saya. Proses ini terjadi ketika saya bergereja. Melalui firman-Nya, kesaksian, komunitas, dan kehidupan orang lain, Tuhan memproses diri saya untuk menyadari betapa bobroknya kehidupan yang saya jalani.

"Orang yang paling sakit adalah orang yang tidak sadar bahwa dirinya tidak sakit".

Saya bersyukur saya bukan tipe orang seperti ini. Kesadaran yang Tuhan berikan kepada saya mengenai kejatuhan tersebut membuat saya menyadari juga kebutuhan saya untuk terhadap komunitas. Now I'm not that person who will boast and criticize every little mistakes at church. Lebih baik saya berkaca dulu.


selective focus photography of man's reflection on a broken mirror

Photo by Fares Hamouche on Unsplash


Jadi, apakah jawaban atas pertanyaan saya yang pertama?


Saya menyadari bahwa pelayanan saya bukanlah waktunya untuk tampil dan memamerkan apa yang ada pada diri saya, karena ternyata (buruknya, saya baru sadar) tidak ada yang baik dalam diri saya selain kasih Tuhan atas diri saya. Alhasil, pelayanan yang menyibukkan ini tidak lagi saya lihat sebagai usaha menampilkan yang terbaik. Sebaliknya, saya melihat pelayanan sebagai ucapan syukur atas pengampunan Tuhan. Apa yang datang dari hati Tuhan—pengampunan—akhirnya sampai juga ke hati saya. Saya menyesali kebobrokan saya, lalu memohon pada Tuhan agar saya terus bertobat setiap hari.

Syukur pada Tuhan, hati-Nya yang mengampuni telah menerangi mata saya! Setelah melihat ke sekeliling saya, ternyata selama ini saya berada pada suatu lingkungan yang juga diisi orang-orang bobrok yang disayang Tuhan. Seperti kata pepatah, gereja adalah "bengkel" bagi orang-orang berdosa. Di dalamnya, Tuhan terus-menerus membetulkan kerusakannya—termasuk saya. Meski masih ada yang belum beres, saya yakin bahwa Tuhan masih bekerja dalam kehidupan gereja-Nya.

Kesadaran ini membawa saya pada suatu kesimpulan: justru ketika saya menyadari bahwa saya bobrok, meninggalkan pelayanan bukanlah solusinya. Menjauhi pertemuan-pertemuan ibadah justru memberikan ruang kosong di dalam hati saya yang bisa saja dimasuki oleh hal lain yang datangnya bukan dari Tuhan. Ketika hati saya yang haus dan lapar akan Firman saya biarkan begitu saja, hal tersebut seolah-olah mengundang Iblis untuk masuk dan mengisi hati saya.

Tetapi tidak untuk apa yang direncanakan Tuhan. Sekali lagi, hati-Nya yang mengampuni memampukan saya untuk tetap bertahan. Saya tetap melayani, sebab saya tahu di sini saya mendapatkan pertolongan.

Ya, pelayanan ini pantas dilakukan. Pengorbanan ini pantas diberikan pada Tuhan. Bukan karena saya mampu, namun sebaliknya: karena saya bobrok dan membutuhkan pertolongan Tuhan. Pelayanan menjadi bentuk ucapan syukur sekaligus permohonan akan pertolongan-Nya, melalui gereja-Nya yang terus-menerus dicintai-Nya. Akhirnya, apa yang dari hatinya Tuhan sampai juga ke hati saya.


Bagaimana dengan pertanyaan kedua, apakah Tuhan senang dengan yang saya lakukan?


Ikuti kisah selanjutnya dalam bagian dua.

LATEST POST

 

Bahagia itu konsep yang aneh, definisi umumnya adalah keadaan di mana kita menikmati hidup dan meras...
by Joshua Eldi Setio | 06 Apr 2020

“Dunia sedang sakit atau dunia sedang berduka” begitulah tanggapan setidaknya dari penga...
by Lefrandy Praditya Klaas | 06 Apr 2020

Hari ini Luna berulang tahun, ulang tahun kesekian yang tidak perlu disebutkan berapa angkanya. Seda...
by Surya Hadi | 06 Apr 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER