Tetap di Rumah, Tetap Berjamaah (FINALE)

Going Deeper, God's Words, 26 November 2020
"The liturgy is the privileged place in which to hear the divine Word which makes present the Lord’s saving acts; but it is also the context in which the community raises its prayer celebrating divine love. God and man meet each other in an embrace of salvation that finds fulfillment precisely in the liturgical celebration. We might say that this is almost a definition of liturgy: It brings about an embrace of salvation between God and man." - Pope Benedict XVI, 2005


Note: Silahkan membaca Part 1 dan Part 2 terlebih dahulu.


Kini kita telah memasuki bagian akhir dari trilogi pembahasan “Tetap di Rumah, Tetap Berjamaah.” Part sebelumnya diakhiri dengan pertanyaan apakah perbedaan dari ibadah harian dan saat teduh (atau disebut juga renungan harian)? Atau, apakah saat teduh juga merupakan bentuk ibadah harian? Dan apakah ibadah harian dapat dilakukan sendiri seperti saat teduh? Mari kita bahas lebih lanjut.


Di Indonesia, renungan ini dinamai Saat Teduh dan diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia secara dwibulanan. Renungan ini ditujukan untuk semua kalangan, bahkan ada komunitas pembacanya.


Catatan sejarah tentang bagaimana saat teduh dimulai, justru dimuat dalam sebuah buku panduan menulis! Buku ini ditulis oleh Robert Hudson yang berjudul The Christian Writer's Manual of Style: Updated and Expanded Edition, berisi tentang panduan menulis, mengedit, dan proofreading untuk tulisan-tulisan rohani (saat saya menuliskan ini, saya tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan podcast Ignite GKI yang terkait). Dalam buku tersebut dimuat bahwa tulisan saat teduh pertama ada di Irlandia, berjudul "Feliré" yang dituliskan oleh biarawan bernama Óengus dari Tallaght pada abad ke-9. Tulisan ini dikaitkan dengan tradisi ibadah harian yang sudah kita bahas sebelumnya, juga dengan meditasi (bahkan sebelum komunitas dan bentuk meditasi Taizé lahir). Pada awalnya, format saat teduh terdiri dari ayat Alkitab, meditasi, baik sesuai dengan ayat maupun tidak, dan doa penutup. Format ini masih bisa kamu temukan setiap kamu membeli atau mendapatkan Alkitab baru keluaran LAI, tertulis dalam lembaran kecil berjudul “Cara menggunakan Alkitab.” Namun bentuk saat teduh sendiri sudah semakin banyak dan berkembang, dan seringkali mengandung unsur bercerita atau storytelling untuk membantu perenungan pribadi, baik untuk periode bulanan, dwibulanan, bahkan tahunan.


Lalu, dimana perbedaan saat teduh dan ibadah harian?


Saat teduh tidak terikat pada suatu bentuk liturgi, karena tujuan sebenarnya adalah refleksi pribadi. Saat teduh adalah bagaimana kita menerima firman Tuhan, merenungkannya, lalu sebisa mungkin melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun ibadah harian adalah suatu bentuk kebiasaan, bahkan kewajiban (untuk beberapa denominasi) yang harus kita lakukan sebagai bukti bahwa doa adalah nafas hidup orang percaya. Kita mendisiplinkan diri setiap harinya dengan melakukan ibadah ini, agar kita bisa semakin terbiasa untuk berdoa dan mengandalkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita setiap hari. Sehingga di sini terlihat jelas perbedaan antara refleksi dan disiplin, meskipun keduanya dapat dilakukan secara bersamaan. Saat teduh pun bisa dilaksanakan secara berjamaah, seperti halnya ibadah harian. Maka, jika kamu belum tahu atau belum terbiasa dengan ibadah harian, kamu bisa memulainya dengan melakukan saat teduh secara konsisten setiap hari.


Apakah ibadah harian dapat dilakukan sendiri seperti saat teduh?


Sebenarnya bisa, tapi untuk ibadah harian dalam denominasi yang lebih tradisional, akan lebih sulit dibandingkan dilakukan secara berjamaah, biasanya dalam keluarga. Untuk bisa melakukannya sendiri, perlu latihan dan membiasakan diri dengan penyesuaian instruksi yang ada, karena ibadah harian bentuknya liturgi dan seharusnya tetap dipimpin oleh seorang imam, yakni kepala keluarga. Setiap ibadah harian dari berbagai denominasi punya tata caranya sendiri-sendiri untuk menyesuaikan ketika bentuk liturginya harus disesuaikan untuk beribadah sendirian. Itulah mengapa, lebih banyak yang mengenal dan menggunakan saat teduh untuk membiasakan diri dengan perenungan firman Tuhan, sekaligus disiplin doa pribadi tiap hari. Dan beberapa gereja di Indonesia sendiri membuat ibadah harian juga berbasiskan praktik saat teduh, agar bisa dilakukan baik secara pribadi maupun berjamaah.


Photo by Jon Tyson on Unsplash 


Jadi, apa kesimpulan dari seluruh rangkaian pembahasan ini?


Kesimpulannya, jangan kendorkan semangat kita untuk beribadah, terutama dalam masa pandemi yang terasa tak henti-henti. Jika kamu ingin memulainya, pelajarilah tentang rangkaian pembahasan ini, cari dan gali lebih dalam, dan praktekkan di rumah masing-masing sesuai tradisi ibadah yang biasa kamu anut. Sekali lagi, kita umat Kristen tidak hanya beribadah pada hari Minggu saja! Tetap di rumah, tetap beribadah, jika mampu, mulailah ibadah berjamaah dengan keluarga untuk tetap bersekutu. Ingat, adanya ibadah harian dalam sejarah keimanan kita adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa persekutuan umat Kristen dimulai dari keluarga. Dengan menyadari hal ini, semoga kita sama-sama berpegang teguh dalam iman, dan mendoakan yang terbaik agar pandemi ini cepat berlalu.


Soli Deo Gloria. Kemuliaan hanya bagi nama Tuhan.

LATEST POST

 

Buat kalian pecinta YouTube, adakah dari kalian yang merasakan hal yang berbeda di awal tahun ini? K...
by Lay Lukas Christian | 22 Jan 2021

Just imagine, or remember, if you have this kind of story of life! One day, you met your “supp...
by Timothy Aditya Sutantyo | 22 Jan 2021

Berada dalam suatu persekutuan inklusif yang membangun iman percayaku kepada Allah Tritunggal dan da...
by Jerell Michael Cussoy | 21 Jan 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER