Tetap di Rumah, Tetap Berjamaah (Part 2)

Going Deeper, God's Words, 11 July 2020
"The liturgy is the privileged place in which to hear the divine Word which makes present the Lord’s saving acts; but it is also the context in which the community raises its prayer celebrating divine love. God and man meet each other in an embrace of salvation that finds fulfillment precisely in the liturgical celebration. We might say that this is almost a definition of liturgy: It brings about an embrace of salvation between God and man." - Pope Benedict XVI, 2005

Note: Jika kamu belum membaca part sebelumnya, dapat klik di sini.

Habis PSBB, terbitlah New Normal. Suatu keadaan di mana kita sudah harus membiasakan diri dengan kebiasaan baru setiap kali kita pergi keluar rumah. Dalam masa adaptasi ini, sudah banyak tempat-tempat umum dibuka, termasuk beberapa gereja dengan protokol-protokol kesehatan. Dengan kembalinya kebiasaan beribadah di gereja, apa kita akan melupakan kembali kebiasaan beribadah bersama di rumah? Jangan sampai itu terjadi! Doa adalah nafas hidup orang percaya, dan beribadah bersama setiap harinya adalah salah satu cara kita menghidupi nafas tersebut.

Dalam part sebelumnya mungkin kamu sudah bertanya, bagaimana tradisi agama Kristen diciptakan, dikembangkan, dan dipertahankan? Denominasi mana yang memiliki ibadah seperti ini? Apakah hal ini dapat membantu selama kita beribadah di rumah saja karena pandemi COVID-19? 

Ikon yang menggambarkan hari Pentakosta menurut tradisi Byzantine, dilukis pada abad 15

Setelah hari Pentakosta tiba, para rasul melanjutkan pekerjaan memberitakan Injil dengan penuh semangat. Dalam pekerjaannya, para rasul bekerja bersama murid-murid yang mereka angkat, beberapa di antaranya adalah Markus (murid rasul Petrus, disebut sebagai anak rohaninya dalam 1 Ptr. 5:13) dan Lukas (murid rasul Paulus, disebut sebagai kawan sekerja dalam Fil. 1:24) yang menulis dua dari empat kitab Injil. Pada awal perkembangannya, ibadah umat Kristen mula-mula masih “meminjam” Sinagoga Yahudi, namun karena semakin lama semakin dirasa tidak sesuai lagi, maka umat Kristen menjalankan ibadahnya dalam Katakombe yang menjadi cikal bakal dari gereja. Nah, sama halnya dengan ini, liturgi umat Kristen pun pada saat itu juga masih “meminjam” tata ibadah Yahudi, lalu kemudian murid dari para rasul membuat liturgi yang lebih sesuai dengan Kekristenan. Beberapa liturgi tertua adalah liturgi yang dibuat oleh rasul Markus penulis Injil (Liturgy of St. Mark), dan liturgi Yakobus, penulis surat Yakobus yang merupakan saudara dari Yesus Kristus (Liturgy of St. James/Jacobite liturgy). Seiring waktu berjalan, liturgi terus dan terus dikembangkan mulai dari zaman Bapa-Bapa Gereja (zaman Patristik) hingga hari ini.

Sekarang sudah jelas bagaimana tradisi agama Kristen diciptakan dan dikembangkan. Kamu mungkin jadi berpikir bahwa sebelum liturgi ibadah harian diresmikan, orang Kristen masih menggunakan cara sembahyang Yahudi untuk beribadah setiap hari, dan itu memang benar. Lalu, setelah liturgi Kristen berkembang, di mana liturgi untuk ibadah/sembahyang harian itu tertulis?

Dalam sejarahnya, aliran gereja terus terbagi sejak Konsili Nicea I hingga hari ini, yang berarti akan menghasilkan persepsi tentang liturgi yang berbeda, termasuk dalam ibadah harian. Dan dalam hasil tujuh konsili ekumenis pertama inilah tradisi agama Kristen dipertahankan. Namun, secara garis besar kita dapat melihat contoh dari kacamata 5 denominasi Kristen tradisional di dunia, yaitu Orthodox Timur, Orthodox Oriental, Katolik Roma, Confessional Lutheran (denominasi Lutheran tradisional, seperti Lutheran Church of Missouri Synod (LCMS) di Amerika Serikat), dan Anglikan. Confessional Lutheran dan Anglikan termasuk dalam rumpun Protestan. Orthodox Timur memiliki Horologion, Orthodox Oriental memiliki Agpeya, Katolik Roma memiliki Ibadat Harian (Daily Office), Confessional Lutheran memiliki Lutheran Book of Daily Prayer, dan Anglikan memiliki Book of Common Prayer. Pada dasarnya, buku-buku ini sama-sama memiliki tujuan untuk mengarahkan umat melakukan sembahyang harian, baik itu 2 waktu (pagi dan siang, hanya pada denominasi Lutheran tradisional dan Anglikan), 3 waktu (pagi, siang, malam), dan 7 waktu (pukul 6 pagi, 9 malam, 12 siang, 3 pagi, 6 petang, 9 malam, dan 12 dini hari), dengan cara sembahyang berdasarkan tradisi masing-masing denominasi. Bahkan di Indonesia sendiri, di luar kelima denominasi ini juga ada website dari suatu gereja yang menyediakan tata ibadah harian mereka sendiri! Menarik, bukan? Dan puji Tuhan, dalam masa pandemi COVID-19 ini ada beberapa gereja yang akhirnya menyadari pentingnya ibadah harian ini, lalu membuat dan menyebarkan tata ibadah tersebut secara internal pada jemaatnya. 

Jadi kini sudah jelas, bahwa praktek ibadah harian ini akan sangat membantu kebutuhan rohani kita dalam masa pandemi COVID-19 setiap harinya. Oh ya, membaca penjelasan ini kamu mungkin teringat sesuatu yang cukup mirip dengan hal ini, yaitu saat teduh. Apakah terdapat perbedaan antara saat teduh dan ibadah harian? Dan apakah ibadah harian bisa dilakukan sendiri seperti saat teduh? Dari keduanya, apa yang bisa disimpulkan?

Nantikan jawabannya di part selanjutnya!


Soli Deo gloria. Kemuliaan hanya bagi nama Tuhan.

LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER