Kasut atau Kusut?

Going Deeper, God's Words, 18 July 2020
Aku tidak bercita-cita jadi Paspampres. Tapi aku adalah Paspampresnya Tuhan Yesus.

Menjadi seorang anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pasti merupakan sebuah kebanggaan. Tugasnya tentu yang utama adalah menjaga keamanan seorang presiden 24 jam dalam tujuh hari di manapun ia beraktivitas.

Fenomena popularitas Paspampres Presiden RI sekarang cukup menarik. Mereka bukan hanya sudah pasti jago dalam bertempur dengan atau tanpa senjata, namun perawakannya juga cukup menghibur, terutama untuk kaum hawa. 

Sebelum Presiden Jokowi berangkat meninjau suatu lokasi, biasanya ada beberapa dari paspamres akan datang terlebih dahulu ke lokasi beberapa waktu sebelum beliau datang. Tugasnya adalah untuk berkoordinasi, memberitahukan persiapan apa saja yang diperlukan untuk menjaga keamanan kedatangan presiden.  Ini adalah tugas penting, selain tugas menjaga keamanan ketika presiden sudah sampai di lokasi.

Mana yang lebih berotoritas dan lebih penting, Paspampres atau presiden itu sendiri? Yang lebih berotoritas dan lebih penting ya presiden. Jangan dibalik. Jangan sampai Pasukan Pengamanan Presiden show off (a.k.a pamer) supaya terkenal, membuat orang salah fokus, sehingga pesan dan kehadiran presiden tidak diperhatikan. 

Jika itu terjadi, jadi kusut deh. Ngga sesuai peran yang seharusnya dia jalankan yang sebenarnya sudah dia ketahui sejak pertama direkrut. 

Om Yohanes Pembaptis memang bukan Paspampres. Tetapi tugasnya beliau mirip seperti Paspampres dalam konteks dia datang terlebih dahulu untuk memberitahukan kepada orang Israel tentang kedatangan raja mereka, juruselamat mereka, Tuhan Yesus. Dia memberitahukan “persiapan” apa yang harus dilakukan orang Israel menyambut kedatangan-Nya.

Om Yohanes Pembaptis itu jadi inspirasi dan teladan. Dia buka jalan untuk kedatangan juruselamat namun tetap tahu diri. Dia sadar dia tidak lebih berotoritas dan tidak lebih penting dari Tuhan Yesus. Seperti dicatat di Matius 3:11, Om Yohanes Pembaptis mengatakan: 

Untuk membawa kasut-Nya saja pun aku tidak layak.

Kasut itu adalah alas kaki di Israel jaman dulu ketika Tuhan Yesus ada. Mungkin kalau jaman now seperti sepatu sandal.

Sama seperti Om Yohanes Pembaptis, kasut-Nya saja aku tidak layak buka, kok aku bertingkah seolah aku penting banget, lebih berotoritas dan lebih penting dari Tuhan. Memuliakan Allah adalah tugas manusia, bukan memuliakan diri sendiri. Apapun yang aku perbuat, aku harus perbuat untuk Tuhan seperti Firman Tuhan dalam Kolose 3: 23:

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Aku tidak bercita-cita jadi Paspampres. Tapi aku adalah Paspampresnya Tuhan Yesus. Aku harus tahu diri untuk mengingat siapa aku dan tugasku untuk mempersiapakan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.


LATEST POST

 

            Pastinya sebagian dari kita sering mendengar atau mel...
by Eva Chrisviana | 30 Nov 2020

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER