Bagaimana Anjingku Mengajarkan Kasih Karunia Kepadaku

Best Regards, Live Through This, 23 May 2020
Kasih karunia menyapa dalam kehidupan sehari-hari, untuk mengingatkan identitas kita, sekaligus menyingkapkan pribadi Allah. Sadarkah Anda?

            Tulisan ini adalah sebuah renungan pribadi yang rindu untuk saya bagikan kepada saudara sekalian tentang kasih karunia. Tentu saja, kisah ini tidak dapat menggambarkan kasih karunia Allah secara sempurna, dan saya meyakini bahwa tidak ada satu analogi pun yang sanggup menjelaskan kasih karunia Allah dengan sempurna. Namun, saya berdoa supaya dengan tuntunan Roh Kudus, saudara dapat merasakan kasih karunia Allah melalui kisah ini.


            Saya dan keluarga memiliki seekor anjing peliharaan, namanya Mimo. Mimo adalah seekor anjing betina campuran antara maltese dan peking dan umurnya – saat saya menulis artikel ini – 9 bulan. Mimo ini adalah anjing yang ceria; suka bermain, suka makan dan suka tidur, seperti anak anjing pada umumnya.

Kami sangat menyayangi Mimo, dan kami tidak ingin ada hal buruk terjadi kepadanya. Makanya, ia tidak pernah kami izinkan keluar rumah. Kami selalu berhati-hati ketika membuka pintu rumah; ketika menyambut tamu, menerima paket kiriman, atau sekadar keluar rumah untuk mengambil barang, seperti sapu. Namun terkadang kami lalai dalam melakukan hal itu. Akibatnya, Mimo pergi ke luar rumah dan kami harus bekerjasama untuk menangkapnya. Dibutuhkan lebih dari satu orang untuk menangkap Mimo, karena ia selalu bersemangat ketika ia berhasil keluar dari rumah.

Pada suatu petang menjelang malam, kami lupa menutup pintu depan rumah. Tanpa sepengetahuan kami, Mimo pun keluar dari rumah. Mungkin ia merasa senang karena akhirnya dia bisa bermain di luar rumah dengan bebas, tanpa kejaran majikannya yang memaksa dia untuk kembali masuk ke dalam rumah. Kami tidak tahu apa saja yang dia lakukan di luar rumah, kami juga tidak tahu berapa lama dia di luar rumah. Yang kami tahu adalah dia kembali dengan keinginannya sendiri – itu sangat mengejutkan – dan dalam keadaan yang sangat kotor, ia pun masuk ke dalam rumah. 

Awalnya kami berpikir bahwa kotoran yang meliputi bulu Mimo adalah gumpalan lumpur yang mengering. Namun ternyata, kotoran yang meliputi bulunya itu adalah duri dari tanaman liar. Sekujur tubuh bagian kanannya dipenuhi dengan duri. Seperti biasanya, kami memarahi Mimo; dengan sebuah harapan bahwa dia akan jera dan akhirnya mengerti alasan mengapa dia tidak diperbolehkan keluar rumah. Kemudian dengan keadaan hati yang marah, saya pun mencoba untuk melepaskan duri yang tersangkut di bulunya. 

Saya membutuhkan waktu lebih dari 20 menit untuk melakukannya. Namun keadaan hati saya yang tadinya marah tiba-tiba berubah menjadi sedih ketika mendengar hela napasnya yang berat dan melihat raut wajahnya yang kesakitan. Biasanya, Mimo tidak suka kalau mukanya disentuh. Namun pada malam itu, Mimo hanya bisa berdiam diri dan membiarkan saya melepaskan satu per satu duri dari bulunya. Akhirnya saya selesai membersihkan Mimo dari duri-duri itu, sekarang tinggal membersihkan telapak kakinya yang juga terkena duri. Namun agaknya Mimo tidak terlalu senang ketika saya mencoba untuk membersihkan telapak kakinya. Dia mulai meronta dan menggigit tangan saya – walaupun sebenarnya gigitannya itu tidak menyakitkan.

Akhirnya dengan sedikit paksaan, saya berhasil mencabut semua duri yang tersangkut di bulunya. Duri-duri yang tadinya tersangkut di bulu Mimo itu saya biarkan di atas lantai – dengan sebuah keyakinan bahwa dia pasti sudah cukup jera dan tidak mau lagi berada di dekat duri-duri itu – lalu saya hendak pergi untuk mengambil sapu dan pengki. Kemudian saya berdiri dan mulai berjalan, dan saya menoleh ke belakang untuk memeriksa. Betapa terkejutnya saya ketika melihat bahwa Mimo masih saja bermain-main dengan duri itu. Wajahnya yang tadinya sudah dibersihkan itu kembali menjadi kotor dan berduri. Akhirnya saya membersihkan wajahnya lagi, menempatkan dia di ruangan lain, kemudian membuang duri-duri yang ada di lantai itu.

Ketika saya selesai membersihkan Mimo dari duri-duri itu, saya merenungkan beberapa hal yang saya pikirkan selama membersihkan bulunya. Melalui kejadian tersebut, saya menyadari bahwa kehidupan rohani saya sebenarnya tidak lebih baik bahkan jika dibandingkan dengan perilaku anjing saya. Sedang saya menuliskan renungan ini, saya memikirkan kembali bagaimana bisa kejadian sesederhana dan sekonyol itu membawa saya kepada perenungan keberdosaan saya? Namun perenungan tersebut membuat saya tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun, selain: “Saya hanyalah orang berdosa.” Seringkali saya melakukan hal-hal yang tidak baik, bahkan dalam kesadaran penuh. Saya tetap kembali kepada kesalahan yang sama, bahkan ketika saya tahu konsekuensi dari perbuatan tersebut. 

“Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24), “…Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” (1 Tim. 1:15). Kedua kutipan tersebut merupakan ucapan Paulus yang menunjukkan kehancurannya sebagai manusia berdosa yang tidak layak di hadapan Tuhan. Paulus tidak hanya menyadari keadaannya sebagai seorang berdosa, ia bahkan menganggap dirinya sendiri sebagai orang yang paling berdosa.


Jika orang paling berdosa yang Anda kenal bukan Anda, maka Anda tidak mengenal diri Anda dengan baik.” – Jean Laroux

Dosa saya semakin tidak bisa disembuhkan karena saya tidak menganggap diri saya orang berdosa.” – St. Agustinus

Kasih karunia menunjukkan siapa diri kita sebenarnya, sekaligus menyingkapkan siapa Allah sebenarnya. “Syukur kepada Allah, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita! Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.” (Roma 7:25-26), “Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.” (1 Tim. 1:16).

“Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.” Kita patut bersyukur kepada Tuhan atas kasih karunia yang telah diberikan kepada setiap kita. Karena kasih karunia Allah, kita dapat mengenal diri kita, sehingga keadaan kita dapat dipulihkan. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk dapat hidup dalam kasih karunia-Nya. Amin.

LATEST POST

 

Waktu itu, aku liat tiktok. Trus, ada satu video dialog filsafat dimana ada orang bule bicara tentan...
by Yessi Nadia Giatma Saragih | 11 Jan 2022

 Suatu ketika aku meminta mami untuk dibuatkan kue bolu pandan. Yah, aku suka sekali makan kue...
by Nuel Lubis | 11 Jan 2022

Hanya Dialah yang tahu ‘kan segala rahasia,tiada ‘ku takut ‘kan kuasa gelap.Masa y...
by Sandra Priskila | 02 Jan 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER