Pandemi Virus Corona: Mempertanyakan Kembali Peran Manusia di Dunia

Best Regards, Live Through This, 04 April 2020
Semua sama-sama sementara, hanya kita yang suka merasa maha dan berkuasa.

Hai, apa kabar belasan hari ini #dirumahaja? Semoga kabarmu baik, dan orang-orang di sekitarmu juga. Sudahkah merasa sepi? Semoga tidak, toh teknologi saat ini memungkinkan kita tetap terhubung, belajar, bekerja. Come on, this is the best time to be alive and stay at home. Sudah daripada menyesali sepi sendiri, lebih baik kita berpikir dan merenung sebentar.

Artikel ini tidak akan bicara tentang virus, apalagi kesehatan masyarakat. Terlalu berat, kita bahas yang ringan-ringan saja.

Kita Ternyata Tidak Sehebat Itu
 

Dunia ini lucu. Virus yang bahkan tak nampak mata, bisa membuat kita manusia repot luar biasa. Sebegitu hebatnya dampak virus ini, sampai semua aspek kehidupan kita diusiknya.

Manusia sebagai makhluk yang paling tinggi mobilitasnya, kali ini dipaksa berdiam diri. Tidak bisa keluar dari rumah, bahkan di beberapa tempat kamu akan didenda bahkan dipenjara kalau memaksa berkeliaran di luar rumah. Dipaksa diam #dirumahaja menjadi hal yang aneh untuk sebagian orang, padahal kita terbiasa mengurung burung dalam sangkar tanpa berpikir apakah dia ingin bebas juga. Ini uniknya manusia, kita sadar akan hak kita untuk bergerak dan kita sangat tidak nyaman untuk dipaksa diam. Jujur saja, di zaman serba mobile ini jarang kita nyaman untuk diam, dunia menuntut kita bergerak dengan cepat. 

Bukan hanya kebebasan untuk bergerak, kebebasan berkumpul juga dibatasi untuk menekan penyebaran. Untuk sementara waktu makhluk yang hobi kumpul-kumpul ini perlu social distancing, menjaga jarak dengan sesamanya, belajar menikmati kesendirian. "Flatten the curve!", they said. Tidak terhitung berapa banyak acara dibatalkan, lokal dan internasional. Acara pensi sekolah, sampai liga sepakbola kelas dunia semua kena imbasnya. Untuk teman-teman yang harus mengatur ulang hari bahagianya, semangat! Love will find a way.

Indeks harga saham dunia jatuh curam, terburuk sejak krisis finansial 2008. Bahkan beberapa analis mengatakan kita sedang menuju resesi ekonomi. Pada skala lokal, wabah ini tak kalah luar biasa. Satu dari lima teman saya menjalani pekerjaan baru, berdagang masker dan penyanitasi tangan. UNESCO memperkirakan jutaan murid tidak bisa pergi ke sekolah. Pendidikan yang kita banggakan sebagai proses pewarisan ilmu dan budaya, tidak bisa terselenggara dengan semestinya.

Untuk beribadah juga tidak kalah repotnya. Pemerintah pusat dan daerah menerbitkan kebijakan supaya umat tidak berkumpul untuk beribadah. Kebijakan ini diikuti oleh para pemuka agama. Penolakan pasti ada, tapi memang saat ini situasi sedang tidak memungkinkan. Jangan sampai kita beriman tanpa berlogika dengan tetap mengadakan pertemuan ibadah langsung. Jangan jauh-jauh, GKI, gereja tradisional dengan unsur ritual yang kental, menyerah juga untuk beribadah di gedung gereja. Akhirnya saya merasakan ibadah daring untuk pertama kalinya. (thanks Ignite!)

Hal-hal ini tidak terjadi setiap hari. Malah beberapa hal terjadi untuk pertama kali dalam sejarah. Luar biasa bukan? Kalau boleh saya berpendapat, pencapaian peradaban yang telah dibangun umat manusia bisa goyah hanya dalam tiga bulan sejak outbreak ini terjadi.

Mempertanyakan Kita Apa dan Untuk Apa.

Bagaimana? Sudah merasakan bagaimana ternyata manusia tidak sehebat itu ? Hati-hati, ini bukan yang paling parah. Sejarah mencatat, umat manusia memang rentan terhadap wabah. Kita sepatutnya bersyukur punya kemampuan yang mumpuni untuk mencegah dan mengobati. Akan tetapi lepas dari itu semua, kita manusia tetap jadi bagian kecil dari hal yang jauh lebih besar, yang sejujurnya kita belum mengerti semua dan seutuhnya.

Dihadapkan pada alam semesta, kita ini kecil dan lemah. Hanya saja kita suka sekali merasa besar dan benar. Akal budi yang Tuhan beri kita jadikan legitimasi untuk merasa maha dan berkuasa. Kita hobi merasa lebih ini dan lebih itu dari makhluk lainnya, lupa kalau sebenarnya semua sama-sama sementara. Karena bercokol di puncak rantai makanan, kita merasa berhak mengambil ini itu sesuka mau nafsu kita. Pertanyaannya, apakah Tuhan benar menciptakan manusia di dunia untuk itu?

Pernah jatuh cinta? Kalau iya, bagus. Berarti kamu manusia. Kalau belum, tidak masalah juga. Saya pun masih tidak mengerti konsep cinta-cintaan itu apa. Terlalu abstrak buat dinarasikan. Sabar saja, nanti ada saatnya. Tapi apakah sepasang kera juga jatuh cinta? Entahlah, benar kan cinta itu rumit. Menurut saya, kita suka memonopoli konsep cinta sebagai hubungan timbal-balik antara dua insan manusia. 

Pernahkah kita berpikir kalau dunia ini sesuatu yang 'hidup'? Harusnya kamu setuju. Masa iya sumber kehidupan manusia (oksigen, air, zat mineral, dan lain-lainnya) sendiri tidak 'hidup'? Oleh karena itu, saya berasumsi, seperti manusia, dia (alam) juga bisa mencinta. Kita ini sedang berelasi, dan dia bisa membalas baik/buruknya perilaku kita. Ya layaknya relasi antarmanusia.

Hak Anda untuk percaya karma atau tidak, tapi kita sama-sama tumbuh besar dengan ajaran 'hukum tabur-tuai'. Kata guru Sekolah Minggu dulu, tabur yang baik, maka kita akan tuai yang baik juga. Begitu juga sebaliknya. Sederhana sekali. Sebenarnya sama saja, hanya kita perlu melihat dari sudut pandang yang berbeda. Mencoba memahami kalau Bumi dan isinya juga perlu kita cintai. Intinya, hidup dan menjalin relasi yang baik dengan lingkungan.

Selaras dan Secukupnya

Pertanyaannya, bisakah kita menjalin relasi yang baik dengan lingkungan?

Menurut saya bisa, faktanya sejak dahulu kearifan lokal kita sudah mengajarkannya. Zaman dahulu sebelum ada agama modern seperti sekarang, konsep-konsep kepercayaan tradisional menekankan pada keharmonisan hidup dengan alam. 

Konsep tritangtu dalam Budaya Sunda contohnya, yang mengajarkan tentang lahirnya keharmonian karena pada dasarnya manusia dan hal-hal lainnya berasal dari satu sumber yang sama. Kesadaran bahwa manusia tidak berbeda dengan semesta mengharuskan manusia menghormati alam dan sesamanya. Ada juga beragam tradisi dari banyak daerah di Nusantara yang menata nilai dan perilaku hidup masyarakat untuk hidup secara arif. Dengan ragam cara-cara yang berbeda, semuanya memiliki satu kesamaan, mengambil secukupnya.

Mengerti arti "secukupnya" menjadi hal yang asing dan sulit dalam kondisi masyarakat saat ini. Apa dan kapan itu cukup? Pada kondisi apa manusia merasa cukup? "Cukup" menjadi suatu hal yang sangat jauh. Kita dibentuk untuk selalu mencari lebih, tidak pernah merasa puas, berjuang dan berkorban untuk mencapai banyak hal, menjadi lebih dari yang lain. Wajar saja, kita ini salah satu makhluk hidup yang paling kompetitif.

Di sini kita dapat kembali mempertanyakan peran kita. Apakah peran kita hanya untuk mencari lebih? Apakah kita sebegitu takutnya untuk berkurang? Hal ini berkaitan dengan tendensi manusia untuk mengambil dan mengembalikan. Karena mengambil berarti bertambah, dan mengembalikan berarti berkurang. Apakah kita bisa menahan diri untuk mengambil, memiliki, dan membeli (dalam masyarakat modern, membeli adalah cara memiliki)? Kapan terakhir kali kita mengembalikan? Bayangkan akan sekacau apa relasi antarmanusia yang hanya mengambil dan menerima tanpa memberi dan mengembalikan? Sama halnya dengan hubungan kita dengan alam, sudah seharusnya kita juga memberi.

Konyolnya Ego Kita

"Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya instagrammable." Kalimat indah yang setiap minggu teriring dalam doa. Mungkin saking seringnya diucapkan, sampai kita lupa bagaimana memaknai secukupnya. Kenapa saat ini pemaknaan makan cukup berubah? Karena saat ini makan bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Karena makan cukup tidak cukup, kita ingin makan enak, dan ketika enak tidak cukup kita ingin makan cantik. Supaya apa? Supaya yang kenyang bukan cuma perut, tapi juga ego kita juga.

Kalau ditarik mundur ke belakang, ada kabar kalau sumber penularan virus ini dari kelelawar. Pasar basah tempat hewan-hewan liar diperdagangkan menjadi lokasi awal bencana. Walau masih jadi perdebatan, mayoritas warganet sepakat hewan ini tidak lazim untuk dikonsumsi. Penelitian juga mengatakan kalau kelelawar memang secara alami membawa virus yang dapat membahayakan manusia. Hewan ini dikonsumsi karena dianggap prestise dan dipercaya akan khasiatnya, yang sebetulnya tidak terbukti secara ilmiah. 

Bukankah ini contoh nyata bagaimana manusia tidak pernah merasa cukup? Kita yang selalu ingin mencari lebih sehingga mempercayai mitos dan takhayul. Alhasil kekonyolan ini merugikan banyak orang. Hal ini sama konyolnya dengan konsumsi tanduk badak dan sirip hiu. Tanduk badak itu terbentuk dari keratin, tidak ada bedanya dengan kuku manusia, entah bagaimana dipercaya mujarab sebagai obat. Sirip hiu juga dikonsumsi sebagai bentuk prestise semata, malah mengandung zat berbahaya untuk tubuh manusia. Contoh nyata sederhana kalau keserakahan kita itu konyol.

Kita bisa apa?

Kita sampai di bagian yang sulit. Saya sadar betul saya bukan orang yang tepat untuk menggurui, yang saya lakukan masih receh sekali. Namun yang dapat saya katakan, mulailah dari hal yang kecil dan sederhana. Sesederhana menahan diri untuk membeli yang tidak diperlukan, hal ini akan mengurangi produksi sampah pribadi. Bisa juga memilih transportasi umum atau sepeda daripada bermotor ria, dan lebih bijaksana dalam memilih produk untuk dikonsumsi. Tidak ada hal yang luar biasa, cuman sedikit perbuatan baik sebagai ucapan terima kasih untuk Bumi ini. 

Hal-hal tersebut walau sederhana tetap memerlukan waktu, tenaga, dan biaya. Di sini saya meyakini kalau itu semua bentuk mengembalikan sedikit dari banyak yang sudah saya ambil. Saya hanya percaya saja, semua ini sebagai bentuk penghargaan saya dalam berelasi dengan lingkungan (saya bahkan masih merasa tidak layak untuk bilang saya mencintai). Sekali lagi, percayalah saat kita menabur yang baik, ya kita semua tahu kelanjutannya.

Apakah melakukan ini ada manfaatnya untuk diri sendiri? Saya rasa ada, walau mungkin dasarnya tidak ilmiah, tapi ini benar saya rasakan. Melakukan hal yang baik untuk lingkungan dan sesama, saya merasa hidup lebih tenang di dunia yang berisik ini, berdamai dengan hal-hal yang mengusik, dan sampai pada titik secara fisik (atau mungkin mental yang memengaruhi fisik?) merasa lebih sehat. Dipikir-pikir ini bukan hal mistis atau apa, sesederhana kita bisa melihat hidup dengan lebih positif. Ya, saya merasakan keselarasan membawa kita pada hal-hal yang baik.

Kenapa Kita, Bukan Mereka?

Tidak selesai di sini, ego pribadi masih ada dan bertanya, 'Kenapa harus kita?' Kenapa bukan pengusaha kaya-raya atau korporasi raksasa yang serakah? Kenapa hal ini dibebankan kepada individu-individu yang bahkan masih khawatir akan masa depan dirinya sendiri?

Saya tidak sepenuhnya menolak pemikiran ini, mereka pun punya tanggung jawab, dan harusnya lebih besar jika melihat pada skala kerusakan yang mereka ciptakan. Dapatkah dunia usaha juga berjalan selaras dengan lingkungan? Secara teori bisa, konsep sustainable business, GCG, triple bottom line, menjadi semakin populer. (Btw, I'm currently writing a thesis about this topic, should you share same interest, hit me up!) 

Sebagai konsumen kita memegang peran besar, daya beli kita punya nilai tawar untuk menekan mereka pelaku usaha. Semakin teredukasi dan mengerti konsumen, semakin kuat tuntutan untuk kegiatan usaha yang beretika, semakin perusahaan tertekan untuk menjalankan usahanya secara etis. Ini sudah masuk ranah hal-hal yang kita bisa lakukan secara kolektif. Kembali lagi, let's just start small, from ourself.

Kata Jane Goodall, “Only if we understand, can we care. Only if we care, we will help. Only if we help, we shall be saved.” Semoga semakin banyak orang yang mengerti, karena dengan mengerti kita akan menjadi peduli dan bertindak lebih jauh lagi. Seperti tulisan ini yang saya bagikan meskipun saya sendiri bingung bagaimana alur berpikirnya. Namun saya hanya bisa berharap yang membaca ini menjadi lebih mengerti dan peduli. 

Harapan

Tidak semua yang terjadi ini buruk, harapan itu ada dan nyata. Karena manusia menepi, tingkat polusi menurun drastis dan Bumi kita beristirahat sejenak. Bapak keluarga Khong Guan akhirnya pulang dan berkumpul bersama keluarga. Pandemi ini membuat kita bersatu dan berjuang untuk umat manusia. Saat wabah ini berakhir, apa kita masih tetap bisa bersatu? Bukan lagi melawan Virus Corona, tapi virus egosentris kita sebagai manusia.

Kita bersyukur masih bisa tinggal #dirumahaja, mengingat masih banyak orang yang tidak bisa bekerja dari rumah, bahkan tidak punya rumah. Buat kita yang punya kesempatan itu, ayo menahan diri sebentar. Kita lakukan apa yang kita bisa. Apresiasi tertinggi untuk mereka yang berjuang di garis terdepan pandemi ini. Dokter, perawat, peneliti, mereka yang bertaruh besar untuk keselamatan kita.

Semoga tidak lama lagi, tapi sementara waktu kita mengasingkan diri, mari kita bertanya pada diri kita, "Apa peranku, apa peranmu, apa peran kita di dunia?"

Lekas pulih Bumi,
Lekas pulih umat manusia,
Semoga peran kita bukan sebagai "virus" untuk dunia.

---

Teruntuk Bapak dan Ibu guru Sekolah Minggu dulu, terima kasih. Anda semua adalah penabur bibit yang bersemai dalam diri kami saat ini. Terima kasih

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER