Sebuah Renungan Singkat Tentang Signifikansi Tema Kemah Suci Dalam Kitab Kejadian Menurut Injil Yohanes Pasal 1

Going Deeper, God's Words, 26 April 2024
“In the beginning God created His temple”

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menarik bagaimana Yohanes menggunakan kitab yang ditulis Musa dalam Injilnya. Seorang Teolog bernama Greg Beale mengajukan sebuah tesis bahwa Kejadian 1-3 menjabarkan tema-tema dasar untuk seluruh Perjanjian Lama (bahkan dikembangkan dalam Perjanjian Baru), yang pada dasarnya adalah tema bersifat eskatologis [1]. Oleh karena itu, maka sangat penting untuk memahami pesan Kejadian 1-3 untuk mendapat kekayaan dalam kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Selain itu, kitab Musa merupakan kitab yang menjadi dasar bagi penulis kitab lainnya. Oleh karena itu, mari sekarang kita lihat kitab Yohanes.


Image on Bible Society

Ada 2 pengamatan yang menarik perhatian penulis waktu membaca Yohanes 1.

  1. Pertama, Yohanes memulai Injilnya dengan membawa pembacanya mengingat kembali tentang Kejadian 1 (Yoh 1:1 “Pada mulanya”, Yoh 1:4 “hidup”, Yoh 1:5 “terang”, “gelap”) dan menutup kanon Alkitab dalam kitab Wahyu dengan membawa pembacanya melihat langit dan bumi yang baru (Wahyu 22:1). Apa yang Yohanes ingin sampaikan kepada pembacanya dengan mengingatkan tentang kisah penciptaan?
  2. Sesudah membawa pembacanya mengingat kembali kisah penciptaan dalam Kejadian 1, Yohanes membawa pembacanya mengingat kembali kisah Keluaran. (Yoh 1:14 “diam” (dimana dalam Bahasa Yunaninya dapat berarti berkemah), Yoh 1:17 “kasih karunia dan kebenaran”). Kitab Keluaran memang merupakan kitab sesudah Kejadian, tetapi mengapa Yohanes merujuk kepada kedua kisah tersebut?apa hubungan kisah Keluaran terhadap kisah penciptaan?


Dua hal tersebut menunjukan kekayaan teologis Yohanes ketika dia menulis kitab tersebut yang akan kita mengerti ketika kita memahami makna Kejadian 1-3 secara memadai.


Image of G.K. Beale on RTSDalam paragraph pertama di atas disebutkan bahwa Greg Beale meyakini bahwa tema dalam Kejadian 1-3 bersifat eskatologis. Apa maksud dari eskatologis tersebut? Maksud eskatologis tersebut ialah Tuhan menciptakan segala sesuatu dalam Kejadian 1-2 dengan suatu tujuan. Tujuan yang seharusnya dicapai oleh Adam dan Hawa jika mereka taat dalam masa ujian. Tujuan tersebut bersifat meningkatkan situasi sebelum kejatuhan dan berkat-berkat sebelum kejatuhan akan menjadi permanen dan tidak dapat dihancurkan. Namun Kejadian 3 mencatat bahwa telah gagal mencapai tujuan tersebut. Tetapi rencana Tuhan tidak pernah gagal. Sepanjang Perjanjian Lama, Tuhan secara progresif memanggil orang-orang tertentu dan bangsa Israel untuk membangun kerajaan ciptaan-Nya yang baru dari kekacauan yang menimpa umat manusia yang berdosa untuk mencapai tujuan awal bagi ciptaan-Nya dalam Kejadian 1-2. Tetapi Perjanjian Lama mencatat bahwa orang-orang tersebut maupun bangsa Israel kembali gagal dalam mencapai tujuan tersebut seperti Adam, meskipun pada awal-awalnya kelihatan berhasil, dan sebagai akibatnya, pembuangan terjadi kepada Kerajaan Utara maupun Selatan Israel seperti pengusiran Adam dan Hawa dari Eden. Dan walaupun mereka kembali ke tanah Israel setelah pembuangan, mereka masih mengalami penjajahan oleh bangsa Romawi, dan yang lebih parah penjajahan oleh dosa. Israel setelah kembali dari pembuangan ternyata masih dalam status pembuangan di tanah Israel sendiri! Lalu siapa yang akan mencapai tujuan tersebut?

Menurut Yohanes 1, Yesus adalah Pencipta dalam Kejadian 1 yang sekarang telah datang ke dalam dunia ciptaan-Nya. Kenapa Dia datang ke dalam ciptaan-Nya? Di satu sisi, secara akal sehat dapat disimpulkan bahwa Yesus membawa kerajaan ciptaan baru. Dan bukan hanya membawa kerajaan ciptaan baru, bahkan menurut Wahyu 22  Dia membawanya kepada tujuan yang direncanakan awal sampai kepada kesempurnaannya dan tidak dapat gagal kembali, seperti yang diimpikan dalam orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama.

Disini kita melihat bahwa begitu pentingnya eskatologis yang dibawa Yesus dalam kedatangan-Nya yang pertama. Karena jika kedatangan Yesus hanya membawa kerajaan ciptaan baru kembali ke tujuan yang awal tanpa bersifat eskatologis, maka kerajaan tersebut dapat gagal kembali dan berujung ke dalam pembuangan kembali seperti Kerajaan Israel dalam Perjanjian Lama. Namun itu tidak terjadi! Karena Yesus telah mengalami pembuangan yang final di kayu salib untuk kerajaan-Nya, yaitu gereja-Nya. Dan Yesus telah kembali dan menang dari pembuangan dan duduk di sebelah kanan Bapa melalui kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga. Dan pada kedatangan-Nya yang kedua, Dia akan membawa kerajaan-Nya kepada kesempurnaannya (consummated).


Painting by Michelangelo on Wikipedia

Lalu apa tujuan awal dalam kisah penciptaan Kejadian 1? Secara singkat, tujuan tersebut ialah ciptaan-Nya penuh dengan kemuliaan-Nya melalui kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat-Nya yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya setelah masa pencobaan. Inilah yang merupakan rantai penghubung yang menghubungkan tema Kemah Suci di padang gurun setelah keluar dari Mesir dengan kisah penciptaan dalam Kejadian 1. Hubungan ini makin kuat kalau kita menyadari bahwa kejadian pembebasan bangsa Israel dari Mesir merupakan kisah penciptaan “baru”, yang mungkin penulis jelaskan dalam lain kesempatan. Inilah juga yang menurut penulis alasan Yohanes mengaitkan kitab Kejadian dan kitab Keluaran dalam Injilnya pada pasal 1.

Terlebih lagi, menurut Injil Yohanes, hadirnya Tuhan di tengah ciptaan-Nya dimulai digenapi dalam diri Yesus Kristus yang merupakan sepenuh Allah dan sepenuhnya manusia. Inilah yang misteri yang dinyatakan dalam Injil Yohanes, bahwa Kemah Suci, yang nantinya akan menjadi Bait Suci, digenapi oleh Seseorang yang merupakan bukan tempat, bukan bangunan. Inilah juga yang susah dipahami oleh orang-orang Yahudi pada zaman Yesus (Yoh 2:19-21). Dan pada Wahyu 21, tujuan yang telah dimulai digenapi oleh Yesus akan disempurnakan dengan turunnya sorga ke bumi yang baru dan Tuhan akan “diam” di tengah-tengah umat-Nya untuk selama-lamanya. (Wahyu 21:1-4)

Sebagai kesimpulan dari artikel yang singkat ini, kalau kita tidak mengerti bahwa alam semesta dan taman Eden sebagai Kemah Suci (atau Bait Suci), kita akan sedikit sukar melihat alasan mengapa Yohanes membawa kita kembali mengingat kitab Kejadian dan kitab Keluaran dalam Yohanes pasal 1. Dan kita akan sedikit sukar melihat alasan Tuhan ingin berdiam di tengah umat-Nya.


[1] G. K. Beale, A New Testament Biblical Theology: The Unfolding of the Old Testament in the New (Grand Rapids: Baker, 2001), 29.  

LATEST POST

 

Ketika aku hidup sentosa aku pernah berkata,"Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!"TUHAN,...
by Samuel Semeion | 10 Jun 2024

Jakarta, 4 Mei 2024 – Generasi muda Indonesia, yang mencapai lebih dari separuh populasi, meru...
by Admin | 29 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER