Tiga Nasihat JANGAN dari Raja Salomo

Going Deeper, God's Words, 09 June 2020
Melepaskan segala kesombongan diri dan memandang kepada rencana Tuhan yang jauh lebih besar dari apa yang bisa kita pikirkan.

Aku meninggalkan kenyamanan 10 tahun bekerja di lembaga pendidikan yang cukup besar di Indonesia. Ada karir yang terbuka serta reward yang cukup komprehensif dan memuaskan bagiku yang sudah berkeluarga. Namun, aku harus meninggalkan Malang karena pandemi Corona ini hingga waktu yang belum tahu kapan.

Seorang raja yang penuh hikmat pernah memberikan nasihat-nasihat berkaitan meninggalkan sesuatu. Selain itu, dia juga memberikan nasihat lainnya di Amsal 3:1-5. Nasihat yang dia berikan, kurangkum dalam judul "Tiga Nasihat JANGAN".

1. JANGAN MELUPAKAN AJARAN DAN MEMELIHARA PERINTAH.

“Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku,” Amsal 3:1

Aku tidak banyak ingat masa kecilku. Aku sudah banyak lupa teman-teman SD hingga SMAku. Yang kuingat hanya yang masih sering berinteraksi hingga kuliah. Sebenarnya teman kuliahku pun banyak yang kulupa. Lupa teman-teman lama mungkin masih wajar dan ditoleransi. Contoh lain, mungkin lupa dengan segala prestasi yang pernah dilakukan oleh seseorang juga wajar. Namun, sang raja menasehati agar jangan melupakan ajaran yang diberikan. 

Ajaran yang paling utama adalah ajaran Tuhan melalui Firman-Nya di dalam Alkitab. Bisa juga ajaran-ajaran Tuhan lewat orang lain seperti lewat raja itu dulu kepada bangsa Israel. Jika ditarik ke konteks zaman ini, banyak media ajaran Tuhan, baik melalui tulisan-tulisan, podcast-podcast, atau postingan di media sosial lainnya. Alangkah sedihnya dengan begitu banyak media tersebut, tidak ada yang diingat oleh kita.

Selain itu, dikatakan "...biarlah hatimu memelihara perintahku". Bukan hanya diingat, tetapi di dalam hati dipelihara. Hati adalah pusat kontrol pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Jika perintah Tuhan tidak dipelihara dalam hati, maka percuma saja diingat. Mengapa? Karena ajaran-ajaran itu tidak akan menancap di pikiran, tidak pernah disampaikan lewat kata-kata, apalagi dilakukan dalam perbuatan nyata sehari-hari. Otomatis, akhirnya lupa juga. 

Padahal, di ayat kedua dituliskan mengenai apa saja yang bisa didapat jika tidak melupakan ajaran dan tetap memelihara perintah,

Amsal 3:2, "karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu." 

Panjang umur dan lanjut usia bisa relatif karena itu kehendak Tuhan. Intinya adalah bahwa Tuhan menyertai hingga umur berapapun Dia ijinkan hidup di dunia. Dan yang paling penting adalah ada SEJAHTERA, yang dalam bahasa aslinya shalom atau damai. Ada damai yang terus hadir menemani sepanjang hidup bagi kita yang terus memelihara ajaran dan perintahNya.


2. JANGAN MENINGGALKAN KASIH DAN SETIA.

“Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,” Amsal 3:3

Pekerjaan, teman, bahkan ekstrimnya keluarga juga bisa ditinggalkan, jika memang itu kehendak Tuhan. Namun, di ayat 3a ini, ada dua hal yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu kasih dan setia. Bahkan, perintahnya ada di bagian 3b, yaitu “Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu”. Dua hal tersebut perlu “dibawa” kemanapun dan kapanpun kita pergi. Tidak boleh “dipakai” di rumah saja atau di gereja saja. Artinya, kasih dan setia bukan hanya seperti topeng yang bisa dipakai ketika bertemu dengan orang-orang tertentu dan ditinggalkan ketika ingin ditinggalkan, melainkan perlu ada upaya dan kedisiplinan untuk terus melekat, sebagai pemaknaan dan ungkapan syukur bahwa kita juga sudah begitu dikasihi Tuhan.

Jika kita berhasil untuk tidak meninggalkan kasih dan setia, maka di ayat ke empat dikatakan bahwa bukan hanya mendapat kasih dan penghargaan dari manusia, tetapi juga penghargaan dalam pandangan Allah, Sang Pemilik hidup kita. Suatu penghargaan yang tidak ternilai dari sudut pandang manusia.

Amsal 3:4 "...maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia."

3. JANGAN BERSANDAR PADA PENGERTIAN SENDIRI.

"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." Amsal 3:5

Ayat 5 dengan jelas berisi nasihat untuk percaya bukan kepada manusia atau kekayaan, tetapi kepada Tuhan saja dengan segenap hati, bukan setengah hati. Dengan PERCAYA segenap hati, berarti kita tidak lagi bersandar pada pengertian sendiri. Tidak bersandar pada pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki diri. Melepaskan segala kesombongan diri dan memandang kepada rencana Tuhan yang jauh lebih besar dari apa yang bisa kita pikirkan.


Kiranya dalam situasi pandemi ini, sekalipun banyak hal yang perlu ditinggalkan (entah pekerjaan, kenyamanan, kesenangan, kebiasaan, dan sebagainya), termasuk ketika menjalani kehidupan new normal saat ini, dengan segala adaptasi yang perlu dilakukan, kita terus berpegang pada nasihat "JANGAN" dari Raja Salomo ini:

JANGAN melupakan ajaran dan biarlah hati memelihara perintah-perintah Tuhan

JANGAN meninggalkan kasih dan setia

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hati dan JANGAN bersandar pada pengertian sendiri

LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER