Netflix's Indian Matchmaking dan Rumitnya Mencari Jodoh Sesuai Kriteria

Best Regards, Live Through This, 25 August 2020
“If I had asked people what they wanted, they would have said faster horses.” Henry Ford

Perkenalan pribadi saya dengan konsep “perjodohan” barangkali diawali di masa remaja, ketika menyaksikan kakak perempuan saya “dikenalkan” dengan anak dari teman gereja orang tua. Akhir pekan yang cerah, kami berkendara ke sebuah acara “kumpul-kumpul” di mana perkenalan itu akan terjadi seakan-akan “effortlessly”. Saya? Excited saja, siapa tahu calon kakak ipar saya super swag. Kakak? Uring-uringan dan jengkel. Tapi tidak menolak. 

Kami tiba di lokasi, dan di pintu saya melihat sesosok bapak-bapak kurus. Spontan saya menyapa, “Siang, Om…” Dugaan saya, ini bapaknya pria yang mau dikenalkan ke kakak saya.

Ternyata… itu dia sendiri.

Long story short, om pria itu sudah hidup berbahagia menikahi perempuan muda lain dan kakak saya juga sudah hidup berbahagia mengejar gelar PhD di Skotlandia.

***

Entah karena “teladan” dari kakak perempuan saya yang tidak menolak ketika orang tua mau mengenalkan, atau memang saya yang terlalu “gampangan” -- saya nggak pernah menolak ketika orang tua mau mengenalkan dengan kandidat jodoh potensial.  Toh, dari pengalaman hidup, saya punya bakat yang merugikan dalam kontes perjodohan - biasanya, yang “jatuh cinta” pada saya itu mamanya, bukan anaknya.

Nah, ngobrolin soal perjodohan, siapa di sini yang sudah menyelesaikan serial dokumenter Indian Matchmaking di Netflix? Cukup entertaining melihat sepak-terjang pencarian jodoh di keluarga-keluarga India ini, bagaimana seorang ibu kebelet banget anak lelakinya menikah; semua pencapaian anak itu yang sukses kuliah di UK dan kini mengelola bisnis keluarga, seakan tak berarti hanya karena si anak ini 'perjaka tua'. Padahal umurnya dia baru 27 tahun, sodara-sodara...


 


Menarik pula menyimak bagaimana di akhir season, klien yang paling kelihatan nggak siap nikahlah yang menikah. Persis seperti di dunia nyata, di mana kita menjumpai teman yang menceburkan diri ke dalam pernikahan semudah nyemplung kolam renang, dan mereka yang harus berputar-putar dahulu seperti Bangsa Israel di padang pasir.

Oh iya, untuk yang belum tahu,  “Indian Matchmaking”  mengikuti perjalanan seorang mak comblang profesional, Sima Taparia, dalam mencarikan jodoh bagi para kliennya. Budaya India sendiri dikenal memang umum menjalankan praktik perjodohan, bahkan hingga kini. Kata “menikah” dalam konteks India sendiri artinya "arranged marriage" - sedangkan kalau ada yang menikah dengan pilihan sendiri, itu baru disebut dengan istilah khusus “love marriage”



Memakai jasa mak comblang masih umum digunakan, tampak dari larisnya jasa Sima Taparia, bahkan ia harus terbang ke Amerika Serikat untuk menemui sejumlah keluarga India perantauan di sana yang mencari jodoh orang India juga. Mekanismenya begini: Sima datang menemui klien, melakukan wawancara mengenai kriteria jodoh yang diinginkan. 




Setelah itu, Sima dan suaminya akan melakukan penyisiran database yang mereka miliki, lalu membawakan CV orang tersebut kepada klien; kadang klien diberi hanya 1 pilihan (setelah coba bertemu dan tidak cocok, baru diberi CV baru) kadang klien langsung dibawakan beberapa CV. Entah wisdom apa yang mendasarinya. 



Sima juga memakai jasa “vendor” lain dalam menjalankan praktiknya, kadang ia bekerja sama dengan mak comblang lain yang “menguasai” data di daerah tertentu, kadang ia mengkonsultasikan kecocokan kliennya lewat jasa astrolog, pembaca wajah, maupun konsultan spiritual lainnya. 

Lalu, apa yang kemudian membuat acara ini jadi ramai diperbincangkan dan dijuluki “cringe-binge” oleh umat Netflix sejagad raya? Salah satu faktor, tentu karena acara ini ditonton orang-orang di luar kultur India. Faktor lainnya,  karena Sima Taparia berulang kali memesankan para kliennya agar “fleksibel” - sebuah istilah yang kemudian dimaknai netizen sebagai ofensif karena kok cewek harus “tunduk” agar bisa dapat jodoh (meskipun klien Sima bisa dibilang cukup imbang antara kedua jenis kelamin).



Saya sendiri cukup menikmati acara tersebut sebagai “tontonan tanpa mikir” dan nggak merasa pesan Sima Taparia bahwa seseorang harus fleksibel itu berarti harus submisif. Kenyataannya, dari relasi demi relasi yang pernah hadir di hidup ini, pada akhirnya saya harus amini bahwa fleksibilitas memang salah satu faktor yang membuat hubungan bisa bertahan (tentunya, yang harus fleksibel beradaptasi adalah kedua pihak, kalau hanya salah satu yang adaptasi terus, itu mah bukan pacaran tapi CSR).

Contoh, saya tipe “bridge burner” dalam artian, semua mantan statusnya mati perdata di perspektif saya. Bahkan dalam sesi putus yang terakhir dengan mantan, ketika dia belum selesai mendeklamasikan kata-kata perpisahannya, saya menyimak sambil mengganti nama kontaknya di ponsel, menghapus status “in relationship” dan membuang semua foto yang ada wajahnya (jangan ragukan kemampuan saya multitasking ketika di situasi terhimpit!). Untung saya nggak kerja di Disdukcapil, bisa-bisa kebablasan data kependudukan mantan-mantan tak sengaja ikut terhapus.  


Maka, ketika akhirnya saya menjalin relasi dengan seorang pria yang tipenya masih bisa berteman dengan mantan, sungguh itu konsep yang sangat membagongkan buat saya, dan masih dalam proses untuk saya terima. Butuh usaha keras dan perbincangan panjang-lebar dengan diri sendiri untuk bisa menerima bahwa mungkin ada orang lain yang memandang mantan adalah manusia yang hidup dan punya fungsi sosial.


****


Bicara soal perjodohan, Alkitab mencatat satu perjodohan yang sangat uwu, yaitu perjodohan Ishak & Ribka. Sang ayah menggumulkan dengan sungguh-sungguh, dan kedua anak bertemu…


Menjelang senja Ishak sedang keluar untuk berjalan-jalan  di padang. Ia melayangkan pandangnya, maka dilihatnyalah ada unta-unta datang. Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya. Katanya kepada hamba itu: "Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita?" Jawab hamba itu: "Dialah tuanku itu." Lalu Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia. Kemudian hamba itu menceritakan kepada Ishak segala yang dilakukannya. Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal.
-Kejadian 24:63-67


Kayaknya, jarang banget deh ada pasangan di Alkitab yang diceritakan jatuh cinta sedetail ini. Penulis Ita Siregar menerjemahkan peristiwa ini dengan sangat indah dalam buku antologi puisi terbarunya, Ia Dinamai Perempuan; dengan izin sang penulis, saya bagikan salah satu puisinya, Ribka:


 




Dari bacaan ini saya belajar, ketika orang tua membantu mencarikan jodoh untuk kita, apalagi jika mereka mengandalkan hikmat dari Tuhan, hal itu nggak selalu buruk. Orang tua kita hidup dengan naluri “survival”, dan mereka biasa mengambil keputusan apapun yang dianggap “aman” untuk survival keluarganya. Maka ketika seorang kawan curhat bahwa ia sedang akan dijodohkan oleh orang tuanya, saya hanya menyarankan: Temui saja dulu, siapa tahu kalian ada kesamaan.

“Idih, kesamaan apa?”

“Sama-sama nggak mau dijodohin.”



Intinya, menolak tawaran perjodohan dari ortu di mata saya lebih banyak mudaratnya. Karena orang tua pada dasarnya akan merasa terluka kalau idenya ditolak mentah-mentah oleh anaknya (sekalipun idenya kadang jelek dan norak hehehe). Kalau kita setuju menemui kandidat yang disodorkan orang tua, mungkin mereka akan belajar juga untuk menghargai kandidat yang kelak kamu pilih sendiri, karena kita sudah lebih dulu menghargai ide mereka. Dan kita nggak akan dicap “menutup diri” karena kamu kelihatan “berusaha”.  Contoh, dalam case kakak perempuan saya, karena ia sudah pernah menghargai ide orang tua untuk 'dikenalkan' dengan seseorang, saya melihat orang tua pun jadi bisa belajar ikhlas menerima pilihan hidupnya untuk 'menikah' dengan passionnya, yaitu dunia pendidikan.  

Saya selalu berpikir, kalau mau dikenalkan sama cowok, ya nggak apa-apa selama statusnya memang sama-sama single dan tidak ada paksaan untuk harus 'jadi'. "Tapi kalau nggak ternyata nggak cocok bagaimana? "You know that some men are just a waste of time and makeup!" Teman lain yang kontra pada saya berujar greget. "Siapa tahu di masa depan kalian masih bisa bisnis bareng atau kolab bikin konten. Menambah networking nggak pernah ada ruginya, bukan?" 

Henry Ford pernah berkata, “If I had asked people what they wanted, they would have said faster horses.” Masyarakat mengira, mereka butuh kuda yang lebih cepat, tapi Henry Ford tahu, yang dibutuhkan masyarakat adalah “mobil”. Kadang kita nggak tahu apa yang benar-benar kita butuhkan - bisa jadi orang terdekat kitalah yang paham. Kita mengira, kita butuh pasangan tipe A, tapi ternyata orang tua atau sabahat kita bisa melihat bahwa yang kita butuhkan adalah partner tipe B. Misalnya.


Kembali soal fleksibilitas, saya rasa jika kita mendefinisikan diri sebagai orang yang 'fleksibel' dalam artian kita bisa mencoba menemukan 'calon jodoh seazas' di kepanitiaan acara GKI tapi bisa juga main di berbagai aplikasi dating (cekidot tulisan #CariYangKristen dengan Online Dating Apps)... kurasa kita boleh juga merentangkan fleksibilitas kita pada kandidat dari sahabat dan keluarga? Happy hunting! :)



LATEST POST

 

Sebuah Pertemuan23 Januari 2019, GKI Gunung Sahari. Sekitar 1 tahun yang lalu, aku mengenal mereka,...
by Jonathan Joel Krisnawan | 22 Sep 2020

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang...
by Regina Megumi Tandiari | 22 Sep 2020

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seoran...
by Noni Elina | 22 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER