Pendapat Menyinggung = Toxic?

Best Regards, Live Through This, 29 February 2020
Toxic atau tidaknya suatu hubungan terkadang bukan tergantung pada orang lain, namun pada diri kita sendiri

Pernah nggak sih, temen-temen berada dalam suatu komunitas atau organisasi, lalu merasa nggak betah di situ? Atau pernahkah kita lelah beradu pendapat karena hal-hal kecil? Atau pernahkah kita mengalami suatu kepahitan dalam suatu organisasi? Berbagai perbedaan pendapat, senioritas, tentu bukanlah hal yang dapat kita hindari dalam suatu organisasi. Saya pun menghadapinya. Di gereja pula.

Sudah merupakan kesadaran umum di antara para pelayan gereja bahwa gereja bukanlah perkumpulan malaikat, melainkan perkumpulan manusia, yang tak lepas dari dosa. Ini bukanlah hal yang dapat kita pungkiri. Saya pribadi merupakan orang yang lebih memilih untuk berorganisasi di gereja dan bukannya di luar gereja. Tidak bermaksud "anti" dengan organisasi di luar gereja, ini hanyalah preferensi pribadi saya sejak saya menemukan diri saya dan Tuhan melalui pelayanan gerejawi.

Saya pun mencoba aktif di beberapa komisi. Masing-masing komisi memiliki permasalahannya sendiri, namun kali ini saya akan mengulas sedikit pengalaman saya dalam salah satu komisi tersebut, sebut saja komisi X. Setiap orang memiliki latar belakang dan kepribadian yang berbeda-beda. Dalam komisi X ini, hal yang paling sering membuat perdebatan menurut saya pribadi adalah adanya gap usia yang sangat besar. Bagaimana tidak, anggota termuda saat ini berusia 19 tahun dan yang tertua sekitar 80 tahun. Wow, mantap bukan?

Gap usia ini memang kadang terlihat sepele, namun ternyata pada praktiknya, gap usia menghasilkan adanya gap pendapat dan sudut pandang. Seakan-akan ada golongan tua dan golongan muda seperti masa-masa pra-kemerdekaan Indonesia, yang mana masing-masing memiliki pemikiran sendiri. Cara penyampaiannya pun berbeda-beda, ada yang halus, ada pula yang menusuk. Banyak hal yang saya pelajari ketika saya berada dalam lingkaran organisasi ini.


Pernahkah saya merasa tersakiti? Tentu. 

Pernahkah saya merasa lelah dan ingin berhenti? Absolutely

Tapi, apakah saya keluar dari organisasi tersebut karenanya? Nope. ๐Ÿ˜Š

Sekarang mari bersama kita coba pikirkan. Apakah organisasi seperti komisi X ini bisa kita sebut toxic?


Jika saja komisi X yang saya ceritakan tadi kita sebut toxic, kawanku, percayalah, dalam dunia penuh cemar ini hampir tidak akan mungkin bagi kita untuk menemukan organisasi yang tidak toxic. Semua akan terlihat toxic di mata kita, dan apa yang terjadi kemudian? Yes, kita bisa saja memilih untuk menjauh, pindah, bahkan tidak berorganisasi sama sekali. Menurut saya pribadi, soal toxic tidak toxic, semua kembali ke definisi toxic itu sendiri. 

Toxic jika diterjemahkan langsung dari bahasa Inggris berarti "racun". Dalam hal hubungan, toxic biasanya dikaitkan ke hubungan yang menyakiti atau merugikan satu atau lebih pihak. Dalam organisasi gereja, saya meyakini bahwa setiap orang yang terlibat memiliki maksud dan tujuan yang baik. Dengan keyakinan ini, saya dapat mengatakan bahwa pada dasarnya organisasi seperti komisi X dan organisasi gereja pada umumnya bukanlah organisasi yang toxic. Namun ketika kita berada di dalam prosesnya, kita bisa jadi berpikir bahwa organisasi tersebut toxic. Loh, kok begitu?

Tak dapat kita pungkiri orang paling baik di dunia pun merupakan manusia berdosa juga. Yang terjadi di sini adalah, di organisasi non-toxic sekalipun, dalam adu pendapat, maksud baik dalam setiap pendapat dapat diterima secara berbeda. Oleh karena itu, suatu organisasi bisa menjadi toxic atau tidak dalam pandangan kita menjadi bergantung pada bagaimana kita menyikapi setiap hal yang terjadi. Perlu kita sadari bersama bahwa tersinggung itu adalah suatu hal yang wajar dan sangat manusiawi. Semua orang dapat merasa tersinggung, namun terkadang yang membedakan seorang dengan yang lain adalah bagaimana reaksi mereka saat tersinggung.

Anggaplah suatu kasus, di mana ada perdebatan pendapat dalam suatu organisasi yang secara tidak sengaja bersifat agak sensitif sehingga berkemungkinan menyinggung perasaan beberapa anggota kelompok, sebutlah A, B, dan C. 

A merasa tersinggung, sehingga ia kemudian menganggap organisasi tersebut toxic. B tidak merasa tersinggung, ia merasa pendapat tersebut merupakan cara Tuhan bagi dirinya agar bertumbuh menjadi lebih baik. C merasa tersinggung, namun ia memilih untuk mengabaikan pendapat tersebut selama tujuannya dalam organisasi tercapai.

Yang manakah kita? Saya kadang-kadang menjadi si B dan kadang-kadang juga menjadi si C, terutama kalau lagi terlalu peka hehehe. Di sinilah saya mencoba untuk terus belajar. Saya mencoba belajar untuk menerima setiap individu dalam organisasi sebagai individu yang utuh, yang memiliki sifat baik dan buruk. Ingat, tidak hanya menerima baiknya saja, namun juga yang buruk. 

Saya mencoba belajar untuk mengasihi setiap individu sebagai manusia terlepas dari sifat baik dan buruk mereka, belajar pula untuk berani. Berani meminta maaf bila salah, dan berani memaafkan ketika disakiti. Bahkan mungkin saya perlu merendahkan hati untuk mau menurunkan ego jika memang itu diperlukan untuk menjaga relasi dalam suatu organisasi sesama pelayan. Hal-hal tersebut memanglah tidak mudah. Tapi saya percaya, Tuhan pasti menguatkan.

Inilah yang membuat saya tetap memilih untuk bertahan. Selain karena Tuhan telah mempercayakan pekerjaan baik dalam komisi X ini pada saya, juga karena saya percaya bahwa Tuhan punya rencana yang indah bagi saya dalam komisi X ini.

So, kalau temen-temen mau jadi yang mana? A atau B atau C atau mungkin yang lain? 

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER