MERESPONS MESIAS MESIAS

Going Deeper, God's Words, 07 May 2019
‘Mesias’ merupakan gelar yang diberikan bagi sosok yang datang sebagai wakil Allah dengan tujuan membawa keselamatan

Penunggang Badai tentu tak asing dengan wajah yang tertera pada headline di atas, ada Gerald Situmorang, Iga Massardi, Asteriska Widiantini dan Puti Chitara, yang tergabung dalam grup band Barasuara. Ada dua anggota yang belum masuk jepretan kamera gue, TJ Kusuma dan Marco Steffiano. Tentu gue ga akan banyak membanggakan Penunggang Badai, panggilan bagi penggemar setia Barasuara, untuk membahas banyak hal dari grup band ini. Lu bisa googling sendiri tentunya, hehehe. Gue akan bahas sedikit satu karya mereka di album Pikiran dan Perjalanan, yaitu ‘Masa Mesias Mesias’, dan akan lebih menyenangkan jika artikel ini bisa jadi forum terbuka buat lu semua.

Dengerin dulu deh ya lagunya via Youtube dan simak liriknya di bawah ini. Kalau lu suka, ingat buat like, subcribe dan share. Ga boleh pelit jempolnya.




Masa, mesias mesias

Masa, mesias mesias

Guna-guna, adu domba

Devide et impera

Guna-guna, adu domba

Devide et impera

Mantra, marah di angkasa

Suci, sembunyi-sembunyi

Dalam pikiran, dalam pikiran, dalam pikiranmu

Merajut, melaju, melagukan geram

Dalam pikiran, dalam pikiran, dalam pikiranmu

Merajut, melaju, melagukan geram


Karya yang dimainkan dalam aliran Soneta eque – dangdut ala Bang Haji Rhoma Irama (Bener ga, ya? Gue ga ahli dalam mengkategorikan jenis musik) diisi dengan lirik yang sarat makna. ‘Masa, mesias mesias’, frase yang menjadi judul dan dua baris lirik pertama menjadi landasan kita berpikir akan kehadiran mesias palsu. Secara fakta, di Indonesia terdapat tokoh yang mengaku sebagai mesias yang menubuatkan hari penghakiman, yaitu Lia Eden. Masih banyak lagi tokoh-tokoh yang mengakui dirinya sebagai mesias dan lu bisa cek lewat berbagai sumber termasuk yang gue kasih di bawah ini.

Namun, jika menilik kembali makna dari kata ‘mesias’ dari sisi sejarah, kita bakal menemukan bahwa ‘mesias’ merupakan gelar yang diberikan bagi sosok yang datang sebagai wakil Allah dengan tujuan membawa keselamatan. Dalam perspektif bangsa Yahudi, keselamatan yang dibawa oleh sang mesias bagi bangsa Yahudi difokuskan pada unsur politik: bebas dari jajahan bangsa Roma serta bisa kembali berjaya layaknya pemerintahan Raja Daud.

Menggunakan konsep ‘mesias’ politik ala Yahudi, nampaknya, ‘masa mesias-mesias’ yang menjadi kritik oleh Barasuara bukan ditujukan pada Paduka Bunda Lia (pengikutnya Lia Eden panggil dia begitu, Sob). Melihat karya ini diciptakan tahun 2017, dengan konteks pertempuran pilkada yang seru di beberapa kota besar, dan juga memasuki pemilu tahun 2019, sangat mungkin para politikus (fyi, gue membedakan politikus dan negawaran; politikus cenderung mengalami pergeseran makna menjadi negatif) justru menjadi sasaran dari karya ini.

Walaupun para politisi ga ngomong secara literal, “Gue tuh Mesias” – kayak yang diomongin babe Yesus di Matius 24:5 tentang mesias palsu, tetapi sebagian banyak dari mereka menyatakan dirinya sebagai negarawan yang paling baik dan benar. “Gue 'tuh calon wakil rakyat yang paling bener, beda dengan calon wakil rakyat yang lain.” Atau ada juga tim sukses untuk pemilihan presiden dan wakil presiden yang menyatakan, “Bersama kami, Indonesia akan lebih maju dan makmur, sedangkan mereka hanya bisa berjanji saja.” Yap, mereka menjanjikan kondisi bangsa yang lebih baik, layaknya mesias politik ala Indonesia.

Masih mending kalau diri mereka merasa diri paling benar. Nah, kondisi Pemilihan Umum 2019 ini justru lebih diperparah dengan adanya saling adu domba dari tim sukses kedua kubu, bahkan yang membawa-bawa SARA. Satu berteriak, “Dasar antek aseng, PKI!” Kubu lain berteriak, “Woy, Onta, Khalifah!” Lalu pihak awal membalas, “Junjungan lu, tuh, jalanin ibadah ritual aja kagak bener!” “Eh, itu artis atau apaan, ibadah aja sampai harus diliput?” balas satunya. Mereka pun, yang dikenal sebagai cebong dan kampret, terus menerus menjadi korban adu domba. Entah apakah setelah pemilu berakhir, adu domba masih berlanjut hingga mereka lupa kesamaan identitas sebagai warga Indonesia .


Kondisi adu domba ini mengingatkan gue sama pelajaran yang diomongin guru sejarah waktu SMA. Kata beliau, zaman para pedagang bangsa Eropa (Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Prancis) masuk ke Indonesia dan tertarik untuk menguasai Indonesia dengan segala kekayaan alamnya, mereka sadar nih kalau kekuatan mereka kalah dengan kekuatan kerajaan-kerajaan yang sudah tumbuh kuat di tanah Indonesia. Tapi mereka cukup cerdik; dengan menghasut satu raja untuk melawan raja lain, kerajaan-kerajaan tersebut saling bertengkar hingga habis kekuatan. Saat itulah dengan kekuatan yang ada, bangsa Eropa mengalahkan sisa pasukan dan membunuh para raja. Taktik inilah yang disebut devide et impera, yang dulu dipakai untuk berperang dan kini dibawa pada ranah politik.


Mungkin sebagian dari kita bukan bagian dari kelompok fanatik cebong atau kampret dan mendeklarasikan diri sebagai warga yang masih waras. Setidaknya kita merasa sudah mewujudkan nasihat Paulus dalam 1 Tesalonika 5:21-22, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” Kita sudah berusaha tidak termakan hoax yang dibuat oleh masing-masing tim sukses pemilihan umum.

Namun, kita perlu merenungkan apakah dengan bersembunyi di balik sikap ‘netral’ dalam pertikaian politik, kita sudah menjadi hal yang pantas? Apakah dengan diam, ga jauh beda kita membiarkan lingkungan di sekitar kita pada berantem satu sama lain, karena mereka memuja mesias-mesias mereka?

Gue tentu berharap dalam pikiran lu, lu mulai sedikit berempati ama lingkungan sekitar lu yang makin memanas masuk tanggal pemilihan yang makin mendekat. Semoga lu bisa geram melihat realita pertikaian di sekitar kita. Satu firman lagi gue bagikan (biar kelihatan ‘Going Deeper’) sebagai perintah Babe Yesus bagi kita yang merasa ‘anak-anak Allah’ yaitu salah satu ucapan berbahagia di Matius 5:9, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”



Yesus memberi kita challenge untuk bukan hanya sembunyi melihat pertikaian para mesias masa kini dan para pengikutnya, tetapi juga beraksi membawa perdamaian. Ingat gaes, membawa perdamaian adalah kata kerja, bukan kata sifat, jadi itulah panggilan kita sebagai orang yang merasa masih waras dalam politik.

Sebagian artikel yang pernah gue tulis maupun dari penulis lain mungkin memberikan saran praktis, tentang aksi nyata apa yang bisa kita lakukan. Sekarang, gue mau kasih kesempatan buat lu pada untuk berbagi inspirasi, “Tindakan apa nih yang bisa kita lakukan untuk membawa perdamaian dalam masa pemilu ini?”

Boleh dong jempolnya dipakai untuk mengetik pendapat kalian di kolom komentar website, Facebook, Instagram maupun Instastory (kalau artikel ini di-review).

Terima kasih!


Baca juga:

http://www.ignitegki.com/going-deeper/jelang-pilpres-mendukung-atau-memberhalakan/

http://www.ignitegki.com/going-deeper/pemilu-indonesia-antara-pemuka-agama-dan-pilihan-pemuka-agama/

http://www.ignitegki.com/best-regards/kristen-indonesia-dan-kecenderuangan-numpang-slamet/

https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_orang_yang_mengaku_sebagai_Yesus

LATEST POST

 

Satu hari telah berlalu di tahun ke-25nya. Ya, kemarin adalah hari ulang tahunnya. Tidak lama kemudi...
by Noni Elina | 19 Jun 2019

Aku Agak MaluAku agak malu membaca bukuIa berbicara padaku tentang bagaimana menjadi akuMenjadi aku...
by Ester Novaria | 19 Jun 2019

Branding pada dasarnya adalah sebuah usaha yang masuk dalam strategi marketing. Banyak sumber yang m...
by Noni Elina | 19 Jun 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER