Hati-hati Menghakimi: Sebuah Refleksi Prolog & Epilog Yohanes 9

Going Deeper, God's Words, 24 March 2020
Kita perlu sadar bahwa kebenaran itu bukan metode baku. Kebenaran itu demetodologisasi. Artinya tidak ada sebuah metode baku yang dapat menguncinya, karena ia selalu dinamis.

Yohanes 9 adalah sebuah narasi tentang penyembuhan yang Yesus lakukan kepada orang buta sejak lahir. Akan tetapi, sebetulnya yang menjadi fokus dari Yohanes 9 ini bukanlah persoalan penyembuhan, melainkan sebuah kisah yang menunjukan bagaimana Yesus hadir untuk mereformasi konsep-konsep kebenaran yang telah usang, serta bagaimana Yesus merengkuh orang buta yang disembuhkan yang dimarginalisasi oleh para pemuka agama Yahudi.

Kehadiran Yesus sendiri dalam Yohanes 9 hanya ada pada prolog (ayat 1-7) dan epiolog (ayat 35-41). Nah, pada tulisan yang lain, saya membahas Yohanes 9 dengan penekanan terhadap perjalanan iman dan pengenalan orang buta yang disembuhkan akan Kristus. Akan tetapi, pada bagian ini, saya mengajak kita untuk melihat ada apa dengan prolog dan epilog Yohanes 9. Apa yang bisa kita pelajari?

Yohanes pasal 9 dimulai dengan pertanyaan para murid yang bersifat sigmatis, dan judgemental. Pertanyaan para murid kepada Yesus bersifat stigmatis, karena mereka mempertanyakan tentang siapakah yang berbuat dosa sehingga orang tersebut terlahir buta. Tampaknya ini adalah pemahaman klasik dalam tradisi Yudaisme yang cenderung melihat sakit penyakit, disabilitas, kekalahan dalam perang, bahkan kemiskinan sebagai tulah yang diakibatkan oleh keberdosaan. Oleh karena itu, bagi para murid, ketika melihat sesama mereka yang mengalami disabilitas, maka dalam pikiran mereka, itu pasti merupakan hukuman Allah.

Ternyata, itu tidak bagi Yesus. Ia justru mengubah paradigma para murid dengan menyatakan bahwa kebutaan yang dialami oleh orang tersebut, bukan diakibatkan oleh dosa, melainkan justru sebaliknya, karena pekerjaan-pekerjaan Allah yang ingin dinyatakan di dalam orang buta tersebut.

Pembukaan Yohanes 9 ini dimulai dengan sebuah paradoks. Yesus membalikan perspektif lama para murid yang sudah usang. Bahkan tidak hanya pada pembukaan, dalam penutup Yohanes 9 pun Yesus melakukan hal yang serupa, yakni menyatakan mereka yang melihat adalah yang buta, dan mereka yang buta justru melihat (ayat 39-41). Menarik sekali. Yesus tampak melakukan reformasi pemikiran besar-besaran. Yang buta malah dikatakan melihat, dan yang melihat malah dikatakan buta. Penghakiman orang-orang Yahudi terhadap orang buta yang disembuhkan, bahkan pernyataan mereka yang menuding dan merendahkan orang buta tersebut sebagai orang yang “lahir dalam dosa” bahkan mengusir orang buta tersebut (ayat 34), justru melimpahkan bara api ke atas kepala mereka.

Jika kita membaca baik-baik dan dengan penuh perenungan mengenai pernyataan Yesus dalam Yohanes 9:39, maka Yesus terlihat sangat emosional. Ya, Yesus tampak hadir tidak hanya sebagai sosok yang merengkuh orang buta tersebut, tetapi juga sosok yang sangat membenci penghakiman. Ia membenci tindaka n-tindakan menghakimi.

Secara konsisten, baik prolog maupun epilog, Yesus menolak segala sikap yang menghakimi. Para murid maupun orang-orang Farisi tidak lepas dari sikap yang menghakimi. Yang berbeda adalah, penolakan orang-orang Farisi untuk meluruskan fundamentalisme mereka yang telah usang, sehingga penghakiman dari Yesus pun menimpa mereka. Mereka yang katanya melihat, ternyata buta. Mereka yang katanya orang benar, ternyata hidup dalam dosa. Sungguh ironis!


Refleksi

Menjadi pelajaran penting bagi kita untuk hati-hati dalam menghakimi, bahkan tidak perlulah kita menghakimi, karena penghakiman bukan milik kita. 

Saya teringat ketika Covid-19 mulai masuk ke Indonesia, salah satu hamba Tuhan atau pendeta, sempat mengeluarkan statement yang bagi saya sangat bersifat stigmatis. Dengan menggunakan Keluaran 9:14-16, beliau menyatakan bahwa Covid-19 adalah tulah, sehingga kita harus merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kekesalan saya tak tertahankan karena melihat stigma tersebut, dan juga bagaimana teks Alkitab ditarik keluar dari konteks. Sungguh sayang, jika stigma tersebut dibunyikan. Kita menjadi hakim atas realitas yang ada. Lalu bagaimana dengan anak-anak Tuhan, dengan hamba-hamba Tuhan yang terpapar Covid-19, bahkan sampai ada yang meninggal? Apakah Allah setega itu? Saya tidak tertarik untuk mengatakan Covid-19 itu tulah atau bukan, karena terlalu dini untuk kita memberikan penilaian. Yang bisa saya katakan hanyalah, apapun yang mungkin disebut sebagai sesuatu yang negatif oleh siapapun, namun jika itu membawa kita menemukan Allah, maka tentu saja itu adalah anugerah Allah.

Photo by Clay Banks on Unsplash Melalui prolog dan epilog Yohanes 9, kita diajar untuk mawas diri. Seringkali, fundamentalisme beragama atau “mabuk agama” membuat kita merasa diri paling benar, dan yang lain, yang mungkin berbeda dengan kita pasti salah. Sikap-sikap seperti ini justru mereduksi kebenaran itu sendiri. Kita perlu sadar bahwa kebenaran itu bukan metode baku. Meminjam istilah yang disebutkan oleh dosen Filsafat saya, "kebenaran itu demetodologisasi." Artinya, tidak ada sebuah metode atau pola baku yang dapat menguncinya, karena ia selalu dinamis.

Karena itu, berhentilah menghakimi, dan mulailah merajut kasih, supaya kehidupan kita senantiasa membawa pesan kasih dan bukan penghakiman.

Kiranya Allah di dalam Anak-Nya Yesus Kristus, dan melalui kehadiran Roh Kudus senantiasa mereformasi cara pandang kita, dan membawa kita selalu dinamis di dalam kebenaran-Nya.

LATEST POST

 

Mungkin saya akan memulai artikel ini dengan sebuah pernyataan kontroversial Ayub. “Mengapa or...
by Lay Lukas Christian | 31 May 2020

Ketika mendengar bahwa di Surabaya Raya akan diterapkan PSBB pada pertengahan April lalu, sedikit ba...
by Kevin Susanto | 31 May 2020

Salah satu hobi saya adalah menonton konser, terutama grup musik cadas (rock). Selain musiknya, sela...
by Christan Reksa | 30 May 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER