Menantikan Terbunuhnya Kematian

Best Regards, Live Through This, 15 March 2021
“The New Testament writings all presuppose that the fallen human race and the equally fallen created order are sick unto death beyond human resourcefulness.” - Fleming Rutledge

Sudah setahun lebih sejak Corona dinyatakan masuk Indonesia. Sikap mental menghadapi segala kekacauan dunia karena makhluk (atau bukan?) mikroskopis itu bervariasi. Mulai dari paranoid dan cemas, lalai dan menganggap remeh ketika kasus sempat menurun, marah melihat penanganan amburadul dan dana bantuan dikorupsi, penyangkalan atas keberadaan virus ataupun tingkat keparahannya sehingga melalaikan protokol kesehatan, kebosanan dan alienasi karena terisolasi dari pertemuan-pertemuan fisik, kesedihan mendalam mendengar kabar duka bertubi-tubi, hingga mungkin mati rasa karena harus berusaha “berdamai” dengan kondisi sambil bertahan hidup.

Pandemi mengakrabkan kembali umat manusia dengan mood muram, kontras dengan optimisme khas manusia kontemporer akan kemajuan. Cepatnya pengembangan vaksin, tentunya karena kemajuan pesat teknologi, memang memberikan harapan terhadap peradaban kemanusiaan. Namun harga yang dibayar sudah begitu besar dan menyakitkan bagi banyak orang.

Ditambah sikap masyarakat yang menunjukkan keinginan selamat sendiri, maupun masalah lainnya seperti dampak ekologis keserakahan manusia yang mulai terlihat akumulasinya, pesimisme itu terus menyeruak. Nyatanya, kematian, maut, dan kebinasaan menjadi sesuatu yang harus diakrabi.

Muncul pertanyaan: Masihkah kita semua berdaya untuk hidup di hadapan kematian?

NGERINYA KEMATIAN

Kita semua pernah berduka menghadapi kematian orang yang terkasih atau berdampak begitu besar dalam hidup kita. Pun kita semua akan berjumpa dengan kematian. Tapi mungkin, sebelum pandemi, sedikit yang menyangka bahwa maut begitu dekat, begitu menyentuh keseharian, bahwa kemungkinan segalanya akan berakhir itu tidak begitu jauh.  Saya pun dibuat terkaget-kaget dan menangis di masa pandemi ini karena beberapa orang yang saya anggap berdampak dalam hidup saya meninggal. Pun keinginan bunuh diri yang beberapa kali muncul kembali sehingga membutuhkan bantuan psikolog.

Perkembangan teknologi dan peradaban, termasuk kemudahan memperoleh pangan dan kemajuan medis, terus meningkatkan statistik harapan hidup manusia. Namun demikian, ada momen-momen seperti ketika kita menjenguk orang sakit, menjumpai korban bencana, maupun berziarah ke makam, bahkan perasaan ingin mati, yang membuat kita bergidik: Bisa saja sedetik setelah ini kita pun akan mati.

Tak ada dari kita yang benar-benar siap menghadapi kematian. Saya pun, dalam pergumulan depresi, selalu takut akan prospek kematian. Dua kali saya memajukan mobil dari rel kereta setelah sepersekian detik karena takut mati. Bagaimana dengan duka keluarga yang ditinggalkan? Bagaimana dengan tanggung jawab selama masih hidup? Bagaimana bila segala ketakutan soal afterlife menjadi nyata?


MEMENTO MORI: BELAJAR MEMELUK KEMATIAN

Sebuah ungkapan Latin yang konsepnya berakar dari era filsuf Yunani kuno, “memento mori” (“ingatlah bahwa suatu hari kamu akan mati”), mengajar kita mawas diri, hidup dengan kesadaran akan kematian. Filsuf Stoa seperti Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius memberikan penekanan ini dalam perenungan-perenungan mereka, untuk tegar dan melihat kematian sebagai keniscayaan. Keberanian hidup akan berujung pada keberanian menghadapi kematian kapanpun, karena kematian, akui saja, adalah bagian dari segala makhluk yang hidup.

Ungkapan ini juga muncul dalam pergumulan umat Kristen mula-mula, ketika isu mengenai surga, neraka, dan afterlife digumuli. Ketakutan soal kematian sudah ada begitu lama, terlebih di kalangan umat percaya yang menghadapi persekusi, dan bisa sewaktu-waktu dieksekusi. Pemahaman soal memento mori terus berkembang dalam filsafat Kristen abad pertengahan, dan di beberapa gereja memasuki liturgi.

Namun demikian, seberapa pun ngerinya, mudah saja membicarakan kematian dalam kondisi nyaman, ketika harapan hidup masih tinggi. Bagaimana bila Sang Kematian menjumpai secara tiba-tiba, begitu dekat, menusuk perasaan, membangkitkan rasa takut, bahkan menghabisi iman?

PRAPASKAH: MASA MENANTI TERBUNUHNYA KEMATIAN

Sialnya (atau untungnya?) umat Kristen kini sedang dalam masa Prapaskah, masa 6 minggu yang diawali Rabu Abu; belum-belum sudah mengingatkan bahwa kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Kita dipaksa menyadari bahwa Yesus Kristus, Sang Firman yang menjadi manusia, tidak menjalani hidup dengan gilang-gemilang, sekalipun pelayananNya menyembuhkan dan mempertobatkan banyak orang, pun menunjukkan hikmat-Nya yang bukan berasal dari dunia ini.

Tidak, Sang Juruselamat yang kita bangga-banggakan itu ternyata bersiap jatuh dalam kehinaan. Bahkan, semakin mendekati Jumat Agung, kita dipaksa menyadari bahwa Dia akan mati dibunuh dengan eksekusi yang paling memalukan di era imperium Romawi, khusus kriminal berat, pemberontak, dan budak.

Semakin mendekati Jumat Agung, kita diajak sadar, bahkan berdamai dengan kenyataan, bahwa Kristus akan “kalah”. Dia jadi tidak berarti apa-apa di hadapan Sang Kematian. Pecundang yang hidup dalam pemberontakan namun akhirnya kalah dan dieksekusi dengan metode yang menempatkan-Nya sebagai makhluk rendahan.

Beranikah kita menghadapi fakta bahwa ternyata, Juruselamat yang kita agung-agungkan tak beda dengan kita, bertekuk lutut di hadapan Kematian?

Namun demikian, ada pengharapan yang menyeruak. Dia bangkit di hari ketiga, menaklukkan rezim Dosa yang mengikat manusia, berbalik membunuh Kematian, menghadirkan kenyataan tak terelakkan bahwa Sang Firman Kehidupan menaklukkan Maut. Dunia dibangkitkan dari kedukaan mendalam. Kematian tidak punya sengat lagi terhadap kehidupan kekal dalam dekapan Allah Tritunggal.

Kita memang dipersiapkan menghadapi kematian, namun juga diajak menjelang pengharapan bahwa Sang Kematian tak punya kuasa. Dia yang ingin membunuh dunia yang diciptakan-Nya, tidak ada apa-apanya di hadapan Sang Kehidupan. Dia berbalik terbunuh. Maut telah dikalahkan-Nya. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang (Amsal 23:18).

Kematian tidak pernah menjadi awal maupun akhir. Semesta diawali dengan kehidupan, menuju kekekalan, dalam Kristus yang mau turun ke dalam rezim Kematian yang terdalam untuk menaklukkannya.

Kita yang begitu takut menghadapi kematian, terus dihibur Dia yang bangkit, dipeluk-Nya, seolah Dia berbisik lembut, “Jangan takut. Aku yang pernah mati dan bangkit, akan mendampingimu sampai ke jurang kematian terdalam dan menuntunmu kepada kehidupan kekal.”


BERAPA LAMA LAGI, TUHAN?

Dengan segala gonjang-ganjing dunia, amat wajar untuk berteriak seperti nabi Habakuk, “Berapa lama lagi, Tuhan?” (Habakuk 1:2). Penindasan rezim dosa begitu nyata. Kematian seolah menjadi tema, baik karena virus maupun karena nafsu manusia untuk selamat sendiri dalam pertarungan seleksi alam dan menindas sesama ciptaan. Lalu sampai kapan Kematian berkuasa? Kapan Sang Kematian ditaklukkan?

Jawaban untuk hal itu terasa begitu jauh hari-hari ini. Saya pun terus dirundung pesimisme. Namun masa Prapaskah, yang menyiapkan kita untuk menyambut Sang Raja yang menderita dan disalib tapi bangkit di hari ketiga, kiranya pelan-pelan menuntun kita, dalam segala kedukaan mendalam, untuk akhirnya berani hidup di hadapan Kematian, dan berkata seperti Paulus di 1 Korintus 15:55-57, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”

Selamat menghidupi masa Prapaskah, merenungkan Sang Juruselamat, menantikan terbunuhnya Kematian. Memento Mori. Allah beserta kita.

LATEST POST

 

Belakangan ini saya sering mendengar lagu dari Kaleb - It’s Only Me yang menceritakan tentang...
by Yessica Anggi | 19 Sep 2021

Di berbagai media online, kita bisa menemukan pembahasan tentang mencari jodoh atau bahasa kerennya...
by Yukiko Suhendra | 19 Sep 2021

"Wah, ganteng banget!”“Lagunya bagus banget!”"Dia narinya keren, energik...
by Chelsia Devina | 19 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER