Panggilan Dalam Kesakitan

Best Regards, Live Through This, 24 December 2019
"Allah tidak pernah membiarkan kesakitan terjadi tanpa tujuan."

24 Desember 2009.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pagi hari itu, dengan perasaan sukacita, baju, tas, sepatu, dan perlengkapan lainnya sudah kusiapkan untuk merayakan malam Natal. 

Namun tiba-tiba...

((awww)) perut ini rasanya sakiiiiit sekali... 

Aku sudah tidak kuat lagi.

Setelah dokter memeriksa kondisiku, aku dinyatakan terkena usus buntu. Namun bukan itu yang membuatku terkejut, aku kaget karena dokter rela untuk tidak datang ke ibadah malam Natal karena harus melakukan tindakan operasi kepadaku hari itu juga.

Apakah aku takut? Iya.

Apakah aku panik? Tentu saja.

Apakah aku kecewa? Oh jelas.. Karena hal ini aku tidak bisa datang ke ibadah malam Natal.

Namun aku tetap berusaha tersenyum agar suasana tidak menjadi semakin tegang. Operasi berjalan selama kurang lebih empat jam. Waktu yang cukup lama untuk sekali operasi usus buntu. Ternyata benar saja, dokter tidak hanya mengoperasi usus buntu, tapi dia juga membersihkan kista yang semakin membesar di dalam tubuhku. Selama tiga bulan sebelumnya aku menjalani terapi akupunktur, yang mana aku harus merelakan diriku kesakitan setiap hari Senin malam karena tubuhku ditusuk puluhan jarum dengan aliran listrik selama setengah jam. Akibat terapi itu, keesokan harinya sering kali aku izin untuk tidak masuk sekolah karena badanku lemas dan tidak kuat menahan rasa sakit akibat terapi.

Malam itu semuanya diselesaikan. Dokter mengatakan bahwa aku beruntung karena tindakan yang diambil belum terlambat. Jika terlambat sedikit saja akan sangat berbahaya, katanya. Operasi usus buntu yang aku alami ternyata bukan operasi pada umumnya, sehingga hasil operasiku digunakan untuk penelitian lebih lanjut bagi para dokter.

Aku butuh waktu lama sekali untuk bisa sadar pasca operasi. Bukan karena obat biusnya, tapi malam itu aku merasa sedang berada di suatu tempat yang sunyi. Semuanya gelap seperti ruang kosong. Namun aku tidak melihat pintu di sana. Aku jalan dan terus berjalan sampai akhirnya aku mendengar samar-samar suara mama dan beberapa keluargaku sedang menangis. Aku berusaha mencari suara itu dan akhirnya aku menemukan pintunya. Aku masuk lalu aku mulai bisa menggerakkan kaki dan membuka mata dengan perlahan.

Aku bersyukur, walaupun malam itu aku tidak bisa datang ibadah Natal yang sudah aku bayangkan kemewahannya, tapi aku pun merasa sangat beruntung karena aku merasa seperti dilahirkan kembali oleh anugerah pemulihan yang Tuhan berikan. Aku mengerti bagaimana Allah hadir di malam Natal saat itu. Kehadiran Allah kurasakan saat Natal itu, berbicara padaku bahwa Sang Juru Slamat telah lahir untuk menyelamatkan hidupku, dan aku juga yakin Ia lahir untuk memulihkan hidupmu.

Sejujurnya, sebelum aku mendengar suara mama di malam itu, aku sempat merasa aku berbincang dengan suatu sosok. Aku berusaha mengingatnya tapi tetap saja tidak bisa. Dengan siapa dan apa yang kami bicarakan saat itu tidak bisa aku ingat. Akan tetapi, yang jelas sejak kejadian itu aku merasa harus berkomitmen untuk memakai sisa hidupku menjadi lebih berguna bagi orang lain. Mulai saat itu aku jadi senang sekali ikut dalam kegiatan pelayanan. Aku merasa seperti dilahirkan kembali untuk menjadi seorang pelayan. Aku pun merasa, Allah kadang sengaja mengizinkan kita mengalami penderitaan yang menyakitkan untuk memperlengkapi diri kita dalam pekerjaanNya. 

Sebentar, ceritanya belum berakhir sampai disitu. 

Sekarang, Natal 2019, sepuluh tahun sudah kejadian itu berlalu. 

Sebulan yang lalu ada sesuatu yang aneh terjadi dalam tubuhku. Perut bagian kanan bawahku tiba-tiba sakit dan semakin terasa sakit saat dibiarkan. Oleh karena itu dengan segala keberanian yang tersisa aku memutuskan untuk periksa ke rumah sakit. Sejujurnya aku memang tidak siap mendengar berita apapun saat itu. Prosesnya tidak mudah dan tidak cepat memang. Aku dirujuk ke berbagai dokter, seperti dilempar sana sini rasanya. Setiap menunggu hasil pemeriksaan, rasa kegelisahan itu tak sanggup kutahan dalam hati. Aku semakin bingung dengan kondisi tubuhku saat dokter hanya memberi obat peredam rasa nyeri tanpa tindakan lebih lanjut ataupun penjelasan lebih rinci. Situasi yang aku alami seperti digantung tanpa kepastian dengan perasaan cemas dan rasa sakit yang belum juga reda.

Suatu malam aku bergumul dengan Allah, dalam perbincangan yang panjang itu Allah meyakinkanku pada suatu pengambilan komitmen. Aku bersedia untuk menyerahkan tubuhku sebagai alat yang akan digunakan Allah untuk menyampaikan pesan bagiku dan bagi orang lain. Allah membuat aku merenungkan kembali kejadian yang aku alami sepuluh tahun yang lalu. Allah membuktikan pemeliharaan-Nya padaku dulu, dan aku percaya kini dan selamanya hal itu tidak akan pernah berubah.

Sepertinya aku dibawa pada saat aku bertemu dengan seseorang yang tak dapat aku jelaskan saat itu, namun kini sepertinya Allah sedang membuka pesan itu yang sempat dititipkanNya padaku sepuluh tahun yang lalu. Walaupun aku terus menantikan pesan-Nya, pada proses ini aku percaya bahwa kali ini pesan itu akan jauh lebih seru dan menarik untuk dimaknai sebagai kado Natal yang terindah dariNya.

Proses pemeriksaan dokter masih berjalan sampai beberapa hari sebelum hari Natal tiba. Aku memberanikan diri untuk datang ke dokter lainnya di kota Surabaya. Pagi hari sebelum pemeriksaan tiba, perasaanku memang sangat gelisah, aku berusaha terus menyebut nama Bapa sambil berdoa untuk menenangkan diriku. Akhirnya hasil pemeriksaan itu selesai, ternyata hal yang ditakutkan itu kembali terjadi. Kistaku kembali muncul dalam ovarium di sebelah kanan, tempat yang sama seperti cerita tahun 2009. Namun bedanya karena hal ini sudah pernah aku alami, kali ini aku tidak merasa sedih seperti sebelumnya. 

Aku berkata pada Tuhan, “Thank you Tuhan buat kado Natal tahun ini.” Aku bersyukur Tuhan mengingatkan Natal kali ini dengan kembali pada saat natal sepuluh tahun yang lalu untuk kembali merenungkan panggilanku saat itu sebagai seorang pelayan. Aku sangat bersyukur untuk semua kesakitan yang pernah aku alami dan rasakan. Aku mengerti mengapa Tuhan izinkan semua itu terjadi, karena Tuhan punya rencana yang indah. Di sana dan di waktu itulah Tuhan sedang membentuk diriku ini untuk karya-Nya yang sempurna. Aku memang masih harus bertahan dalam rasa sakitku ini, namun aku percaya proses ini akan menjadi proses penuh makna saat aku mau setia menjalaninya bersama Allah.


Ketakutanku untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan telah Tuhan ubahkan menjadi rasa rindu yang besar untuk turut serta ikut dalam pekerjaanNya. Kerinduan itu yang membuat diriku untuk ambil bagian melayani dengan menuliskan beberapa kisah hidupku untuk dibagikan pada banyak orang termasuk untukmu. 

Apapun penderitaan dan kesakitan yang sedang kamu alami, jangan takut ya. Jangan pernah menyerah dan putus asa. Saat ini Tuhan sedang membentukmu dalam rancanganNya yang indah. Tuhan sanggup mengubah kesakitan saat ini menjadi kesaksian dikemudian hari. Rencana Tuhan itu sederhana namun sempurna. Suatu saat nanti, mungkin Tuhan juga ingin mempergunakan kesetiaanmu dalam penderitaan dan kesakitan ini menjadi kesaksian untuk menolong orang lain. 

Bagiku kado Natal kali ini sama berharganya seperti kado Natal 10 tahun lalu. Kehadiran Sang Juru Selamat di dunia menjadi bukti nyata akan adanya pengharapan, pemulihan, dan pertumbuhan bagi setiap kita yang mau dengan setia ikut dalam pekerjaan-Nya. Prosesnya memang tidak menyenangkan, namun proses itu membangun. Tuhan Yesus tidak datang untuk DILAYANI tapi untuk MELAYANI. Kita pun dipanggil untuk hal yang sama, melayani Tuhan dan sesama. Aku percaya, sementara aku mengerjakan panggilan Allah, Ia pun sedang berkarya dan terus membentuk diriku. 

Selamat Hari Natal, selamat mengalami pemulihan dari Sang Juru Selamat dan menghidupi panggilan-Nya.


24 Desember 2019
Kezia Aroem

LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER