Walau Ku Tak Dapat Melihat, Cinta-Mu Meraihku Kembali untuk Hidup Dalam Panggilan-Mu

Best Regards, Live Through This, 09 November 2023
Tuhan, meskipun aku tidak dapat melihat segala rancangan yang Engkau tetapkan, aku hanya akan bersandar pada lengan yang kekal. Hanya cinta-Mu yang meraihku kembali ketika duniawi berusaha menjebak diriku. Aku selalu rindu bersama-Mu, hidup dalam dan bersama panggilan-Mu. Amin.

Cinta-Nya Terkadang Tidak Terlihat, tetapi Dapat Dirasakan

Kehidupan manusia adalah siklus yang terus berulang, baik secara kejadian maupun waktu. Contohnya, siklus kehidupan sejak lahir hingga lanjut dan tutup usia, waktu yang terus berputar dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, hingga ribuan tahun telah berlalu. Seperti bumi yang berputar, begitu juga dengan berbagai kejadian yang terus berlalu. Salah satu slogan yang sampai saat ini hadir ditengah kehidupan kita adalah “work harder, much better” yang lebih identik dengan tuntutan kehidupan. Semakin berkembangnya zaman, tuntutan juga semakin bertambah. Maka, istilah tadi berubah menjadi work too harder, much better”. Bila kita melihat dari sisi Kekristenan, sebenarnya kurang tepat apabila hanya melihat satu sisi prinsip tadi, karena Tuhan juga memberikan waktu untuk beristirahat (hari penciptaan ke-7).


Ada dua macam istirahat/rest yang ditawarkan kepada manusia, yaitu rest versi duniawi dan rest versi surgawi. Rest/istirahat yang ditawarkan dunia sifatnya semu, sementara, dan mungkin hanya berlaku untuk beberapa orang, sedangkan rest yang Tuhan berikan adalah ketenangan yang hanya kita dapatkan di dalam-Nya. Dunia boleh menawarkan dengan kemewahannya, tetapi hanya Tuhan yang memberikan ketenangan sejati.  


Salah satu tokoh Alkitab yang banyak menceritakan mengenai ketenangan di dalam Tuhan dan bersaksi tentang-Nya adalah Yohanes Pembaptis. Ditulis dalam beberapa suratnya, Yohanes Pembaptis memberi pengajaran agar orang-orang Yahudi kembali kepada jalan yang benar, menceritakan bagaimana hubungan antara Allah dengan kasih. Bahkan dia adalah satu-satunya orang yang diutus untuk mempersiapkan jalan bagi Mesias dengan pembaptisan Tuhan Yesus di Sungai Yordan. Walaupun karya yang dilakukan Yohanes Pembaptis ini luar biasa, dia tetaplah manusia biasa yang— bahkan dalam perjalanannya—dihukum mati dengan cara dipenggal. Di dalam pergumulannya selama menjadi tahanan Herodes, Yohanes mempertanyakan imannya sehingga dia mengutus dua muridnya untuk bertanya kepada Tuhan Yesus apakah benar Ia yang dimaksud sebagai Mesias (Lukas 7:9). Akhir dari kisah Yohanes Pembaptis tidak diceritakan lebih lanjut, tetapi melalui perkataan Tuhan Yesus—yang disampaikan kembali pada dua murid Yohanes—menyiratkan agar Yohanes tetap teguh berpegang pada imannya hingga akhir. Bagi saya, pesan Yesus kala itu juga menegaskan bahwa apa yang dialami Yohanes tidak luput dari kedaulatan Allah, dan agar Yohanes tahu bahwa Allah peduli dan tetap mengasihinya dalam situasi yang tidak mudah itu.


Image by BMV Katedral Bogor on Website

Bukankah sebagai manusia, kita sering mempertanyakan segala sesuatu? Bukan hanya karena kita ingin mengetahui segalanya, melainkan juga karena kita tidak mengetahui segalanya. Hanya Tuhanlah Sang Pemilik Alam Semesta, Ia yang menciptakannya, maka Ia pula yang mempunyai kuasa atas segala ciptaan-Nya.


Cinta-Nya Meraihku Kembali

Berbagai masalah dan pencobaan dapat hadir menggoda iman kita, tetapi kepada siapakah kita harus bersandar? Dalam Matius 11:28, Tuhan Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Kita perlu mengingat bahwa konteks pendengar pada ayat tersebut adalah orang Yahudi, tepatnya setelah Tuhan Yesus "menitipkan pesan" pada Yohanes Pembaptis (Matius 11:2-19) dan mengecam beberapa kota (Matius 11:20-25). Jadi, ayat ke-28 itu masih ada dalam narasi yang sama dengan dua bagian tersebut. Pada masa itu, saking banyaknya peraturan dan adat istiadat yang harus dipatuhi agar "terbebas" dari dosa, banyak orang bergumul dalam pengenalan mereka terhadap Allah. Di sinilah Tuhan Yesus menguatkan mereka melalui Matius 11:28-30, bahwa mereka yang datang kepada-Nya akan memperoleh kelegaan ketika menanggung beban itu bersama-Nya.

Saat ini, undangan Tuhan Yesus di atas bukan untuk orang-orang tertentu, bukan untuk sebagian orang, bukan untuk yang paling rajin pelayanan, bukan untuk yang paling banyak berbuat baik, bukan untuk orang yang paling lama menjadi pelayan ibadah, tetapi untuk SEMUA orang yang mau datang kepada-Nya. Bersedia datang kepada Tuhan juga berarti bersedia menyediakan diri dan mempercayakan diri sepenuhnya. Seperti tanah liat yang sedang dibentuk menjadi bejana, selain berusaha untuk melewati proses yang mungkin tidak selalu mudah-nyaman-dan-sesuai dengan ekspektasi, kita perlu belajar berserah pada Tuhan yang penuh belas kasihan. 

"Letih, lesu, dan berbeban berat" tidak hanya dapat bermakna fisik, melainkan juga hati. Hal ini dapat kita lihat di dalam kisah Perempuan Samaria (Yohanes 4:1-42). Dalam kisah ini terlihat ada dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang pertama adalah hukum Taurat yang sangat ketat pada saat itu, di mana dilarang seorang dari wilayah Samaria, terlebih perempuan untuk berkomunikasi bahkan menjalin relasi dengan seseorang yang berasal dari wilayah Yudea (silakan jika ada Ignite People yang mau membahas sejarah perpecahan Kerajaan Israel dengan lebih detail - Minbi). Sudut pandang kedua adalah perempuan Samaria ini sangat mengalami kehausan, sehingga ketika Tuhan Yesus menawarkan air kehidupan yang tidak akan membuat haus kembali, dia merespon dengan sangat girang. Ketika ditelaah lagi kisahnya, perempuan tersebut sudah memiliki lima orang suami, tetapi yang bersamanya bukanlah suaminya. Jika Ignite People menelaah lebih jauh melalui berbagai sumber tafsiran (tentunya yang Bible based), kita akan menemukan bahwa perempuan itu sudah tidak memiliki apa pun yang dapat dipertahankannya. Siapa yang mau keluar pada siang hari untuk mengambil air demi menghindari pembicaraan dengan warga sekampung, jika bukan orang yang telah dicap buruk? Mungkin pada masa itu, title "perempuan tidak baik-baik" itu melekat padanya, sehingga walaupun sudah berusaha lepas dari jerat dosa, dia tetap tidak dapat melepaskan diri. Namun, setelah berjumpa dengan Tuhan Yesus, perempuan Samaria itu mengalami kepuasan sejati melalui Air Hidup yang memuaskan dahaga jiwanya, bahkan memampukannya untuk mengajak masyarakat di sana bertemu dengan-Nya secara langsung.


Hidup Dalam Panggilan-Nya

Ketika seseorang telah diundang untuk masuk dalam cinta Tuhan yang tak terbatas, maka panggilan selanjutnya sebagai orang beriman adalah hidup dalam panggilan yang dirancangkan-Nya. Salah satu tokoh dalam Alkitab yang bersaksi mengenai panggilan adalah Yunus, seorang nabi dari Israel. Kala itu, Yunus mendapat panggilan Tuhan untuk memberitakan berita pertobatan di Niniwe karena Tuhan telah murka dan akan menghukum mereka atas tindakan keji yang mereka lakukan. Bukannya menanggapi dengan positif, Yunus justru berpaling dan pergi kearah yang berlawanan dengan kota tujuannya, Yunus malah pergi ke kota Tarsis. Entah apa yang menjadi alasannya tidak dituliskan secara eksplisit dalam Alkitab, tetapi bila dilihat dari sejarah orang Israel tidak berkenan dengan orang Asyur bahkan menganggapnya musuh. Siapa di antara kita yang bisa menganggap sebuah bangsa sebagai kawan jika bangsa tersebut justru menjajah bangsa kita dengan cara yang keji?


Image by alkitabonline.org

Panggilan Tuhan tidaklah seperti panggilan manusia yang penuh maksud dan tujuan tertentu. Panggilan-Nya adalah untuk berkarya bersama-Nya sampai pada kesudahannya. Hidup dalam panggilan salah satunya mendalami nilai di dalamnya, yaitu keselamatan adalah dari, milik, dan bagi Tuhan (Kisah Para Rasul 4:12). Keselamatan dari Tuhan sebab tidak ada sumber lain yang menyatakan terdapat “ jalan “ keselamatan lain.


Poin kedua adalah keselamatan adalah milik Tuhan, yang menentukan dan berdaulat atas keselamatan hanya Tuhan Yesus sebab semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Keselamatan juga merupakan bagian dari Injil. Oleh karena itu, dalam bermisi, kita diajak untuk menyesuaikan diri dengan kondisi (1 Korintus 9:22) dan ketika bermisi, maka Tuhan yang menjadi tujuan akhir kita sehingga jangan menyerah bila di tengah perjalanan kita menemukan kendala yang berkaitan dengan seseorang.


Poin terakhir yaitu keselamatan adalah bagi Tuhan. Bila ditarik garis waktu karya penebusan dosa Tuhan Yesus di Bukit Golgota adalah untuk umat manusia. Namun, ketika kita telah menjadi manusia yang dimerdekakan apakah selanjutnya yang dapat dilakukan? Ada yang beranggapan bahwa harus dibendung untuk dirinya sendiri supaya jangan sampai berkekurangan. Sampai demikian khawatirnya manusia padahal kasih karunia-Nya itu cukup. Hal terbaik yang dapat kita usahakan adalah membagikannya, bisa berupa lisan maupun tindakan kepada sesama, seperti hati yang dialiri dengan air kehidupan maka kasih akan terus terpancar dari hatinya.


Ku sadar tak semua dapat aku miliki didalam hidupku 

Hatiku percaya rancangan-Mu bagiku adalah yang terbaik

Walau ku tak dapat melihat semua rencana-Mu Tuhan 

Namun hatiku tetap memandang pada-Mu, Kau tuntun langkahku

Walau ku tak dapat berharap atas kenyataan hidupku

Namun hatiku tetap memandang pada-Mu, Kau ada untukku

(Walau Ku Tak Dapat Melihat – Grezia Epiphania)

LATEST POST

 

Pemerintahan di dunia ini dilaksanakan dalam berbagai metode, namun pada intinya adalah mengatur sec...
by Oliver Kurniawan Tamzil | 29 Feb 2024

Image on PexelsMarilah kita membayangkan diri kita sendiri ketika kita sudah tua nanti? Apakah kita...
by Samuel wangsa | 18 Feb 2024

Lagu Kidung Jemaat no. 249 berjudul "Serikat Persaudaraan" mungkin sudah tidak asing lagi...
by Alviedo Yuda | 14 Feb 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER