Glenn dan Kristus di Tengah Covid-19: Sebuah Refleksi

Going Deeper, God's Words, 10 April 2020
Tetapi, apakah perasaan kehilangan seorang penyanyi besar ini jauh lebih besar daripada perasaan kehilangan Kristus yang mati di atas kayu salib untuk kita?

Di tengah sore hari, ketika saya sedang gabut dan sedang asik meng-scroll salah satu sosial media yang ada, saya sampai di sebuah postingan yang menuliskan: Rest in Peace Glenn Fredly.  Cukup  kaget, walaupun saya bukan penggemar berat seorang Glenn, tetapi entah kenapa saya juga merasakan sebuah kehilangan yang cukup mendalam. Jarang sekali saya bisa bersedih karena ada salah satu artis/orang terkenal meninggal. Mungkin saja lagu-lagunya pernah menemani saya di masa-masa galau. mungkin bisa jadi dia salah satu anak Tuhan, walaupun saya tidak mengenal dia, tetapi saya tahu dia salah satu anak Tuhan, dan cukup taat (ini tebakan saya, mungkin saja bisa salah). Mungkin ini yang cukup membuat diri saya sedih. 

Photo by. https://upload.wikimedia.org/ 

Berita yang menyedihkan ini ada di tengah wabah Covid 19 yang sedang terjadi, dan di tengah Minggu Sengsara. Bagi anak-anak Tuhan yang menggemari Glenn Fredly, mungkin menjadi minggu yang benar-benar sengsara. Tetapi, apakah perasaan kehilangan seorang penyanyi besar ini jauh lebih besar daripada perasaan kehilangan Kristus yang mati di atas kayu salib untuk kita? Sehari sebelum Jumat Agung, saya membayangkan kira-kira apa yang Tuhan kita pikirkan, rasakan, ketika Ia tahu ini adalah hari terakhir Dia, malam terakhir Dia sebelum menghadapi siksaan yang begitu menyakitkan,

"Lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” (Mrk. 14: 34). 

Mau mati rasanya, itu yang Tuhan kita rasakan. Apa yang bisa membuat kita mencapai sebuah titik, mau mati rasanya? Mungkin putus cinta, kehilangan orang yang kita kasihi? Mungkin satu rasa yang benar-benar begitu menyedihkan dan menakutkan? Dan murid-murid Dia tidak ada satu pun yang peka dengan apa yang Ia rasakan, Ia benar-benar sendirian, satu-satu-Nya harapan-Nya ialah Bapa. 

Ia sempat menawar dengan Bapa, apakah tidak ada cara lain yang lebih baik, Ia berharap kalau bisa cawan ini berlalu, dalam ayat 36:

Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” 

Tetapi kita tahu Yesus tetap harus menghadapi cawan ini. Dia tidak lari, Ia setia menjalani cawan ini. Karena ada satu hal yang jauh lebih besar, motivasi yang jauh lebih berharga daripada siksaan yang akan Ia hadapi, yaitu pulihnya relasi manusia dengan Tuhan. Dosa yang membawa manusia kepada siksaan yang kekal dihapuskan, dan manusia bisa hidup bersama dengan Tuhan. Inilah hal yang jauh lebih berharga itu. Karena Ia begitu mengasihi kita, Ia begitu mencintai kita. 

Photo by Jon Tyson on Unsplash 

Sudahkah pada masa Paskah ini, kita sungguh-sungguh merenungkan kasih Tuhan yang begitu besar dalam hidup kita? Atau masa Paskah tahun ini berlalu begitu saja, karena tidak ada kesibukan di gereja, karena hanya rebahan di rumah, sehingga berlalu begitu saja tanpa kita sungguh-sungguh memaknai kembali karya Agung terbesar Kristus di dunia ini, yaitu karya keselamatan penebusan Kristus bagi manusia? 

Mari jangan biarkan momen ini berlalu begitu saja, jadikan momen ini untuk kita bisa kembali memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan kita. Ambil Alkitabmu, baca dan berdoalah!


LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER