Memento Mori, Finish the Unfinished Business

Best Regards, Live Through This, 07 May 2021
"Apapun itu, aku ikut. Hidupku punya Tuhan." - Raditya Oloan

Pada hari Kamis lalu (6 Mei 2021), kita dikejutkan dengan berita duka atas kepergian Ps. Raditya Oloan (a.k.a. Bang Radit), salah satu pastor kekinian yang telah menyentuh banyak orang dari pelayanannya (baik secara langsung maupun melalui media sosialnya). Tidak sedikit yang menceritakan hubungan mereka bersama sang pastor maupun insight yang mereka dapatkan darinya. Sebagai gambaran singkat, Bang Radit dulu juga pernah terjebak dalam narkoba dan membangun relasi dengan cara yang salah (tidak heran jika beliau sering membahas mengenai relationship bahkan mendirikan Love Academy). Namun, hanya karena anugerah Tuhan, kehidupan Bang Radit diubahkan hingga akhirnya beliau melayani sebagai pastor muda sekaligus influencer yang membagikan Injil secara terang-terangan.

Secara pribadi, dulu saya belum tahu tentang Bang Radit sampai akhirnya beliau menjadi pembicara di Paska Remaja-Pemuda gereja dua tahun lalu. Sejak saat itu, saya mengikuti Instagramnya dan sangat sering memperoleh insight dari konten yang dimuatnya. Bang Radit bukan hanya menjadi berkat, tetapi juga inspirasi bagi saya yang sedang belajar membagikan Firman Tuhan melalui media sosial tanpa harus memojokkan pihak-pihak tertentu. Beliau juga termasuk orang yang humble dan suka bergaul, salah satu daya tarik dari suami Kak Joanna Alexandra dan keempat anak mereka. Bahkan yang membuat saya semakin salut adalah ketika Bang Radit dengan bangga menceritakan tentang anak keempat, Zion, yang memiliki kebutuhan khusus. Selalu terpancar sukacita dari raut wajahnya setiap kali melihat kemajuan yang dibuat Zion, the miracle baby. Saya bisa melihat bagaimana hati seorang ayah itu tumbuh di hatinya (dan juga hati yang mengasihi istri, tentunya). Bisa dikatakan, kehidupan Bang Radit yang singkat ini menjadi kisah manis bagi setiap orang yang pernah bersentuhan dengannya (maupun karya-karyanya).





Sejak bulan lalu, setidaknya saya sudah mendapatkan lima kabar buruk mengenai kematian seseorang, mulai dari orang tua, saudara, atau kerabat teman, bahkan anak dari seorang staf kampus. Semua berita duka itu membawa saya pada sebuah kenyataan: memento mori, kamu pasti mati. Jika dulu saya menganggap bahwa kematian hanya bisa menyentuh orang-orang tertentu (misalnya lansia dan yang memiliki penyakit yang tingkat kesembuhannya sangat minim), maka sekarang anggapan itu tidak lagi berlaku. Bukan hanya karena Covid-19, tetapi kejadian yang unpredictable bisa merenggut nyawa seseorang (termasuk perencanaan pembunuhan yang tidak disengaja seperti yang memakai sate yang sempat viral itu).

Jujur saja, saya lelah mendengar berita duka seperti ini. Ketika kata-kata yang menguap karena kematian seseorang-yang-dekat dengan orang yang dikenal masih belum bisa kembali muncul, lagi-lagi ada kabar duka yang datang dari pihak lain. Saya teringat pada seorang teman yang juga kehilangan om dan tantenya sekaligus hanya berselang satu jam saja, dan saya teringat pada duka dari teman yang lain karena kehilangan kakak satu-satunya secara mendadak. Semua peristiwa ini membuat saya bertanya, "Kenapa, Tuhan? Masih belum cukupkah kematian yang beruntun ini?"

Namun, di balik pertanyaan tersebut, saya diingatkan pada makna kematian itu sendiri. Kematian, seringkali diartikan sebagai sebuah akhir dari kehidupan. Padahal, tidak jarang kematian justru menjadi awal dari sebuah kehidupan yang baru, seperti yang dialami keluarga salah satu pembina Perkantas Solo yang kisahnya saya bagikan di sini. Kepergian Mas Gun tersebut menggerakkan Ci Grace, anak pertamanya, menuliskan sebuah buku mengenai kehidupan beliau, dan anak-anak rohaninya semakin tergerak untuk melanjutkan pelayanannya melalui bidang masing-masing. Bukankah demikian yang dikatakan oleh salah satu ayat, "Biji gandum itu harus mati terlebih dahulu untuk menghasilkan buah"?



Photo by Boudewijn Huysmans on Unsplash  


Di sisi lain, tidak semua orang memiliki perjalanan hidup yang mulus, kan? Ada jurang yang pernah menjadi tempat tinggal selama bertahun-tahun, perasaan putus asa yang menguasai batin terus-menerus, bahkan ada keinginan untuk segera mati karena merasa sudah tidak bisa lagi mengubah arah hidup. Pertanyaannya, jika yang berada di posisi itu adalah Ignite People dan saya, benarkah kita sudah siap untuk mati? Apakah kematian dengan cara demikian adalah cara terbaik untuk menghidupkan kenangan terhadap diri sendiri dalam diri orang-orang yang kita tinggalkan?

Kenangan seperti apa yang ingin kita hadirkan pada orang-orang yang kita tinggalkan kelak?

Pertanyaan di atas juga bisa dibalik: Persepsi seperti apa yang ingin diberikan mengenai diri kita pada seseorang yang sedang berada di dalam sakratul maut?

Saya teringat pada almarhum Engkong yang pernah bersitegang dengan Mama selama bertahun-tahun, dan mereka baru mulai mengalami pemulihan relasi justru menjelang kematian Engkong. Mama saya pernah berkata, "Mama nggak mau Engkong mikir kalau Mama nggak sayang Engkong, karena sebenarnya walaupun dulu pernah luka batin, Mama tetep sayang sama Engkong." Mungkin itulah sebabnya kita sering mendengar ada orang yang baru bisa meninggal dengan tenang setelah pihak yang pernah terluka karena dirinya telah memaafkan dan melepaskannya dengan rela.

Masih ingat dengan anak staf kampus saya di atas? Menjelang kematiannya, salah satu dosen saya (yang juga teman satu gereja dari keluarga anak itu) berkata kepada sang ibu, "Kalau udah waktunya, coba Bapak dan Ibu bisikkan di telinganya, 'Kalau Tuhan Yesus dateng, ikut Dia ya, Nak. Jangan takut, ikut aja... Kami rela, kok...''" Memang setelah itu, keluarga staf kampus saya ini masih berduka (begitu pula dengan kami yang sering berinteraksi dengan mereka dan mendoakan kesembuhan sang anak), tetapi saya melihat itulah cara Tuhan untuk melatih kepekaan kami dalam menemani keluarga yang sedang berduka (mulai dari sejak anak mereka sakit (dan dirasa cukup mendadak) hingga kematiannya), sekaligus bagaimana kami memiliki persepsi yang baru mengenai kematian itu sendiri.



Photo by Nick Fewings on Unsplash  


Menghadapi kematian bukanlah hal yang mudah, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Dalam Five Cycle of Grieving, Kubler-Ross menyebutkan ada lima fase di dalamnya: denial, angry, depression, bargaining, dan acceptance. Ada kalanya fase ini tidak berjalan sesuai urutannya, namun kita perlu mengingat bahwa setiap orang memiliki kecepatannya masing-masing dalam menyesap duka yang dialami. Ada yang masih tetap deny walaupun orang yang mereka kasihi sudah meninggal sejak satu-dua tahun yang lalu, tetapi ada juga yang sudah bisa menerima kematian dalam waktu yang singkat.

Tidak ada patokan yang resmi berapa lama seseorang harus berduka, tetapi jika duka itu masih berlarut-larut bahkan mengganggu fungsi hidupnya, diperlukan bantuan profesional (entah ke konselor atau psikolog) untuk mencari tahu penyebab di balik hal tersebut. Iya, saya juga baru mengetahuinya ketika studi lanjut, kok. It's not too late to learn something new, right? Seringkali, duka itu belum terselesaikan karena masih ada unfinished business yang dibiarkan berlalu seiring berjalannya waktu. Entah itu rasa bersalah, kemarahan yang dipendam, bahkan dendam yang belum kesumat tetapi yang bersangkutan sudah meninggal terlebih dahulu.

Kematian itu bisa menjemput siapapun kapan saja, bahkan di waktu yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Jangan sampai penyesalanlah yang tinggal tetap di hati karena belum menggunakan hidup yang Tuhan berikan dengan baik, atau karena masih memiliki unfinished business dengan orang yang telah mendahului (atau akan kita dahului). Kiranya kalimat berikut ini menjadi doa kita bersama:

If I die, I wanna have a beautiful meaning on it because God will use it for His glory beyond anyone can expect.



Artikel mengenai grieving lainnya bisa juga dibaca di sini.

LATEST POST

 

SAAT GEREJA “DILARANG” MENGURUSI POLITIKKetika menemukan berita Persekutuan Gereja-Gerej...
by Christan Reksa | 13 Jun 2021

            Di dalam buku nyanyian Kidung Jemaat pada nomor 26 terdapa...
by Christyana Elizabeth Huwae | 13 Jun 2021

Ada orang yang habiskan seumur hidupnyahanya untuk berbuat baik.Lalu khilaf satu kali dan berbuat ke...
by Primaridiana Pradiptasari | 13 Jun 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER