Sebuah Refleksi Natal: Kisah Petualangan Tiga Orang Majus ke Empat Dimensi

Best Regards, Live Through This, 27 December 2019
Natal yang berarti kelahiran Tuhan Yesus yang mau datang ke dunia untuk menebus dosa manusia seringkali dianggap sebagai suatu hal yang biasa dan klise. Tetapi, apakah sedangkal itukah makna natal bagi kita setiap tahunnya?

Collaboration between Priska Aprilia, Danish Andrian, Shania Antresha & Marcella Leticia Salim


Jika diperhatikan hampir di setiap natal tiba, tema yang akan diambil sering tidak jauh dari kata “The Greatest (objek)”, yang mengandung makna “sesuatu yang terbesar”. Sebenarnya, maksud dari yang terbesar di hari natal itu sendiri seringkali diartikan sebagai kelahiran dari Tuhan Yesus sendiri ke dunia, yang mau merendahkan diriNya dan menyelamatkan kita dari maut. Saya rasa, umat Kristen hampir sudah mengetahui akan hal itu. Tetapi, apakah sedangkal itukah makna natal bagi kita setiap tahunnya?

Pertanyaan itulah yang saya ajukan kepada diri saya sendiri, tepatnya ketika ditunjuk menjadi panitia publikasi dan dokumentasi perayaan natal di gereja saya untuk pertama kalinya, yang juga mengusung tema “The Greatest Gift”. Semangat, ide-ide dan imajinasi yang liar sudah mulai berkeliaran di otak ini semenjak dua bulan sebelum tanggal 25 Desember.


Designed by: Danish Andrian, Priska Aprilia & Shania Antresha; Lettering Art by: Marcella Leticia Salim

Berbagai tanggung jawab pun diembankan kepada saya. Mulai dari mencari tahu dan memahami tema serta ayat emas natal yang dikutip, meminta approval terkait tipe font yang digunakan di dalam poster, revisi hingga ke titik koma penulisan, membantu memberikan revisi desain kaos panitia, membuat countdown, membuat konten di sosial media, sampai memotret event lalu menyortir foto, saya lakukan semuanya dengan sukacita, walaupun sejujurnya melelahkan karena harus membagi waktu juga beradaptasi dengan pekerjaan saya yang baru. Saya pun lupa, saya tenggelam dalam keegoisan (alias senggol bacok saling menajamkan) dan membuat saya sadar kalau ternyata saya bekerja sama dengan berbagai macam panitia dan tidak bekerja hanya sendirian.

Salah satu tantangan terbesar terjadi ketika mencoba memvisualisasikan naskah kabaret ke dalam poster natal. Berkisah tentang petualangan tiga orang majus ketika mencari Yesus, yang tersesat dalam empat dimensi yakni padang gurun Mesir, kota Las Vegas, pedalaman Brazil hingga suatu kerajaan di hutan Afrika dirasa merupakan hal yang anti-mainstream untuk sebuah tema natal. Hingga pada akhirnya tema padang gurun Mesir pun terpilih menjadi latar belakang poster, senada dengan konten dan countdown yang diunggah di  Instagram. Tidak lupa dengan hiasan properti gereja berupa jejeran kado-kado yang dibungkus dengan kertas cokelat ala paket harbolnas, yang dipermanis dengan pita warna-warni dan lampu tumblr yang melilitinya, Juga pohon natal di sudut gereja yang berhiaskan lampu tumblr warna warm white kekinian yang jika berpadu menghasilkan kesederhanaan, kehangatan namun tidak meninggalkan kesan elegan.


Photo by Mariam Soliman on Unsplash

Suatu pertanyaan muncul kembali di benak saya. Untuk apa ketiga orang majus yang dipertunjukkan harus berkelana ke empat dimensi? Hingga akhirnya saya memberanikan diri melihat gladi kotor dan gladi bersih yang ternyata diwajibkan. Ternyata petualangan tiga orang majus itu bukanlah dibuat tanpa tujuan. Ketersesatan karena badai pasir di padang gurun Mesir bernuansa "Aladdin" yang menyebabkan ketiga orang majus kehilangan dua onta replika fenomenalnya, melambangkan pengharapan yang daripada Tuhan. Kota Las Vegas yang melambangkan kemegahan duniawi dengan casino-nya. sehingga para penjudi seringkali melupakan Tuhan dan berniat mengakhiri hidupnya, pedalaman Brazil yang menceritakan kesederhanaan dan kehangatan sebuah keluarga sewaktu merayakan natal, dan juga kerajaan di hutan Afrika bernuansa "Wakanda" yang melambangkan suatu posisi dan haus akan kekuasaan.

Satu hal yang saya tangkap dari perjalanan ketiga orang majus tersebut, yaitu Tuhan ada untuk setiap kita. Tidak peduli ketika kita tersesat dan membutuhkan pengharapan, ketika kita “khilaf” akan segala keduniawian yang ada, saat kita hidup sederhana dan berkecukupan bahkan baik-baik saja, hingga saat kita diberi kepercayaan untuk menempati posisi atau kekuasaan tertentu, Tuhan ada untuk kita semua, di setiap kondisi dan keadaan kita.

Segala keduniawian, kekuasaan, dan juga posisi, bisa saja hilang ataupun berubah 180 derajat. Mungkin banyak hal tidak menjadi sesuai yang kita harapkan dan akan menghasilkan kekecewaan, mungkin kita juga mulai tak berpengharapan. Seterpuruk dan sehilang apapun kondisi kita, Yesus selalu ada untuk menyelamatkan kita yang hilang.

“For the Son of Man came to seek and to save the lost” (Luke 19:10 NIV)

Yes, we are. We are sinners, We are the lost.

Designed by: Danish Andrian, Priska Aprilia & Shania Antresha; Lettering Art by: Marcella Leticia Salim

Yesus Kristus adalah hadiah natal paling abadi, yang tidak akan bisa dan tidak akan pernah hilang. Pertanyaannya, maukah kita datang kepadanya sebaik dan seburuk apapun kondisi yang kita hadapi?

Jadi, hadiah natal terbesar adalah Yesus Kristus sendiri. Dan semua orang sudah tahu hal itu. Namun, apakah semua orang mampu merefleksikannya dan menerapkannya di dalam kehidupan mereka sehari-hari?

Selamat merayakan dan merefleksikan natal, Tuhan Yesus memberkati !

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER