Ravi Zacharias : Suara Korban, dan "Dosa" Struktural

Best Regards, Live Through This, 13 February 2021
Ravi Zacharias terbukti bersalah, tetapi masalahnya mungkin lebih dari sekedar dosa Ravi secara personal.

Ravi Zacharias adalah seorang tokoh yang menarik.

Namanya sudah tidak asing lagi dalam dunia apologetika / pembelaan iman Kristen. Boleh dibilang salah satu tokoh besar di dunia apologetika Kristen.

Saya sendiri pernah mengagumi dan menyukai pemikiran - pemikiran Ravi di masa pencarian identitas saya sebagai orang Kristen yang dari kecil tidak pernah diajarkan untuk bertanya "mengapa saya adalah seorang Kristen?"

Pemikiran Ravi dan beberapa apologet Kristen lain seakan membuka jalan masuk saya untuk mendalami kekristenan. Begitu pula dengan beberapa rekan lain yang juga boleh "terberkati" oleh pelayanan Ravi dan murid - murid akademinya, RZIM (Ravi Zacharias International Ministry) semasa hidupnya.

Ravi Zacharias International Ministry, lembaga pelayanan yang didirikan berfokus dalam bidang apologetika.

( sumber )

Namun, Ravi sepertinya bukan sosok yang selama ini dipikirkan oleh murid - murid dan para pengagumnya.

Penyelidikan dan laporan - laporan korban membuktikan Ravi terbukti melakukan pelecehan seksual, seperti yang baru saja dirilis oleh Christianitytoday

Respon bercampur antara kekecewaan, marah, bahkan penyangkalan / denial di kalangan pegiat apologetika dan juga penggemar Ravi. Tetapi bukti -  buktinya sudah jelas, dan suara korban sudah tak terbendung.

Lalu, kita lebih sering bertanya : 

Bagaimana dengan pemikiran Ravi ? Saya sangat terberkati dengan pemikiran Ravi, apakah saya mesti berhenti membaca buku - buku dan menonton ceramah - ceramahnya ?

Saya pikir sudah tak perlu diperdebatkan lagi masalah ajaran - ajaran Ravi dan bagaimana "dosa" secara personal adalah milik setiap manusia. Bahkan banyak yang mengambil analogi tentang bagaimana Mazmur Daud tetap digunakan meskipun Daud sendiri pernah melakukan perzinahan.

Sikap "holier-than-thou" lantas menghakimi Ravi dan merasa lebih baik juga bukan sesuatu yang bijak. Tidak ada nats dalam alkitab yang mengajarkan kita untuk bersenang - senang atas kejatuhan seorang saudara seiman dalam dosa.

Tetapi yang selalu luput adalah perspektif para korban.

Tak sedikit kasus pelecehan seksual oleh tokoh ternama mudah sekali menguap karena korban takut bersuara dan menghadapi tekanan. Dalam hal ini, ada sebuah power-play yang jelas. Korban bisa saja menjadi pelaku di hadapan pihak yang lebih berkuasa.

Ingat kasus pendeta di Surabaya yang juga terkena skandal seksual, yang ternyata sudah dilakukan selama 17 tahun ?

( sumber )

Korban, dalam hal ini, penuh resiko dan menghadapi ketakutan mereka sendiri dalam menyuarakan apa yang mereka alami. Memperjuangkan keadilan bagi diri mereka sendiri tanpa adanya dukungan dari pihak yang "kuat". Seorang rekan teolog bahkan memberi analogi seperti "darah Habel" yang berteriak meminta keadilan.

Nama mereka pun tak pernah disebutkan - barangkali mungkin malah tak ingin disebutkan karena potensi ancamannya besar, apalagi berpikir ingin dianggap sebagai pahlawan.

Lebih dari sekedar dosa personal ?

Saya teringat dengan Paus Fransiskus yang mencabut "asas kerahasiaan" dalam Gereja Katolik Roma mengenai skandal seksual para imam.

Paus Fransiskus

( sumber )

Asas ini, awalnya dibuat untuk merahasiakan setiap kasus pelecehan seksual dari dunia luar, dan melindungi identitas pelaku maupun korban. Tetapi asas ini seperti pedang bermata dua : memungkinkan para imam menghindar dari jeratan hukum sipil.

Ini adalah sebuah langkah radikal.

Bagi Paus Fransiskus, pelecehan seksual di tubuh GKR bukan sekedar masalah kebejatan moral para imam - tetapi ada struktur dan sistem di belakangnya yang memungkinkan terjadinya pelecehan seksual kepada para korban.

Barangkali apa yang dilakukan oleh Paus Fransiskus dapat menjadi dasar pemikiran kita untuk kasus Ravi, maupun skandal seksual oleh pemimpin Kristen yang lain. Hal seperti ini sangat mungkin terjadi dalam institusi kita, apapun aliran dan denominasinya.

Tidak bisa sekedar lari dan mengatakan bahwa ini adalah masalah dosa personal tidak ada kaitannya dengan institusi. Budaya kepemimpinan yang toxic dan pola masyarakat patriarkis masih sangat sering ditemui dan memberi ruang untuk terjadinya skandal - skandal serupa.

Kita memang perlu adil, melihat dari berbagai macam sisi. Tetapi menjadi adil juga berarti memberi ruang untuk telinga kita mendengar sesuatu yang tak sesuai dengan harapan kita dan berdamai dengan kenyataan yang tak sesuai selera kita.

LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER