Dear Aktivis Pelayanan, Melayani Bisa Menyenangkan

Going Deeper, God's Words, 16 October 2023
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kelegaan. Sebab, kuk yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan." Matius 11:28-30 TB2

Sebagai orang yang terlibat aktif dalam pelayanan di gereja, tak jarang saya mendapati diri ini kelelahan. Bukan hanya badan, tapi juga pikiran sampai perasaan. Itu juga yang saya temukan pada rekan-rekan sepelayanan saya, khususnya mereka yang mengerjakan hampir semua hal (jadi pengurus komisi, ikut paduan suara, ngajar sekolah minggu, bantu tim multimedia belum lagi terlibat di kepanitiaan). Yah, beginilah problem mainstream di gereja, ada banyak pelayanan tapi pelayannya ya dia lagi dia lagi.   

  

Saya berdoa semoga tulisan ini bisa jadi penguatan bagi teman-teman yang merasa terjebak dalam pelayanan (entah di gereja, PMK, rumah tangga atau di mana aja). Bagi yang lagi penat mikirin regenerasi dan rekrutmen yang gini-gini aja, yang sudah pingin berhenti dari lama tapi nggak tega ninggalin pelayanan karena kekurangan orang, atau yang sedang memikirkan ulang alasan untuk melayani.  

  

Ada satu buku menarik, judulnya “Serving without Sinking” karya John Hindley. Buku yang cocok dibaca ketika sudah jenuh di dalam pelayanan. Saya cukup tergelitik dengan judul bab pertama buku ini, “Serving can be joyful.”  Judul semacam ini nggak akan muncul kalau semua orang melayani dengan senang, kan? Well, kenyataannya bukan cuma saya yang kadang-kadang melayani sambil sambat. Tuhan, kasihanilah.   


Amazon.com


Sebagai penikmat kuliner, saya suka nonton video review makanan di Youtube, salah satunya #JKWKULINER, yang menceritakan tentang rumah-rumah makan yang pernah melayani Pak Presiden. Dari tiap episodenya nampak bahwa semua pemilik rumah makan itu senang dan bangga ketika bisa menjamu presiden. Dan tentunya ketika tau yang datang adalah presiden, mereka akan memberikan penyajian yang terbaik.   

  

Bulan Maret yang lalu, Blackpink mengadakan konser di Indonesia. Orang-orang berbondong-bondong ke Jakarta demi menonton konser mereka. Hal yang menarik adalah promotor event ini melibatkan teman-teman difabel sebagai volunteer. Tentu saja kawan-kawan difabel ini merasa sangat senang dan bangga, apalagi di Indonesia masih belum banyak kesempatan bagi mereka untuk berbagian dalam perhelatan besar seperti ini.  

   

Ketika kita berbagian dalam sesuatu yang disebut “pelayanan” bukankah yang kita lakukan lebih dari sekadar event Blackpink atau menjamu presiden? Semestinya kita senang dan bangga. Kalau direnung-renung, bukankah luar biasa ketika Allah yang Maha sempurna itu memercayakan pelayanan-Nya kepada kita yang penuh cacat cela dan jauh dari kata sempurna? Kita yang teledor, egois, dikit-dikit gegeran tapi ya masih aja dikasih kesempatan. Serving should be joyful Namun, pada kenyataannya melayani tidak semenyenenangkan itu. Melayani itu capek, menyita waktu, tenaga, duit, belum lagi ketemu orang yang sulit, bikin stress dan menambah beban (jangan lupa bahwa masih ada beban di pekerjaan, keluarga, dll). Nggak heran ada banyak orang yang menolak ketika diajak pelayanan atau bahkan mutung karena merasa kewalahan. Pelayanan menjadi sesuatu yang membebani di saat yang kita butuhkan adalah kelegaan.  

  

Yesus menawarkan hal menarik di Matius 11:28-30 yaitu kelegaan tapi juga beban (baca: kuk). Membaca ayat ini bikin saya pingin protes, katanya kelegaan, tapi, kok, dikasih kuk? Kalau memang menawarkan kelegaan yaudah sih jangan dikasih beban lagi, bisa nggak sih salah satu aja? Tapi nampaknya yang Yesus tawarkan ini sudah dalam bentuk paket, tidak dijual terpisah. Berikut adalah contoh dari kuk pada masa Yahudi kuno:


Withers Yoke - wikipedia.org


Bagi pembaca pada masa itu, "kuk" mengingatkan mereka akan hukum Taurat yang begitu banyak dan berat – segala aturan duniawi yang membuat hidup mereka penuh beban. Takut begini takut begitu, harus begini harus begitu. “Kuk” dunia bicara tentang segala sesuatu yang berusaha manusia lakukan untuk mendapat “reward” bahkan “keselamatan” yang celakanya bikin manusia malah makin terbebani dan menderita. Dalam pelayanan mungkin seringkali kita juga terlalu fokus pada segala usaha untuk mencapai ini dan itu, harus begini dan begitu yang mengakibatkan kita lelah sendiri.  

  

Yesus menawarkan “kuk” yang lain. Kuk yang justru memberikan kelegaan. Kebanyakan penafsir sepakat bahwa “kuk” yang dimaksud Yesus bicara soal “perjalanan kemuridan” makanya ayat selanjutnya mengatakan “belajarlah dari-Ku.”  Perjalanan kemuridan kita tentu nggak terlepas dari tantangan dan kesulitan, termasuk di dalam pelayanan. Tapi di sini Yesus seolah mengajak kita untuk melihat segala pergumulan dan tantangan itu bukan sebagai “beban” yang harus kita pikul susah payah demi mendapat “sesuatu” melainkan sebagai sebuah “pembelajaran” sebagai seorang murid. Tujuannya jelas: keserupaan dengan Kristus.   

  

Yang menjadi penghiburan adalah kita tidak dibiarkan memikul kuk itu sendirian. Orang-orang di zaman Yesus memahami kuk sebagai palang kayu yang dipasangkan pada lembu yang lubangnya ada dua, lembunya nggak narik sendirian. Jika diterjemahkan dalam konteks sekarang, artinya ketika kita dipasangkan kuk, kita nggak dibiarkan memikul kuk itu sendirian tapi Tuhan ada bersama dengan kita. Kalau Tuhan turut memikul bersama kita, maka seharusnya nggak ada yang terlalu berat atau terlalu melelahkan. Kalau Tuhan pikul kuk itu bersama kita, sebenarnya kita cuma nggandol sama Tuhan, mengikuti pimpinan-Nya. Kalau pikul kuk bersama Tuhan, kita pasti aman karena Tuhan nggak mungkin membiarkan kita jatuh tergeletak.  


Image on Crosswalk

Saya teringat satu ayat yang mengatakan 

“Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung beban bagi kita; Allah adalah keselamatan kita” Mazmur 68:20 TB2

Hari demi hari, kita nggak dibiarkan memikul beban sendirian, tapi Tuhan menanggung beban kita. Terjemahan versi yang lain malah mengatakan, bukan hanya bebannya yang ditanggung tapi kitalah yang dipikul, yang digendong sama Tuhan – hari demi hari.   

  

Kiranya ini yang menjadi penghiburan dan kekuatan kita di dalam pelayanan – dimanapun dan apapun bentuknya – di dalam perjalanan kemuridan kita. Bahwa melayani adalah hak istimewa karena Tuhan mau pakai kita yang terbatas untuk melayani Allah yang mulia – bahwa di dalam pelayanan mungkin ada tantangan dan pergumulan – Allah pakai semua itu di dalam perjalanan kemuridan kita sebagai pembelajaran untuk kita semakin serupa dengan Kristus. Marilah mengimani bahwa hari demi hari, Allah turut memikul bersama kita, bahkan kita yang dipikul dan digendong-Nya.  

LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER