Marah: Bukan Sekedar Boleh atau Tidak Boleh

Going Deeper, God's Words, 06 March 2020
Setiap orang bisa marah, tetapi tidak semua orang bisa marah dalam pengertian konstruktif alias membangun. Alih-alih bersifat konstruktif, marah kerap berdampak destruktif alias menghancurkan.

“Boleh gak sih kita marah? Kan wajar kalau kita kesel lihat sesuatu yang gak beres lalu marah-marah? Tapi, rasanya kok pendeta saya kemarin berkotbah supaya kita tidak boleh menyimpan kemarahan sampai matahari terbenam ya? Berarti, marah itu gak boleh dong karena dosa?”

Ada banyak hal yang dapat membuat seseorang marah. Mari kita daftarkan, misalnya: tidak memperoleh apa yang diinginkan, realita bertolak belakang dengan harapan, merasa tersinggung, merasa dirugikan, merasa tersakiti, rencana tidak berjalan sebagaimana mestinya, merasa diperlakukan tidak adil, dan lain-lain. 

Dalam istilah Bahasa Yunani, ada dua jenis kemarahan. Pertama, thumos, yakni kemarahan yang terjadi seketika, tetapi mudah reda. Contohnya adalah ketika Yesus membalikkan meja-meja penukar uang dan mengusir para pedagang hewan kurban di pelataran Bait Suci. Yesus seketika menjadi marah karena melihat praktek korupsi, kolusi dan nepotisme di Bait Suci. Para imam bekerjasama dengan pedagang-pedagang hewan kurban untuk memperkaya diri mereka sendiri. Bukannya memudahkan orang untuk beribadah, tetapi malah membebani mereka, terutama orang-orang kecil dan miskin. Namun, kemarahan Yesus segera reda saat persoalan sudah diatasi. 

www.pinterest.com

Kedua, orge, yakni kemarahan yang berakar mendalam dan sulit reda, bisa bercokol dalam hati manusia begitu lama. Kemarahan yang kedua inilah yang kerap bersifat destruktif alias menghancurkan, baik orang yang marah maupun yang menjadi sasaran kemarahan. Orang marah karena merasa dikhianati, ditipu, disakiti, dirugikan, tersinggung, lantas menyimpan dendam, permusuhan, dan rencana untuk membalaskan sakit hatinya kepada orang-orang yang dianggap telah menyakitinya. 

Suatu kali seorang gubernur melihat proposal rencana anggaran dan belanja daerah yang dirasanya tidak wajar yang harus ditandatanganinya. Ia melihat anggaran untuk sosialisasi program kerja di Dinas Pendidikan sampai bermilyar-milyar, sungguh tidak masuk akal pikirnya. Ia lalu memanggil pejabat yang membuat rancangan anggaran. Ketika ditanya, pejabat tadi mengatakan bahwa anggaran itu untuk mencetak dan mengirimkan surat ke seluruh sekolah agar sosialisasi dapat berjalan baik, tetapi tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa angkanya bisa sampai bermilyar-milyar. Sang gubernur menjadi marah, alih-alih menandatanganinya, ia merobek-robek proposal pengajuan anggaran tadi dan membuangnya ke tempat sampah. Hari itu juga ia memecat pejabat yang bersangkutan dan menyelidiki siapa saja yang terkait dengan permainan anggaran agar mendapat tindakan tegas.

Apa yang dilakukan sang gubernur membuat beberapa pejabat yang merasa tidak bisa lagi mendapat keuntungan dari hasil korupsi menjadi marah. Dengan segala upaya, mereka membuat rencana untuk menurunkan sang gubernur.

Dari cerita di atas, sang gubernur marah karena melihat uang rakyat coba dikorupsi melalui rencana anggaran dan belanja daerah. Sang gubernur marah dalam pengertian konstruktif, yakni supaya seluruh pejabat menggunakan wewenang yang diberikan dengan jujur, menciptakan budaya bersih dari perilaku korup. Sementara para pejabat di bawahnya yang merasa tidak lagi bisa mencuri kesempatan untuk memperkaya diri juga marah, tetapi marah dalam pengertian destruktif. Marah lalu kemudian berupaya menyingkirkan sang gubernur, meski pun dalam hati nurani mungkin mereka sadar bahwa perbuatan mereka itu salah.

Photo by Christian Erfurt on Unsplash

Marah karena melihat masalah ketidakadilan, penindasan, diskriminasi, lalu berupaya mencari solusi dan mengatasinya itu baik, namun marah yang tidak pada waktu dan tempat yang tepat, meledak-ledak, mengumbar emosi berlebihan, hanya akan memperburuk keadaan. Apalagi jika kita marah pada seseorang, lantas berupaya dengan segala cara untuk menyingkirkan orang itu.

"Setiap orang hendaknya cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:19-20)

Maksud ayat dari surat Yakobus di atas ditujukan bagi orang yang lekas marah tanpa terlebih dulu mengerti dengan utuh duduk persoalannya. Marah yang meledak-ledak, mengumbar emosi, tidak pada waktu dan tempatnya. Amarah yang seperti itu biasanya malah membuat situasi menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Karena itu, orang diajak untuk cepat mendengar, dalam arti memahami dulu dengan utuh apa yang didengar dan dilihatnya. Jangan terburu-buru berkomentar, apalagi marah. Sebab, bisa saja persepsinya salah, dan akhirnya ia sendiri yang harus menanggung rasa malu karena terlanjur marah-marah.

Ketika hendak marah, coba tarik nafas dalam-dalam. Tanyakan pada dirimu sendiri, mengapa kamu marah? Perlukah marah? Dampak apa yang kira-kira ditimbulkan saat kamu marah, apakah positif atau negatif? Di mana letak positifnya, dan di mana letak negatifnya? 

Lalu, lihatlah dirimu di cermin, seperti apa tampilan wajahmu ketika marah? Apakah tenaga yang dikeluarkan saat kamu marah sebanding dengan hasil yang diperoleh? Setiap orang bisa marah, tetapi tidak semua orang bisa marah dalam pengertian konstruktif alias membangun. 

LATEST POST

 

Rasanya bukan hal yang asing jika kita menjadi skeptis dengan hal-hal yang bersifat doktrinal. Benar...
by Ellen Kosakoy | 28 Sep 2022

Hari itu, Seekor burung pipit luka sayap sebelah. Bulu rontok bak tersayat sembilu.Berteng...
by Hendrik Siboro | 28 Sep 2022

Shalom, Ignite People! Kali ini, aku mau membagikan kesaksian nyata dari seorang suster yang ma...
by Nuel Lubis | 28 Sep 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER