Nevertheless...

Best Regards, Fiction, 11 September 2021
Tadinya dia tidak ingin percaya, tapi setelah diamati lagi, memang membaca webtoon itu layaknya melihat ke cermin. Na-bi tidak tahu tepatnya harus merasa bagaimana. Apakah tersanjung, bangga, marah, atau terganggu?

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.

“Hei, lihat! Mr. Butterfly udah publish webtoon baru!” ujar So-ra kepada dua temannya, sangat bersemangat. Keduanya menanggapi dengan norak, bergegas melompat dan berlari mendekati So-ra untuk menimbrung dan ikut membaca. 

“Wah… sweet banget…,” komentar Min-young sambil tersenyum dan mengkhayal, seakan apa yang diceritakan dalam webtoon terjadi pada dirinya. “Eh, coba lihat lagi, deh. Si tokoh cewenya mirip… siapa, ya?” tanya So-ra heran. 

“Ah! Bukannya dia duta kampus, ya? Namanya…” 

“Yoo Na-bi?” 

“Ah, iya! Betul, betul,” sahut Yun-ji. “Wah, kayanya Mr.Butterfly fans si Yoo Na-bi, ya? Webtoon sebelumnya juga ada yang karakter cewe yang mirip-mirip gini.”

“Iya, aku inget! Wah, beneran fans kayanya,” timpal So-ra.


Happiness is like a butterfly which when pursued, is always beyond our grasp, but if you will sit down quietly, may alight upon you.

Jae-eon tersenyum melihat statistik pembaca webtoon barunya. Jumlah pembacanya meroket dengan cepat dan banyak komentar yang mengatakan kali ini ceritanya sangat related dengan kehidupan mereka. Rasanya bangga, dan sedikit sombong. Setelah sekian webtoon yang dibuatnya, baru kali ini yang dibaca begitu banyak orang dalam waktu singkat dan mendapatkan umpan balik yang bagus. Jae-eon tak berhenti senyum-senyum sendiri, sambil mengucapkan terima kasih dalam hati untuk Yoo Na-bi, inspirasinya.

Bukan hanya karena duta kampus, Jae-eon menyukai Na-bi hingga ia ingin mengenalnya secara pribadi. Sebagaimana fans pada umumnya, ada suatu sensasi misterius ketika bisa mengagumi idola dan merasa mengenalnya lebih dekat. Lebih dari itu, Jae-eon merasakan ada ketertarikan personal kepada Na-bi. Cantik parasnya, ceria pribadinya, dan kepeduliannya terhadap segala sesuatu di sekitarnya menjadi magnet bagi Jae-eon untuk terus bermimpi bisa mengenal Na-bi secara personal.


Be careful what you wish for.

Agaknya kutipan tersebut berlaku untuk Jae-eon. Harapannya untuk mengenal Na-bi lebih dekat terkabul. Mereka tergabung dalam satu kepanitiaan untuk sebuah event kampus. Betapa bahagianya Jae-eon. Dia berandai-andai bisa berinteraksi dengan Na-bi. Berpapasan saja mungkin sudah cukup membuat Jae-eon senang.

“Na-bi! Sini!” panggil Hye-ji. “Kenalin, ini anggota tim kamu ya. Namanya Jae-eon.” 

“W-wah, aura duta kampus emang beda,” celetuk Jae-eon kagum. “Halo. Namaku Jae-eon. Senang sekali bisa ketemu idola kampus. Mohon bimbingannya, ya.”

“Halo, Jae-eon! Aku Na-bi,” balas Na-bi sambil mengulurkan tangan. “Biasa aja sama aku, aku nggak seterkenal itu kok, hahaha.” Tawa Na-bi yang renyah mengaburkan pandangan Jae-eon. Pupil matanya melebar, seakan ingin membuat bentuk hati. Senyumnya merekah, seperti ingin meledak wajahnya.

We can run away even if the butterfly chases us.

Tangan mereka bersentuhan. “Biar aku aja,” kata Jae-eon. Langsung diangkatnya kardus berisi perlengkapan event hari itu. 

Thank you,” ujar Na-bi sambil tersenyum. Jae-eon dan Na-bi berjalan beriringan menuju ke venue, sambil asyik mengobrol dan bercanda. Sesekali rakyat kampus mencuri pandang, kadang ada yang sambil berbisik-bisik. Entah karena terpesona dengan Na-bi, atau terheran melihat manusia dan bidadari berjalan beriringan.

Sampai di venue, sebagian teman mereka melirik penasaran. Na-bi dan Jae-eon saling melambaikan tangan, berpisah ke area kerja masing-masing. Teman-teman Na-bi meringis kegirangan, merasakan ada sesuatu antara keduanya. Mereka menghujani Na-bi dengan pertanyaan-pertanyaan seputar Jae-eon dan hubungan mereka. “Hei, kami nggak punya relasi kaya gitu. Temen deket biasa aja,” jawab Na-bi dengan agak malu.


This is crazy, but what can I do? It was good.

Jae-eon memandang Na-bi yang ada di pelukannya. Bulu mata lentik menghiasi matanya yang masih terpejam. ”Aku masih ingin tidur seperti ini,” ucap Jae-eon lirih. Tangan Na-bi tiba-tiba bergerak ke arah pipinya…


...dan memukulnya berkali-kali. Jae-eon tersentak, bangun dengan gelagapan. Dia mengamati sekelilingnya dan sadar Na-bi tidak ada dalam pelukannya. Di hadapannya berdiri Gyu-hyeon, berkacak pinggang dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ayo, bangun! Na-bi cari kamu ke mana-mana, tuh.” Jae-eon baru sadar dirinya berada di sofa sambil memeluk bantal yang akan dipakai untuk dekorasi panggung. Dia menghempaskan punggungnya dan menutup wajah dengan kedua tangannya. “Ternyata cuma mimpi,” katanya dalam hati. Jae-eon tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Gyu-hyeon berdecak dan memukul paha Jae-eon. “Heh, cepet cari Na-bi. Ntar diomelin baru tahu rasa. Nggak tahu apa kalau Na-bi paling sebel sama orang yang mangkir dari tanggung jawabnya.” Jae-eon segera berdiri dan mengambil barang-barang yang seharusnya dia bawa untuk acara hari ini. “Wah, gawat nih,” gumamnya khawatir.

Benar saja. Na-bi sudah menunggu di belakang panggung sambil menyilangkan tangannya. Tampak raut wajahnya kesal dan sepertinya marah juga. Na-bi sedang berbicara dengan anggota tim yang lain ketika Jae-eon menghampirinya. Jae-eon melihat teman-teman timnya sebagian menundukkan kepala, sebagian memalingkan wajah, dan sebagian menutup wajah dengan satu tangan. Jae-eon berani menyimpulkan bahwa ini bukan situasi yang bagus untuk dia. Sial.

Nabi menoleh dan bertemu pandang dengan Jae-eon. Tatapan matanya seperti mata laser Superman yang bisa memusnahkan apa saja yang ada di hadapannya. Nabi kembali berpaling kepada anggota tim yang lain. “Kalian urusi tugas masing-masing dulu. Aku perlu bicara dengan Jae-eon.” Jae-eon bergidik. Seram membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Dia hanya bisa mengumpat dalam hati.


...like this was always going to happen between us.

Jae-eon memandang Na-bi yang ada di pelukannya. Bulu mata lentik menghiasi matanya yang masih terpejam. ”Aku masih ingin tidur seperti ini,” ucap Jae-eon lirih. Tangan Na-bi tiba-tiba bergerak ke arah pipinya…


...dan mengelus pipinya. “Aku juga,” balas Na-bi sambil tersenyum. Jae-eon menampar pipinya sendiri dengan pelan, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi. “Masa kita bolos kelas?” tanya Jae-eon. Na-bi bangun dari tempat tidur, menguncir rambutnya, dan mengemasi tasnya. “Nggak bisa, aku ada ujian hari ini.” Jae-eon mengangguk-angguk dan tersenyum kecut.

Na-bi berpamitan dan meninggalkan apartemen Jae-eon. Jae-eon masih telentang di kasur, memandangi langit-langit kamarnya. Dia masih tidak percaya bisa sedekat ini dengan Na-bi yang dulu hanya dia lihat saat acara-acara besar kampus. Masih melekat di pikirannya senyum indah Na-bi, tawa renyahnya, dan rambut lurus panjangnya yang lembut. 

Jae-eon melompat keluar dari kasur, bergegas menyalakan laptop dan menyiapkan drawing pad-nya. Dia merasakan sensasi menggelitik di sekujur tubuhnya yang membuatnya ingin segera menuangkan pengalamannya dalam gambar-gambar dan dialog-dialog pendek. Otaknya seperti dipenuhi kupu-kupu beraneka jenis dan warna, beterbangan ke sana ke mari, seakan menggoda untuk minta digambar terlebih dahulu. Jae-eon senyam-senyum sendiri sambil menggoreskan pena pada drawing pad, berusaha memvisualisasikan apa yang ada di ingatannya.

I can’t tell if she’s warm or cold, serious or joking.

Jae-eon menggambar sketsa dari sosok yang berbaring di sampingnya. Diamatinya tiap lekuk, helai rambut, dan bentuk-bentuk dari fitur wajah dan bagian tubuhnya. Sekali lagi diamatinya, rasanya masih seperti mimpi. Dulu Jae-eon hanya memandangnya di poster promosi kampus atau billboard di beberapa persimpangan jalan yang strategis. Tidak pernah terpikir untuk menatapnya sedekat ini, bahkan menyentuh dan memeluknya.

Suara goresan pensil yang beradu dengan permukaan kertas membangunkan Na-bi. Dikejap-kejapkan matanya, mengusir rasa kantuk yang masih membayangi dirinya. “Ngegambar apa?” celetuk Na-bi. Jae-eon gugup dan segera menutup buku sketsanya. Disingkirkannya ke atas meja bersama dengan pensilnya. “Ng-nggak, bukan apa-apa. Tugas kelas anatomi tubuh,” jawab Jae-eon dengan cengiran. “Sini, lihat. Tahu nggak? Dulu aku dapat nilai A di kelas itu,” balas Na-bi sambil menyeringai. “Yang bener?! Wah, ajarin aku, dong!” Na-bi tergelak. Jae-eon pun ikut tertawa.

Jae-eon kadang bingung. Na-bi bisa bersikap easy-going, tapi kadang seakan tidak bisa dijangkau. Dia bisa meluap dengan aura tegas, tapi tetap memancarkan kecantikannya. Di suatu waktu, dia bisa bersikap seakan tidak saling mengenal; di waktu yang lain sangat dekat dan tak terpisahkan. Jae-eon kadang bertanya-tanya, apakah kedekatannya dengan Na-bi hanya sebuah ilusi atau memang realita yang pasti. It seems superficial, but substantial at the same time.


I don’t believe in fate or love anymore, but this situation… it’s pretty unrealistic.

Na-bi menatap layar ponselnya nanar. Tiap helai rambut, lekuk tubuh, dan cara bicara tokoh itu mirip sekali dengan dirinya. Tadinya dia tidak ingin percaya, tapi setelah diamati lagi, memang membaca webtoon itu layaknya melihat ke cermin. Na-bi tidak tahu tepatnya harus merasa bagaimana. Apakah tersanjung, bangga, marah, atau terganggu?

Ponsel Na-bi bergetar tanda ada pesan masuk. “Makan siang, yuk.” Begitu bunyi pesan yang masuk dari Jae-eon. Na-bi tercenung. Mungkin memang benar rumor yang dia dengar selama ini; ada yang terinspirasi dari dirinya dan menjadikannya webtoon. Mungkin memang benar firasatnya ketika menghabiskan malam-malam bersama Jae-eon dan mendengar suara kertas dan pensil, memang Jae-eon menggambar dirinya. Mungkin memang benar dugaan teman-temannya bahwa si pembuat webtoon itu orang yang selama ini jadi temannya bercerita dan bertukar pikiran dengan intim. Mungkin memang benar...

Na-bi menghela napas. Lagi-lagi, Na-bi tidak tahu tepatnya harus merasa bagaimana. Apakah tersanjung, bangga, marah, atau terganggu? Bagaimana tepatnya perasaannya kepada Jae-eon? Apa yang harus dia lakukan? 


Tak dibalasnya pesan itu. Na-bi menghampiri Hye-ji dan mengajaknya makan siang bersama.


What is love? 

Constantly giving meaning to something abstract and unfamiliar. 

Wouldn’t that be true love?

Ketika kita mengagumi (bahkan mencintai) idola atau pujaan kita, seringkali mereka menjadi inspirasi untuk hal-hal yang kita lakukan. Mereka bahkan bisa menginspirasi karya kita entah dalam bentuk tulisan, gambar, atau musik. Namun, kadang pemujaan kita bisa mengaburkan perspektif dan tanpa sadar pelan-pelan kita larut dalam halusinasi untuk menjadikan mereka objek ekspresi cinta kita.

Kita lupa bahwa mereka juga manusia yang punya privasi dan perasaan; kita tidak tahu apa yang mereka pikirkan dan rasakan ketika melihat karya-karya fans mereka (fan fiction, fan-made clips, etc). Bolehkah mereka merasa tidak nyaman? Ataukah kita secara tidak sadar memaksa mereka untuk merasa dicintai dengan cara yang tidak mereka inginkan?

Yuk, kagumi idola kita dengan bijak. 

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Belakangan ini saya sering mendengar lagu dari Kaleb - It’s Only Me yang menceritakan tentang...
by Yessica Anggi | 19 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER