Batman: Membawa Senyuman Melalui Duka Part 2

Going Deeper, God's Words, 04 November 2019
“Kenapa kita jatuh? Agar kita dapat belajar bagaimana caranya bangkit lagi.” - Alfred Pennyworth

Ada seorang anak kecil bernama Bruce Wayne yang dilahirkan dari keluarga miliarder pemegang saham tertinggi di Kota Gotham selama beberapa generasi. Penderitaan mungkin tidak pernah terlintas di benaknya, mengingat dia memiliki keluarga yang bahagia serta dibesarkan dalam lingkungan yang baik. Sayangnya, kebahagiaan dari Bruce tidak bertahan lama. Sebuah tragedi terjadi ketika keluarga Wayne—Thomas (ayah), Martha (ibu), dan Bruce—pulang dari sebuah pertunjukan teater. Perjalanan keluarga bahagia ini harus terhenti akibat diberhentikan oleh seorang perampok yang bersenjatakan senjata api. Dikarenakan panik dan perampok kelas teri itu terburu-buru, perampok tersebut melepaskan dua tembakan timah panas dari pistolnya dan mengenai ayah dan ibu Bruce. Mereka meninggal seketika di tempat kejadian perkara, meninggalkan seorang Bruce kecil yang menangis di jalan sembari melihat kedua tubuh orang tuanya bersimbah darah.

           


Kisah asli Batman dimulai di sini, bermula dari janji anak kecil yang melihat terbunuhnya orang tuanya di depan mata kepalanya sendiri. Peristiwa terbunuhnya Thomas Wayne dan Martha Wayne adalah salah satu kisah paling tragis dalam dunia komik. Saat itu Bruce masih merupakan seorang anak kecil yang begitu polos dan tidak tahu apa-apa, namun peristiwa ini hanyalah awal dari penderitaannya. Permasalahan semakin pelik dengan kebangkrutan perusahaan keluarga Wayne akibat kepercayaan yang menurun dari anak buah orang tuanya, hingga beban sebagai pemilik saham yang dibebankan kepadanya yang saat ini adalah anak yatim piatu. Meski demikian, Bruce tidak membalas dendam kepada pembunuh orang tuanya. Bahkan dalam versi yang lain—yang dituliskan oleh Jeph Loeb dan Tim Sale—Bruce kecil berkata:


 “I made a promise to my parents that I would rid the city of evil that took their lives.”


Sesuatu yang wajar jika Bruce marah dan sedih atas kepergian orang tuanya dengan tragis. Namun dalam proses kehidupannya, dia memunculkan visi besar untuk tidak membalas dengan kejahatan, tetapi untuk mengubah—I would rid the city from evil—sistem yang telah merenggut orang tuanya. Bruce dapat melihat bahwa pembunuh orang tuanya tak lain adalah korban; perampok tersebut tak ubahnya rakyat yang merampok karena miskin dan marah terhadap sistem yang tidak memberikan kesejahteraan kepada dirinya. Bruce sadar bahwa kota ini kurang cinta, dan dari situlah Batman lahir. Dia menjadi superhero yang mempunyai janji untuk tidak membunuh—karena dia sadar bahwa kehilangan orang yang terbunuh bukanlah hal yang mengenakkan. Perlahan-lahan Batman mengubah Kota Gotham dengan caranya yang “indie”: melawan mafia-mafia yang mengatur sistem kota dan mengungkap praktik korupsi dalam pemerintahan.



--**--


Lantas apa hubungan Batman dengan Kekristenan masa kini?

Mari kita menyimak 2 Korintus 1:3-11 sebagai bahan perenungan terhadap realita saat ini.

“Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga.” - 2 Korintus 1:6

Ayat di atas merupakan bagian pembuka surat yang diberikan judul oleh LAI sebagai “Ucapan Syukur”. Bagaimana mungkin ucapan syukur kalau yang dibahas justru adalah penderitaan? Ya, Surat Korintus adalah sebuah surat pastoral yang dituliskan oleh Paulus ketika dia berada dalam penderitaan, tetapi ia harus memberikan penguatan kepada jemaat Korintus.


Bagaikan bejana siap dibentuk, demikian hidupku di tangan-Mu


Kita mungkin biasa menyanyikan penggalan pujian di atas, akan tetapi kita juga sering lupa apa itu esensi dari “bejana”. Menurut KBBI, bejana adalah wadah, tempat, tabung, bak yang biasanya terbuat dari tanah liat. Proses pembentukan benda ini tidaklah singkat; pertama, tanah liat yang diambil harus dipisah dulu dari kotoran-kotorannya, lalu dipijat menggunakan alat putar, dan yang terakhir adalah dibakar agar bejana itu menjadi kuat untuk digunakan sebagai wadah dengan kualitas baik.



Jika menilik perumpamaan di atas, kita pun dapat membandingkan diri kita, dengan Batman dan Joker (yang telah dibahas dalam renungan sebelumnya). Dalam rangka membentuk diri, kita bisa diumpamakan seperti tanah liat yang siap dibakar (mendapatkan penderitaan). Tidak hanya itu, kita juga harus siap agar tidak “retak” atau “pecah” dalam proses tersebut. Bruce Wayne membuktikan bahwa melalui penderitaan, dia dapat menjadi pribadi yangbahkan siap untuk melampaui batasannyadan mampu menjadi terang di tengah Kota Gotham yang penuh dengan kekacauan. Pada awalnya, Bruce dan Arthur (alias Joker) sama-sama merupakan korban dengan cara yang berbeda, namun dalam konteks tempat yang sama. Perbedaannya adalah cara penghayatan mereka terhadap “duka” tersebut. Layaknya Arthur, Bruce juga merasakan kesendirian dan dendam yang luar biasa. 

Penderitaan adalah hal yang nyata dalam setiap kehidupan manusia. Meski bermacam-macam bentuknya, setiap orang memiliki bentuk api (penderitaannya) masing-masing. Hal ini pula yang diungkapkan Paulus:


“Aku telah mengambil keputusan di dalam hatiku, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu dalam dukacita. ... Dan justru itulah maksud suratku ini, yaitu supaya aku datang, jangan aku berdukacita oleh mereka, yang harus membuat aku gembira. Sebab aku yakin tentang kamu semua, bahwa sukacitaku adalah juga sukacitamu.” - 2 Korintus 2:1,3

Kesadaran untuk berbuat baik tak selalu muncul melalui proses penderitaan yang spektakuler. Ya, kita harus mengakui bahwa penderitaan “ada” dalam lingkungan kitabaik kecil dan besar. Melalui mata yang terbuka, membuat telinga menjadi peka, dan belajar be here and now, kita akan menyadari realita mengenai dunia yang semakin dingin dan tawar ini. Kita juga perlu sadar bahwa kedukaan masih ada dalam diri kita, melalui kita, atau tertutup dalam bayang-bayang kenyamanan kita. Duka hadir lewat kebiasaan yang sebenarnya telah menghancurkan diri maupun orang lain, sehinggadisadari atau tidaktelah membentuk diri kita menjadi salah satu pencipta kedukaan tersebut.

Walaupun demikian, bukan berarti kita berhak berkata, "Aku udah pernah disakiti, kok! Berarti boleh dong, kalau aku juga melukai orang lain!?" Guys, Paulus yang disiksa dalam kedukaan pun tidak berubah menjadi seorang penyiksa; begitu juga dengan Batman yang dibunuh orang tuanya namun tidak berubah menjadi seorang pembunuh. Take a look closer at Paul, yang—melalui suratnya mengenai kisah dukanyamengajak kita untuk segera "move on" dan tidak berhenti menyebarkan sukacita. 


Bagaimana dengan kita?

Mana yang lebih sering kita lakukan:

Menjadi Joker yang larut dalam kejahatan yang ada dalam dirinya?

Atau berusaha melawan kejahatan tersebut dengan menjadi pribadi yang lebih baik? 


“It’s not who I am underneath. But what I do that defines me” – Batman




Mengenai refleksi ini, sahabat saya berkata, “Kalau Batman berjuang untuk tujuan Yesus (menyebarkan kasih) dengan baju baja yang berharga beberapa juta dollar, mungkin saya juga bisa berjuang untuk tujuan yang sama dengan cara yang bisa saya lakukan.” Well, mari kita bersama-sama merenungkan, “Dengan kemampuan yang aku miliki (baik harta materiil dan non-materiil), apa yang dapat aku lakukan untuk melalui dukaku dan membawa senyuman bagi orang lain?”



Sampai bertemu lagi di bagian ketiga—sekaligus penutupulasan ini, kawan!

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER