Komunitas yang Tersakiti

Best Regards, Live Through This, 07 January 2020
Gereja yang aku bayangkan menjadi 'rumah' yang baik dan aman sebagai tempat pertumbuhan iman ternyata memiliki banyak luka di dalamnya.

Orang yang tersakiti cenderung juga akan menyakiti secara sadar ataupun tanpa disadari.


Aku pernah tersakiti dan bisa jadi, luka hati yang ditinggalkan dari pengalaman itu berpotensi untuk menyakiti orang lain. Tak hanya tersakiti, lebih-lebih aku sempat trauma untuk memulainya kembali. Jadi aku sadar ada yang perlu aku bereskan sebelum semua itu terjadi.
.
KOMUNITAS. Kita memang butuh berkomunitas namun yang terpenting, dimana dan dengan siapa saja kita berkomunitas? Sudahkah komunitas itu menjadi media dan sarana untuk setiap anggotanya bertumbuh, ataukah justru menjadi batu sandungan untuk saling menjatuhkan? Apakah kehadiran kita dalam suatu komunitas membawa perubahan lebih baik bagi anggota lainnya?

Hari-hari ini banyak drama kehidupan dimana kita berjumpa dengan orang-orang yang mengesampingkan hal yang autentik dalam dirinya sehingga mereka rela mengorbankan relasi demi kepentingan-kepentingan tertentu.
Itulah yang aku jumpai di beberapa komunitas, termasuk dalam komunitas gereja. Aku hidup dalam komunitas gereja sudah lebih dari 11 tahun sejak aku berusia 14 tahun hingga saat ini. Dimulai dari berkomunitas dalam komisi remaja, lalu jadi pengurus 2 periode, kemudian menjadi pembimbing remaja 2 periode, lalu diberi kesempatan untuk mendampingi dan membangun komisi pemuda di gereja.


Dalam proses tentunya sungguh tidak mudah, aku pikir dengan tergabung dalam komunitas gerejawi, seharusnya aku mendapatkan wadah bertumbuh secara iman dan kedewasaan, karena kita berada di lingkungan yang damai dan orang-orang yang dekat dengan dunia rohani & spiritualitas. Namun ternyata aku salah. Sesungguhnya  aku banyak mengalami pertumbuhan iman namun bukan semata karena lingkungan gereja yang aku anggap tempat paling rohani, justru melalui banyak hal yang mau tidak mau membuatku menentukan banyak keputusan di dalam komunitas tersebut.

Gereja yang aku bayangkan menjadi 'rumah' yang baik dan aman sebagai tempat pertumbuhan iman ternyata memiliki banyak luka di dalamnya. Ada bentrok, konflik, yang bukan hanya antarpribadi melainkan antarbidang pelayanan, kerap kali aku temui. Sungguh pedih memang melihat kondisi gereja masa kini, kian hari kian memburuk. Tampak gagah perkasa tembok bangunannya tapi kering dan kropos dalamnya. Inikah komunitas gerejawi yang sesungguhnya?

Masihkah banyak pertentangan, pertikaian dan perdebatan antarkubu yang tak ada ujungnya? Haruskah menunggu banyak terjadi bom atom yang siap meledak karena tumpukan-tumpukan banyak gesekan dan kekecewaaan di dalamnya? Lantas siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Malu rasanya melihat kondisi ini, bahkan karena aku ada dan terlibat di dalamnya. Tapi apalah dayaku, suara kami yang masih muda sering dianggap anak bawang yang tak didengar dentingan nyawanya.

Nyali yang seolah-olah dikerahkan untuk membangun komunitas saja sering terbentur karena tak sepenuhnya dipercayai oleh berbagai pihak. Dianggap sepele, remeh, masih terlalu muda. Selalu diminta diam, "Sudah diam saja, semua kan sudah selesai, tidak perlu diungkit-ungkit."  Kalau memang sudah selesai tentunya sudah tak ada lagi yang berselisih, namun nyatanya tetap saja saling memendam rasa dan menutupinya dengan wajah topeng, dan berakhir hanya menjadi kekesalan diri tanpa rekonsiliasi.

Seolah-olah semua masalah yang ada tak dianggap masalah, menutup dan membungkusnya di dalam peti kemas lalu dikubur dalam-dalam. Pernahkah terbayang apa yang terjadi jika kondisi realita ini terjadi terus-menerus hadir di dalam komunitas gerejawi? Apakah antargenerasi tetap meneruskan budaya yang telah mengakar ini? Sampai kapankah akan bertahan? Bahkan sampai akhirnya kehilangan banyak generasi pun tak mampu merubah situasi ini.

Dimanakah makna berkomunitas itu perlu kami perjuangkan? Masih adakah yang bisa dilakukan? Akankah hadir Sang Terang yang berani mendobrak dan membawa perubahan didalamnya? Semua masih MISTERI.

"Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran."
(1 Yohanes 1:6) 

Masih banyakkah kita yang enggan menengok, berempati, atau turun tangan karena lebih mengutamakan pencapaian hidup kita masing-masing? Seringkali banyak dari kita meyakini sedang mengerjakan panggilan dan (mungkin) pelayanannya bagi Tuhan. Tapi apakah benar kita ini sesungguhnya sedang mengupayakan kemuliaan bagi Tuhan jika apa yang dilakukan itu justru mencerai beraikan relasi dalam berkomunitas? Entah sampai kapan gambaran autentik akan diri terus dikubur dan disembunyikan.


Itulah Seni Drama berkomunitas sebagai realita kehidupan bergereja. Dimanapun kita berkomunitas saat ini aku yakin setiap komunitas pasti punya masalahnya masing-masing, karena itulah realita kehidupan yang perlu kita hadapi. Tapi satu hal yang perlu diingat, "Hidup dengan realita saja tidak cukup, butuh pengharapan untuk melihat realita menjadi sesuatu yang tidak perlu ditakuti terus-menerus karena ada harapan untuk tetap melangkah dan melanjutkan kehidupan."

Jika kita terus melihat masalah dan realita pilu saja, kita tidak akan mengalami pertumbuhan di dalam hidup. Hanya dengan pengharapan itulah setiap realita punya maknanya dan menjadi sebuah proses pertumbuhan iman demi bertahan dan berjuang melanjutkan kehidupan berkomunitas. Aku akui ini memang tidak mudah, tapi ini menjadi tugas kita bersama, terlebih kita sebagai generasi penerus untuk siap diproses didalam komunitas.

"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." 
(1 Korintus 15:58)

Jadi, jangan trauma dengan realita...

"Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan."
(1 Yohanes 1:5)


Tetaplah menari dalam hujan karena kita punya Sang Terang yang telah memberi kehidupan. Mari kita bangun persekutuan bersama Sang Terang yang memberi kehidupan. Percayalah Dia selalu ada mendampingi dan membimbing kita dengan apa yang kita usahakan dan perjuangkan demi KemuliaanNya.


Selamat berkomunitas,
Selamat mengalami pertumbuhan dan menjadi agen-agen perubahan di dalam komunitasmu.
Tuhan memberkati.

LATEST POST

 

Gambar ini adalah gambar salah satu bunga lidah buaya yang ada di rumah saya waktu itu. Tanaman lida...
by Lisye Nathania | 19 Sep 2020

Hi, Ignite PeopleHope this article finds you wellRasa-rasanya, sudah sekian purnama aku tidak berkis...
by Yessi Nadia Giatma Saragih | 19 Sep 2020

I’ve been through a lot this year if I would say. Canceled graduation ceremony (refer to &ldqu...
by Febe Kartika | 19 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER