JOKER: Membawa Duka Melalui Senyuman (Part 1)

Going Deeper, God's Words, 06 October 2019
“Salah satu kesalahan terbesar dalam hidupku adalah berfikir bahwa orang akan menyayangiku sama seperti aku menyayangi mereka”

Kita semua tentu tidak asing dengan DC Comics—salah satu perusahaan komik terbesar di Amerika yang menguasai tokoh-tokoh komik besar dan legenda seperti Superman, Batman, Wonder Woman, The Flash dan lain sebagainya. Karakter-karakter yang telah lahir di awal abad ke 20 dan telah berkarier selama hampir 1 abad ini seakan telah hidup dalam hati para penggemarnya dan saat ini merambah dunia animasi, game, bahkan film. Di awal bulan Oktober ini, publik kembali lagi digemparkan dengan sebuah film yang mengangkat sudut pandang lain untuk menceritakan karakter besar yang dianggap sebagai musuh bebuyutan dari Batman.

Saya yakin mayoritas publik setelah menonton film ini akan mendapatkan cara pandang baru; ia tidak lagi melihat Joker sebagai karakter penjahat yang murni bengis atau “jahat sepenuhnya”. Todd Philips selaku sutradara yang terinspirasi dari komik The Killing Joke karya Alan Moore berhasil menunjukan kisah awal mula Joker yang bernama asli Arthur Fleck. Dalam karya ini kita dapat memahami bahwa Arthur sendiri pada awalnya bukanlah seorang penjahat yang ingin mencelakakan orang lain. Justru ia hanyalah seorang badut jalanan yang dengan tulus menghidupi perannya sebagai pembawa kebahagiaan dan senyuman bagi orang lain. Namun segalanya berubah ketika Arthur sendiri tidak mendapatkan respons yang setimpal dari orang lain. Lingkungan sosial tidak menganggap keadaannya, bahkan memperlakukan dirinya sedemikian rupa buruknya hanya karena ia terlalu baik. Singkat cerita, di tengah keterpurukannya akibat lingkungan yang “seakan” tidak melihat keberadaannya, ia menemukan jati dirinya sebagai seorang penjahat dan pembunuh keji.

Satu yang menjadi menarik, setelah menonton film ini, saya menemukan sebuah komentar di Instagram yang berbunyi demikian:

Ya, ternyata ada kesamaan latar sosial antara film Joker dengan lingkungan kita di Indonesia. Orang-orang yang tidak mampu harus banting tulang di jalanan, pemilik Investasi menguasai pasar dan tidak peduli terhadap buruh-buruhnya, dan orang-orang bersikap apatis satu dengan yang lain. Apa jangan-jangan karakter Joker akan muncul di Indonesia? Bisa jadi, iya!

“Salah satu kesalahan terbesar dalam hidupku adalah berfikir bahwa orang akan menyayangiku sama seperti aku menyayangi mereka”—Joker

Hal ini terlihat sangat wajar. Sebagai manusia tentunya kita selalu berorientasi kepada keuntungan, dan hasil dari apa yang kita inginkan. Prinsip take and give sudah terwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, ketika seseorang memutuskan untuk mendekati seseorang, pasti dirinya berharap agar 'gebetan' memberikan perasaan yang setimpal. Dalam pekerjaan, usaha yang besar berbanding lurus dengan tujuan kenaikan pangkat atau memperoleh gaji yang tinggi. Dalam pelayanan, secara tidak sadar sering muncul harapan untuk diakui oleh orang lain dalam bentuk pujian.

Seringkali kita tidak sadar dan kebaikan yang kita lakukan berorientasi kepada timbal-balik orang lain dan dari sana kekecewaan juga bisa timbul. Kita lupa bahwa esensi mencintai dengan tulus adalah sebuah dorongan dari dalam diri yang benar-benar murni tanpa berharap pembalasan kasih dari orang lain.

“Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi.” — 1 Yohanes 3:11

Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen, memberikan kasih kepada orang lain merupakan sebuah keharusan bagi kita. Arthur muda sudah menyayangi orang lain, tetapi ada satu yang ia lupakan bahwa ia hidup dalam lingkungan yang sangat keras dan dapat membenturnya. Oleh karena itu, ketika membaca ayat ini kita jangan lupa ayat selanjutnya yang berbunyi demikian

"Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu."—  1 Yohanes 3:13 

Dunia yang telah mengatur lingkungan kita telah menghasilkan 'Gotham-Gotham' lain dan dapat membuat setiap dari kita menjadi Joker dalam cerita kita sendiri. Bahkan narasi ”orang baik itu cepat mati” atau “orang jujur tidak akan bisa bertahan lama” menjadi narasi guyonan-serius yang biasa kita dengar setiap hari dalam dunia studi maupun pekerjaan. Jangan sampai kita sebagai orang Kristen yang hidup dalam konteks Indonesia yang dikatakan hampir mirip Gotham, menjadi Joker-Joker yang lain. 

person holding pink rose

Photo by Diego PH on Unsplash

“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.”— 1 Yohanes 3:16

Inilah semangat cinta dan senyuman yang harusnya kita bawa dan berikan, yaitu semangat pengorbanan. Seperti halnya Yesus yang berkorban, baiklah kita menyadari bahwa esensi kita adalah mencintai yang BENAR-BENAR TULUS adanya. Terasa sukar untuk dilakukan, oleh karena itu diciptakannyalah musuh abadi Joker: Batman, yang akan dibahas dalam refleksi #2.



LATEST POST

 

“Kita lulus di saat yang kurang tepat.”Itu isi chat dari teman saya ketika saya bercerit...
by Rigia Tirza | 14 Jul 2020

Sudahkah kamu percaya kepada Tuhan?Sulit dijawab meski sering diutarakanTerkadang muncul keraguanWal...
by Nadya Brigita | 14 Jul 2020

Ignite People, kamu udah pernah dengar lagu “Si Lemah” karya RAN dengan kolaborasi merek...
by Grifith Mercia | 14 Jul 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER