Counter Culture, Sub Culture, dan Hipster

Best Regards, Live Through This, 20 April 2022
Artikel ini akan membedah budaya/tren anak muda dan pengalaman saya sebagai anak muda di zaman 90'an/menjelang milenium. Berikut pandangan saya untuk remaja-pemuda dan pelaku budayanya sebagai seorang Kristen di zaman sekarang.

Hai, Ignite People! Sudah pernah dengar istilah yang tertera pada judul di ataskah? Ini bukan tentang hustle culture, ya (artinya jelas berbeda), tetapi artikel ini akan membahas tiga budaya yang cukup populer di kalangan anak muda. (Bagi yang belum tahu dari budaya-budaya tersebut, selamat! Semoga Ignite People ada di jalur yang benar dan Tuhan menyertai kalian :)). Check it out!


Photo by Unseen Histories on Unsplash 


1. Counter Culture

"Counter Culture, atau Kontra-kebudayaan yang muncul pada 1960-an ini merujuk kepada sebuah fenomena kebudayaan anti-kemapanan yang mula-mula berkembang di Britania Raya dan Amerika Serikat (AS) dan kemudian tersebar di seluruh dunia Barat pada awal 1960-an dan pertengahan 1970-an, dengan London, New York, dan San Francisco menjadi titik panas dari kegiatan kontra-kebudayaan awal. Gerakan agregasi tersebut mencapai momentum saat Gerakan Hak Sipil Amerika makin bertumbuh, dan menjadi revolusioner dengan ekspansi intervensi militer ekstensif pemerintah AS di Vietnam. Selama tahun 1960-an ini, ketegangan sosial pun berkembang terkait masalah-masalah lainnya, dan melingkupi tuntutan-tuntutan terkait seksualitas manusia, hak asasi wanita, mode otoritas tradisional, eksperimentasi dengan obat-obatan psikoaktif, dan tafsiran berbeda terhadap Mimpi Amerika. Beberapa gerakan penting terkait masalah tersebut lahir dan memajukan kontra-kebudayaan pada 1960-an." - Wikipedia

Sederhananya, kontra budaya/counter culture adalah sebuah budaya yang menjadi popular yang sebenarnya dimaksudkan untuk mendobrak popularitas itu sendiri (menjadi berbeda dengan yang lain). Bagi anak muda pada tahun 1990-an, tentu kita suka mendengar musik-musik rock berdistorsi, musik-musik dengan beat dan lirik yang cepat dari yang direkam secara profesional (major label) sampai yang independen. Kita juga cenderung memilih gaya hidup yang ingin mengekspresikan kebebasan dari rumitnya pikiran lewat obat-obatan psikoaktif/psychedelic drugs, kebebasan seksualitas untuk mengeksplorasi hasrat cinta yang abstrak dari pasangan kita, sehingga muncullah sebuah gerakan budaya yang terkesan humanis dan liberal. Bahkan kita juga suka dengan adanya kebebasan yang menjadi impian anak muda dan remaja dari otoritas-otoritas yang mengikatnya (aturan-aturan agama, orang tua, sekolah, bahkan pemerintah) yang memberontak dan meraih kebebasan dari kesewenang-wenangan otoritas tersebut.


2. Subkultur

"Subkultur adalah sekelompok orang dalam budaya yang membedakan dirinya dari budaya induknya, sering kali mempertahankan beberapa prinsip pendiriannya. Subkultur mengembangkan norma dan nilai mereka sendiri mengenai masalah budaya, politik, dan seksual. Subkultur adalah bagian dari masyarakat sambil menjaga karakteristik khusus mereka tetap utuh. Contoh subkultur termasuk BDSM, hippies, goths, bikers, skinhead, dan hip-hopers. Konsep subkultur dikembangkan dalam sosiologi dan studi budaya." - Wikipedia

Budaya subkultur yang saya maksudkan di sini adalah turunan dari counter culture yang dimaksudkan di atas, tetapi mereka sudah mulai mengeksklusifkan diri mereka ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dalam budaya tersebut dengan orientasi pada kesamaan-kesamaan karakter dari musik, gaya hidup, dan sebagainya sehingga membentuk kumpulan-kumpulan entitas baru dari kesamaan identitas terebut. Dari sekumpulan entitas inilah sebagian dari mereka mengidentifikasi diri sebagai hipster/gerakan anti mainstream seperti penjelasan di poin berikutnya.


3. Hipster

"Hipster merupakan sekumpulan masyarakat subkultur yang memiliki kesukaan terhadap hal yang dianggap memiliki jiwa seni, intelektual, dan berbeda atau tidak mengikuti selera pasar bahkan jauh terkenal sebelum mencapai masa ketenaran. Hipster merupakan salah satu produk subkultur yang secara umum disepakati sebagai kelompok yang menolak arus utama (mainstream) terutama dalam hal selera busana, musik, film, dan produk kesenian lainnya. Hipster dikenal secara umum melalui gaya estetika mereka yang ironis, pemujaan berlebihan terhadap produk seni budaya, serta muncul dalam media terkini sebagai target rutin kritikan serta satir." - Wikipedia.


Photo by Bekky Bekks on Unsplash


Pengalaman Saya

Oke, setelah berkenalan dengan tiga budaya di atas, saya akan berbagi sedikit pengalaman sebagai anak muda yang besar pada era 90-an menjelang millenium. Saat itu, saya masih bersekolah di sebuah SMP Kristen di bilangan Jakarta. Sebagai remaja, secara tidak langsung, saya bersentuhan dengan budaya-budaya tersebut—budaya yang selama puluhan tahun melekat dan mengubah cara pandang saya terhadap dunia.

Pada masa itu, tiga budaya tersebut sangat populer jauh sebelum hallyu (atau Korean Wave)—Korean Pop dan sebangsanya—banyak menginspirasi anak muda saat ini. Saya memprediksi bahwa budaya tersebut—counter culture, subkultur, maupun hipster—dibawa oleh kawan-kawan saya dari lingkungan elit/orang kaya yang sering berlibur ke luar negeri. Bagaimana tidak? Mereka pulang dengan membawa majalah-majalah urban lifestyle terbitan luar negeri dan majalah-majalah musik yang populer saat itu, termasuk majalah-majalah lokal populer yang biasanya tidak se-up to date dari yang ada di luar negeri. Saya pun merasakan popularitas tiga budaya tadi di lingkungan saya, karena kawan-kawan saya menjadi populer dan terkenal di sekolah dengan mengadopsi hal tersebut. Budaya ini pun menyebar melalui musik dan gaya hidup menjadi sebuah "pakem" yang wajib supaya digemari teman-teman sejawat, baik dari teman-teman sekolah wanita sampai pria. Kenakalan dan pemberontakan dianggap keren dan populer. Musik berdistorsi, olahraga ekstrim, cabut sekolah, hingga gaya pacaran yang bebas menjadi pembicaraan populer yang saat itu mewarnai generasi kami. Hingga ketika kami mulai beranjak ke perguruan tinggi, saat itu internet dan online games mulai populer dari budaya tersebut sehingga kami merasakan kreativitas yang luar biasa. Sebagai anak muda, pikiran kami lebih terbuka dengan hal-hal yang baru—mulai dari pseudoscience, konspirasi, hingga spiritualitas kekinian. Yah, kalau tidak mengikuti perkembangan zaman, siapa yang mau berteman dengan kami? Apalagi sebagai remaja, pergaulan merupakan hal yang esensial, bukan?


Yang Gagal dan yang Berhasil Bertahan 

Melalui penjelasan dan sharing pengalaman di atas, saya mau sedikit fair/adil dalam menilai fenomena dari budaya tersebut. Harus diakui bahwa sebuah fenomena budaya melahirkan dampak yang positif dan negatif. Orang-orang yang sukses menjadi populer dalam budaya tersebut memiliki dampak positif terhadap sosial dan ekonomi, karena mereka berhasil membuatnya relevan dan produktif. Kreativitas mereka berhasil menghasilkan nilai ekonomi yang bermanfaat. Idealisme dari beberapa mereka juga luar biasa, karena sebagian di antaranya melahirkan ketekunan di bidang masing-masing sehingga tercipta identitas diri yang melekat dan unik dari lainnya. Sementara yang gagal justru menghadapi nihilisme dunia yang akut ketersesatan diri dan kehilangan makna dari hidup karena sedemikian terbukanya pemikiran mereka. Mengapa demikian? Karena (sayangnya) mereka tidak memiliki prinsip hidup yang kuat, sehingga hidup pun dijalani ala kadarnya, hanya mengikuti arus yang membawa mereka ke mana pun arahnya mengalir.


Kritik

Sedikit pandangan saya terhadap fenomena budaya tersebut adalah rentannya para pelaku (oke, deh, konsumen) budaya-budaya ini menjadi eksklusif dan diskriminatif. Belum lagi adanya struktur-struktur baru yang diskriminatif, bahkan terkadang abstrak dan tidak berdasar. Humanisme yang sempit mengartikan sebuah kebebasan yang kebablasan, yaitu tumbuhnya moralitas menjadi perspektif yang sangat subjektif dan mengerikan. Sebuah pandangan yang katanya anti diskriminasi menjadi sangat diskriminatif. Ironis, bukan?


Photo by Paul Torres on Unsplash  


Pendapat/Masukan bagi Anak Muda Kristen Saat Ini

Bagi remaja dan pemuda Kristen, kita harus realistis bahwa budaya itu ada—apa pun bentuknya—dan keberadaannya akan terus berkembang sesuai pergerakan zaman ini. Bentuk dan karakteristik budaya yang ada di dunia ini berbeda, seperti budaya di Indonesia yang memiliki warna berbeda dari budaya di Korea atau Jepang. Walaupun demikian, hendaklah budaya tersebut disaring sebersih mungkin hingga tak tersisa ampasnya dan kita mendapat manfaat tanpa harus antipati, serta tidak mengotori diri dari nilai-nilai moral Alkitab. Pikirkan kembali tujuan dan manfaatnya ketika mau menjadi populer, seperti "Haruskah aku menjadi populer hanya untuk mendapatkan penerimaan dari orang-orang melebihi Allah yang mengasihiku luar dan dalam?" Lagipula, Paulus pun pernah berkata demikian:


"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." - Roma 12:2

Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ”Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. - 1 Korintus 10:23


"Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." - 1 Korintus 10:31


Yakini diri bahwa otoritas itu ada dan jangan terbuai dengan mimpi-mimpi yang anarki karena di dalamnya ada monopoli kebenaran untuk diri sendiri, egoisme. Bersyukurlah dengan disiplin dan didikan orang tua dan guru-guru kita. Oke, ini kesannya klise dan mungkin alasannya belum bisa diterima seutuhnya. Namun, ada kalanya intervensi Tuhan hadir melalui kehadiran mereka—yang peraturannya tidak selalu bisa kita pahami saat ini. 

Mari kita juga belajar menyadari bahwa otoritas mutlak itu hanya ada di dalam Tuhan yang Mahabenar. Orang tua, pendeta, guru, dosen, kepala sekolah, bahkan pemerintah mungkin bukan otoritas yang mahabenar, sehingga kita juga perlu belajar memberikan kritik tanpa perlu menyakiti, dan membagikan masukan yang berarti dengan terus berkarya melalui berbagai sumber daya yang sudah makin canggih ini.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi berbeda dari apa yang dunia tawarkan, dan di dalam kemurahan-Nya Dia memandang kita baik di mata-Nya, keluarga, dan masyarakat melalui warna unik dari kehidupan kita yang beriman kepada-Nya.

Tuhan Yesus memberkati kita.

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER