Saya Seorang Pelacur

Going Deeper, God's Words, 10 September 2019
Lalu ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni." (Lukas 7:48)

Menyoroti adanya fenomena MOB MENTALITY, sekilas memang terkesan kurang baik. Banyak yang menilai kita nggak bisa hanya ikut-ikutan saja tanpa mengertai maknanya. Hanya sekadar ikut arus. Hanya sekadar dibaptis karena dari keluarga Kristen, sekadar datang ibadah karena sudah kebiasaan, sekadar ikut pelayanan karena ditunjuk. Banyak yang berpikir dan takut jika anak-anak muda memiliki mental seperti ini, maka mereka akan mudah untuk diombang-ambingkan. Tentu pandangan ini tidak salah.

Tapi kali ini saya ingin mengajak kita semua untuk melihat masalah MOB MENTALITY ini dari sudut pandang yang berbeda. Saya akan berikan contoh dari Alkitab adalah kisah seorang pelacur yang meminyaki kaki Tuhan Yesus dengan minyak wangi (Lukas 7:36-50). 

grayscale photo of woman crying holding her right chest

Photo by Kat J on Unsplash

Jika ini terjadi di masa sekarang, kita bisa menyimpulkan bahwa sesungguhnya wanita ini memiliki MOB MENTALITY. Karena dia tidak mengenal Yesus. Dia bukan berasal dari (kemungkinan) keluarga yang taat beragama. Dia sudah lama melakukan dosa. Dia tahu tentang Yesus karena kerumunan orang. Bisa jadi dia pernah mendengar ajaran Yesus sebelumnya tapi bisa dipastikan dia bukan orang yang benar-benar mengenal Yesus. Dia bukan orang percaya. Dia tidak memiliki pengalaman pribadi dengan Yesus seperti murid-murid Yesus lainnya. Jadi, satu-satunya alasan dia datang adalah karena dia mendengar tentang Yesus yang melakukan bla bla bla dan sedikit tentang pengajaranNya. Dia mengikuti kerumunan. Jika kita ada di sana, mungkin kita jadi orang-orang yang menghakimi dan nyinyir, ”Ih, apaan sih ikut-ikutan aja dasar pelacur!"

Kita dapat lihat di sini, pada ayat-ayat selanjutnya bahwa Yesus menyambut Dia dan berkata: “Dosamu telah diampuni.”

So, temen-temen semoga pembahasan singkat saya ini jelas. Menurut saya, MOB MENTALITY tidak salah. Itu hanyalah label yang diberikan oleh manusia. Orang bisa punya banyak tujuan dan motivasi dalam bergereja atau pelayanan tapi itu bukan lah urusan kita. Bukan hak kita untuk menghakimi.

Kita tidak tahu apa yang sudah dilalui oleh seseorang selama masa hidupnya. Kita tidak tahu betapa hancurnya hidupnya sampai akhirnya dia mau datang ke gereja, walau hanya sekedar diajak teman tanpa ada iman percaya yang kuat. Tugas gerejalah untuk menggembalakan domba-domba ini. Orang-orang yang tidak tahu biasanya berkata, "Ngapain sih ke gereja, ngapain sih pelayanan?" Alasan mereka bisa bermacam-macam tapi gereja harus bisa mengarahkan tanpa menghakimi. Ketika mereka sudah masuk dalam lingkungan gereja, gereja harus mampu merangkul mereka. Orang-orang ini bukan orang-orang datang dari latar belakang iman yang kuat (kebanyakan). Mereka bisa gampang mundur dan kecewa. Tugas gereja untuk terus memantau mereka. 

three woman sitting at each other near flowers

Photo by Sweet Ice Cream Photography on Unsplash

Jangan terlalu asyik dengan pelayanan, lingkungan atau orang-orang terdekat yang sudah lama di gereja. Tengok-tengok lagi siapa yang perlu dikunjungi, dikuatkan, didoakan di antara jemaat yang kalian rasa punya MOB MENTALITY itu. Banyak alasan. Bisa jadi karena merantau udah lama ga ke gereja, sekali diajak ke gereja, sekali mau, ya udah ikut aja daripada ga ada kegiatan. Tapi tujuan utamanya masih belum tau, masih kabur karena kebanyakan kerja dan merantau, sendiri ga tau ngapain.

Bisa jadi juga dari orang-orang yang kalian labeli memiliki MOB MENTALITY ini, tidak menutup kemungkinan dari sekadar ikut-ikutan akhirnya mereka justru bisa benar-benar bertumbuh, benar-benar cari Tuhan dalam hidupnya, jadi berkat. Tidak ada yang tahu. Ada yang tanpa diarahkan, mereka bisa terbangun secara sendirinya iman mereka, dengan melihat teman-teman mereka yang pelayanan kok mereka baik ya, ramah, tidak kasar. Mungkin bisa dari situ dia akan semakin ingin mengenal, tidak hanya gereja dan teman-temannya tapi juga mengenal Yesus secara pribadi.

Kiranya artikel ini bisa menjadi perenungan untuk kita semua. Kita tidak harus selalu merasa diri paling benar, suka melabeli orang lain. Jika kamu memang orang yang aktif di gereja, jangkaulah teman-teman yang masih butuh perhatian. Jangan jadi orang yang hanya nyaman sendiri, yang tanpa sadar merasa lebih ingin dilayani daripada melayani. Berpikir bahwa ‘Mereka dong yang harus gini gitu gini gitu.’ Jika kamu adalah tuan rumah di gereja, pengurus, aktivis coba lah lebih membuka hati dan tangan untuk mereka yang baru datang ke rumahmu.

[MonPet]

LATEST POST

 

Belakangan ini saya sering mendengar lagu dari Kaleb - It’s Only Me yang menceritakan tentang...
by Yessica Anggi | 19 Sep 2021

Di berbagai media online, kita bisa menemukan pembahasan tentang mencari jodoh atau bahasa kerennya...
by Yukiko Suhendra | 19 Sep 2021

"Wah, ganteng banget!”“Lagunya bagus banget!”"Dia narinya keren, energik...
by Chelsia Devina | 19 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER