Happiness is a Joke (That’s Why We Need to Laugh)

Best Regards, Live Through This, 03 April 2020
"Hati yang gembira adalah obat." (Amsal 17:22)

Bahagia itu konsep yang aneh, definisi umumnya adalah keadaan di mana kita menikmati hidup dan merasakan bahwa kenyamanan dan kebutuhan kita terpenuhi bahkan mungkin lebih sehingga kita bebas dari kekhawatiran. Saya ingin memfokuskan definisi kebahagiaan ini pada kata “keadaan”, atau dalam bahasa inggris “state of mind”. Ya, nyatanya kebahagiaan itu bukanlah suatu emosi semata tetapi merupakan keadaan menyeluruh dari aspek kehidupan kita.

Saya bukan psikolog, namun saya akan meminjam beberapa kosakata psikologi dalam tulisan ini.

Dalam proses menulis, saya mendapatkan satu definisi yang menurut saya lebih menggambarkan konsep soal bahagia dibandingkan dengan definisi umum yang sebelumnya saya gabungkan dari penemuan di internet. Menurut saya bahagia itu teknisnya: hidup tanpa khawatir dengan emosi yang stabil positif.

Ya, karena tidak ada yang namanya kepastian dalam hidup, satu hari penuh berkat bisa berubah jadi setahun penuh ujian seperti yang sedang kita alami di tahun 2020 ini. Bila emosi kita ikut naik-turun dengan ekstrim bisa saja kita mengalami mood swing (satu saat senang, langsung berubah menjadi sedih dll.) dan menurut saya inilah yang seringkali membuat kita tidak memiliki hubungan positif, semangat produktif, dan lain-lain. Kunci kebahagiaan ada dalam mengendalikan emosi.


Kecerdasan Emosional Menuju Diri yang Stabil

Sama seperti teman-teman, saya pernah memiliki satu perempuan yang sangat memenuhi kriteria Amsal 31:10-31 (silakan bahan gombalnya 😊). Saat itu saya dapat membayangkan kami hidup, tumbuh dan menua bersama. Namun peer-pressure, tuntutan akademis yang semakin tinggi serta dinamika hidup pada saat itu membuat saya tidak dapat mengendalikan emosi dan terus merasa khawatir: “Aku layak gak sih buat dia? Kayaknya engga deh” – “Wah nilaiku enggak ngejar nilai dia”-“Wah pelayanannya lebih aktif, dia lebih populer di gereja.” Karena saya khawatir, saya tidak sempat menikmati saat-saat yang menyenangkan karena ketika saat itu datang yang ada di pikiran saya hanya kekhawatiran akan bagaimana menghadapi masa sulit.

Seperti yang kita ketahui, hubungan yang baik itu dibangun dengan berbagi energi positif – saling mendukung, saling melengkapi, kata kuncinya: saling. Bila cuma ada satu yang berbagi energi positif dan satunya hanya berpikiran negatif, maka energi itu hanya disedot oleh satu pihak – kelak yang membagikan positivitas tersebut akan merasa lelah dan mulai tersedot ke pikiran-pikiran negatif dan ujungnya khawatir tidak dapat memberi energi kembali bagi pasangannya – kalau tidak ada lagi hal positif dalam hubungan itu maka untuk apa bertahan?

Tidak membantu pula, pada saat itu saya tidak suka bercanda; semua dianggap serius, sehingga menjadikan saya tidak fleksibel – kaku, sulit untuk membina hubungan. Hingga akhirnya di masa kuliah saya mulai bergabung dengan grup komedi kampus. Saya mulai mempelajari satu “alat bantu” untuk mengendalikan emosi saya: humor.

Nah, bagaimana humor dapat membantu kita jadi bahagia? Sederhananya, humor membantu kita mengkontekstualisasikan pengalaman kita ke dalam perspektif baru. Sesuatu yang seharusnya hanya menyedihkan dapat diberi makna baru dalam humor. Simak saja acara televisi seperti The Simpsons dan South Park yang sukses menampilkan problematika masyarakat Amerika dalam bungkusan humor setiap minggunya. Mereka membahas tema pengangguran, inkompetensi politisi dan kadang kesalahan diri kita sendiri yang berakar dari kemalasan. Humor membantu kita menghadapi kenyataan yang tidak sesuai keinginan kita.

Salah satu yang saya alami sendiri adalah bagaimana candaan me-rekontekstualisasikan pengalaman buruk saya. Saya belajar membingkai pengalaman bodoh sebagai suatu hal yang cukup ditertawakan dan bukan untuk diulangi kembali.

Dengan humor, kita dapat menjadi lebih fleksibel. Ingat, sesuatu yang terlalu kaku dan tegang lebih mudah putus dan dipatahkan. Humor dan mentertawakan hidup membantu kita untuk duduk bersama masalah tanpa memandangnya dalam kacamata kekhawatiran dan merampas kekuatan yang dimiliki masalah untuk membuat kita bimbang.


Humor dalam Kristen

Howard R. Macy, profesor bidang studi keagamaan mengatakan bahwa humor dalam Alkitab memang tidak berbentuk seperti cerita komedi yang jelas nampak secara eksplisit bagian 'kelucuannya' tetapi lebih condong “bersifat komedik”.  

Ada dua teori komedi paling populer untuk menjelaskan humor di Alkitab:

Yang pertama adalah teori komedi inkongruen, intinya: komedi tercipta ketika kita menyadari narasi yang diberikan kepada kita tidak masuk logika awal.

Contoh:

  • A white man, indian women, and an Atheist went into a bar, then came three muslims
  • No bad thing happened! That’s what you get when no one is a racist

Sebaliknya, dalam komedi kongruen, guyonan mengikuti logika narasi seperti di meme berikut ini:


Bila melihat dari perspektif itu, menurut Macy dan rekan-rekannya terdapat beberapa cerita yang bersifat komedik dan nyeleneh tapi masih tetap mengagungkan kedudukan Tuhan. Misalnya tentang Sara yang tertawa akan pernyataan Tuhan bahwa ia akan memiliki anak meski usianya sudah tua, dan benar terjadi – atau cerita gadis-gadis bijak dan bodoh. Tentu komedi dalam Alkitab sulit ditemukan akibat perbedaan bahasa penulisan dan terjemahan, sesuatu yang mungkin secara implisit lucu bagi orang di masa lalu mungkin tidak dimengerti oleh generasi kita.

Diskusi kita pun sampai kepada Yesus sendiri, apakah Yesus dapat memberikan humor? Atau dia adalah sosok karismatik kaku yang selalu tenang saja seperti di imajinasi kolektif kita? Mengingat Yesus memiliki pemikiran yang bisa dianggap “berbeda” dari zamannya, bukan tidak mungkin bila cerita Yesus dan perempuan yang berzina dalam Yohanes 8:7 memiliki dampak yang sama dengan meme “Supa Hot Fire” dimana kata-kata Yesus yang singkat “barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang melemparkan batu kepada perempuan itu” mengundang decak kagum saking benarnya perkataan-Nya. Tak seperti yang biasa dilakukan orang masa itu, Yesus mengeluarkan pemikiran revolusioner dengan cara yang cerdas. Kembali, bukan tidak mungkin Ia menggunakan komedi sarkastik dan inkongruen dalam menyampaikan ajaran-Nya.

Jadi, Kristen tidak perlu kaku – dengan fleksibel justru perspektif Kristen dan konsep-konsepnya dapat menyentil topik-topik yang edgy namun memiliki makna filosofis yang mendalam. Cek saja di youtube dengan kata kunci “Dank Christian Memes”, atau di akun GKI Garis Lucu.


Humor Itu (bisa jadi) Tidak Kudus

Sebagai orang Kristen, ini merupakan sesuatu yang perlu kita pertahankan: pemikiran dan perbuatan serta perkataan kudus. Menurut saya membahas topik-topik edgy juga tidak boleh kelewat batas.

(buat yang belum tahu, edgy itu bisa diinterpretasikan sebagai “di ujung batasan normal” seperti membicarakan topik yang tabu dengan terbuka, mencoba fashion yang tidak umum dll)

Hindari dari kebiasaan membuat joke dengan sesuatu yang kasar atau tidak berkenan di mata dan telinga sesama dan juga Tuhan. Selain berdosa, secara prakteknya pun joke tersebut tidak akan memberikan kesan yang mendalam.

Kembali ke Prof. Macy; et.al, bila dilihat dari perspektif komedi, Alkitab memiliki humor yang terstruktur dan memiliki pesan filosofis yang mendalam – hal ini membuat kekristenan pada masa itu revolusioner karena tidak terlalu kaku walau masih mempertahankan kontrol diri. Bila memang Yesus menggunakan sarkasme untuk mengajar orang yang menghakimi si wanita yang berzina, sarkasme itu keluar dengan elegan (sopan, santun – tanpa bahasa yang konfrontatif) dan dengan pesan yang berlandaskan kebenaran. Hal ini bukan asal jeblak dan kasar, pastinya sudah dipikirkan matang dan hati-hati. Kita bisa menerapkan hal ini ketika bercanda.


Diri yang Stabil Menuju Bahagia Jangka Panjang

Oke, saya sengaja memasukkan bagian sebelumnya untuk mengingatkan kita bahwa komedi juga berpotensi membuat kita melakukan kesalahan yang ujung-ujungnya membuat kita kembali khawatir karena lidah kita membuat masalah. Kembali ke topik utama, dengan diri yang stabil kita bisa mencapai kebahagiaan.

Bila kamu memiliki pengalaman atau masa lalu buruk (mungkin), humor dapat membantu kamu membingkai ulang pengalaman tersebut sehingga kamu bisa hidup dengan menerima kenyataan itu. Pengalaman itu memang bagian hidup kita, namun cukup diketawain aja dan jangan terulang lagi.

Bahagia itu seperti memiliki kapal yang kuat. Walau badai menghajar dan cuaca tak mendukung – kita akan tenang karena tahu kapal kita akan bertahan. Kita tidak khawatir.

Humor dapat menjadi cara kita menemukan jalan kita kembali dalam menjalani rencana Tuhan. Rileksasi sejenak agar tidak melulu tegang, melepaskan penat agar kita bisa mengisi diri kita kembali baik dengan firman maupun bentuk lain dari kebenaran.

Beberapa ahli juga menyebutkan bahwa Alkitab dan orang Kristen tidak harus anti-bercanda. Toh ternyata, Tuhan pun bisa ditemukan dalam tawa,

So when you think that your life is a joke,

Yes it is! a funny one!

So I'll sit next to you and we can laugh together.

- Happy late April Fools Day!   -




Disadur dari:


LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER