Allah yang Tidak Melepaskan: Suara Sumbang Nabi Yeremia

Going Deeper, God's Words, 25 May 2020
Allah bukan sekedar dongeng pengantar tidur, tetapi juga cerita “horor” yang mengganggu tidur kita.

Berbicara tentang Allah atau Tuhan, pikiran kita secara tidak sadar langsung merujuk kepada sebuah konsep tentang Pribadi yang Mahabaik. Pribadi yang sempurna, yang selalu memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia, Pribadi yang membawa kebahagian, memberikan jawaban akan permasalahan umat manusia. Tidak jarang Ia dinobatkan sebagai Pribadi yang melepaskan kita dari berbagai belenggu penderitaan. Ya, saya kira ini hal yang wajar-wajar saja bagi kita dalam menggambarkan “Yang Transenden” itu.

Photo by Bonnie Kittle on Unsplash 

Namun, bagaimana bila pada faktanya, Allah bertindak terbalik dari gambaran tersebut?

Saya kira, inilah yang disuarakan oleh Yeremia, dan yang dialami oleh orang-orang Israel pada zaman Nabi Yeremia.

Yeremia 28:1-17 mencatat tentang sebuah pertentangan antara Yeremia dengan seorang nabi bernama Hananya bin Azur. Di Bait Suci, dan di tengah kerumunan para nabi, imam-imam, serta rakyat Yehuda, dengan penuh percaya diri, Hananya berseru, 

“"Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu.” (Yer 28:2)

Wah, siapa sih yang tidak tergugah dengan seruan Hananya yang membawa kabar kesukaan bagi umat saat itu? Suara Hananya yang lantang ini seakan memberikan sebuah harapan akan kelepasan dari ancaman Babilonia bagi bangsa Yehuda.

Saya kira, jika kita ada pada masa itu, sangat mungkin kita pun akan merespons dengan penuh semangat, sambil meneriakan “Amen!” Bukankah suara merdu Hananya yang menggelegar ini sejalan dengan konsep atau proyeksi kita tentang Allah? Apalagi dengan keadaan kita saat ini yang harus berhadapan dengan pandemi, bahkan berbagai krisis yang ada. Tentu jika ada seorang yang menyuarakan suara kelepasan, maka dengan senang hati kita akan meneriakan “Amen!”

Lalu bagaimana dengan seruan Yeremia? 

“Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Kuk besi akan Kutaruh ke atas tengkuk segala bangsa ini, sehingga mereka takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel; sungguh, mereka akan takluk kepadanya!”  (Yer 28:14)

Ternyata seruan Yeremia berbanding terbalik dengan seruan Hananya. Bayangkan, betapa kesalnya orang yang tadinya mendengar suara merdu Hananya, tiba-tiba mendengar suara sumbang Yeremia. Hananya menyerukan kedamaian dan kelepasan, Yeremia malah menyerukan penderitaan dan penindasan. Bukankah ini suara sumbang? Bukankah apa yang diserukan oleh Yeremia berbanding terbalik dengan proyeksi kita yang umum tentang Allah? Bukankah Allah yang disuarakan Yeremia bukan Allah yang baik, dan bukanlah Allah yang melepaskan?

Bagaimana seandainya kita ada pada saat Yeremia mengumandangkan suara sumbangnya? Atau bagaimana jika Yeremia ada hari ini dan menyerukan seruan pahit seperti itu? Misalnya, “Beginilah Firman Allah semesta alam. Kalian semua akan mengalami krisis ekonomi yang fatal, dan akan mati terpapar Covid-19, kelaparan, dan sisanya akan menjadi budak bangsa asing!” Kira-kira, bagaimana respons kita?

Saya rasa, botol kaca bisa saya lemparkan kepadanya jika menyerukan itu semua di hadapan saya. Itulah suara sumbang Yeremia. Maka tidak heran, jika ia sampai dipukuli serta dipasung oleh imam kepala rumah Tuhan yang bernama Pasyhur (Yer. 20:2), dimasukan ke dalam perigi (Yer. 38), bahkan berulang kali diburu untuk dibunuh. 

Akan tetapi, fakta membuktikan bahwa suara merdu ala Hananya, justru adalah kepalsuan. Apa yang diserukannya tidak lebih daripada cotton bud untuk mengatasi gatalnya telinga umat saat itu. Sebaliknya, suara sumbang Yeremia ternyata adalah kebenaran. Kita tahu bersama bahwa Allah tidak melepaskan bangsa Yehuda saat itu dari tangan Nebukadnezar, raja Babel. Sebaliknya, Allah membawa umat-Nya ke dalam pembuangan di Babel, menjadi budak yang menderita dalam impitan imperial Babilonia saat itu. Pembuangan ini yang kita kenal dengan “70 tahun masa pembuangan” atau “pembuangan kedua.”

Photo by Birmingham Museums Trust on Unsplash 

Apa yang terjadi? Di mana Allah yang baik itu? Di mana Allah yang melepaskan itu? Mengapa Ia begitu kejam?

Terlepas dari alasan keberdosaan bangsa Yehuda saat itu yang menjadi alasan pembuangan mereka ke Babel, saya kira kita perlu mendefinisikan ulang pemahaman kita tentang Allah.

Suara sumbang Yeremia ternyata adalah suara merdu bagi Allah. Suara sumbang ini mengajarkan kita bahwa Allah tidak dapat dipahami dalam batasan konsep manusia. Allah yang baik tidak sama dengan imajinasi manusia tentang apa itu baik. Allah justru hadir tidak sebagai jawaban yang diinginkan umat, melainkan lawan dari apa yang diharapkan umat. Oleh karena itu, berhentilah mendomestifikasi Allah ke dalam konsep-konsep kita yang terbatas. Biarkan Ia menjadi Allah yang “liar,” yang tidak dapat dibatasi pemahaman manusia, sebab Ia bukan hasil proyeksi kita, melainkan kitalah hasil ciptaan-Nya.

Dalam lantunan doa-doa kita, dalam narasi-narasi kita tentang-Nya, marilah kita “lepaskan Allah” dari batasan keinginan kita. 

Allah tidak selalu hadir dalam lagu “Nina bobo.” Kadang Ia pun hadir dalam teriakan- teriakan tanpa nada yang tepat. Ya, Allah dapat menghadirkan diri-Nya melalui suara-suara sumbang yang mengganggu kita. Dengan demikian, berhentilah larut dalam lantunan narasi manis tentang Allah, sebab Allah bukan sekedar dongeng pengantar tidur, tetapi juga cerita “horor” yang menggangu tidur kita.

Ia adalah Allah dalam cerita komedi, maupun dalam cerita tragedi.

Kabar baiknya, sekalipun Ia tidak melepaskan kita dari penderitaan, namun Ia selalu hadir merengkuh kita. Allah yang melepaskan kita dari penderitaan adalah Allah yang sama, yang menemani kita dalam penderitaan. Lebih daripada itu, Ia adalah Allah yang ikut menderita, bahkan jauh lebih menderita dari kita. Itulah yang dipersaksikan Kristus di atas “takhta” salib-Nya.

LATEST POST

 

Memasuki kelas 11, aku mulai dihadapkan dengan berbagai kepengurusan ekstrakurikuler di SMA aku send...
by Jerell Michael Cussoy | 02 Jul 2020

“Biasanya, anak muda itu kalau tidak underused, ya overused,” kata seorang narasumb...
by Sandra Priskila | 02 Jul 2020

Your relationship with God is more important than anything because you know for sure that's...
by Gracella Fidelia Hardy | 29 Jun 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER