Menghadapi Kehidupan yang Serba Ambyar

Best Regards, Live Through This, 26 March 2020
"Ambyar" secara harfiah dapat diartikan, pecah berkeping-keping. Ambyar juga dapat berarti carut-marut, atau ga beraturan.

Siapa yang tak kenal Didi Kempot? Musisi legendaris ini berhasil membuat setiap hati yang mendengar lagunya menjadi ambyar atau hancur berkeping-keping melalui lirik dari lagu-lagu yang ia ciptakan. 

Contohnya saja, lagu yang paling populer tahun lalu yang dibuat versi cendol dawetnya,"Pamer Bojo". Lagu ini berkisah tentang seseorang yang rindu terhadap pasangannya yang sudah tidak lama bertemu karena sebuah jarak atau permasalahan. Namun, ketika bertemu ternyata kekasihnya telah memiliki pasangan lain sehingga membuat ia patah hati dan merasa dikhianati. Sangat ambyar hati saya ketika melihat makna mendalam dari lagu ini.

Tahun 2019, Didi Kempot a.k.a "Godfather of the Brokenhearts" melakukan comeback (mengeluarkan album dan manggung lagi). Dari situlah akhirnya bermunculan pemuda-pemudi bangsa yang menggandrungi lagu-lagunya. Mereka pun menjadi penggemar Didi Kempot , dan menjuluki diri mereka sebagai "Sobat Ambyar" -  dan dari situlah kata "ambyar" menjadi viral.


Godfather of Broken Heart, Didi KempotKalau dipikir-pikir, kenapa anak-anak muda bisa menyukai lagu-lagu Didi Kempot, bahkan beberapa dari mereka menyebut dirinya sebagai "Sobat Ambyar" ? 

Salah satu jawaban yang muncul adalah karena lagu-lagu yang dibawakan oleh 'Lord Didi' ini sangat lekat dan dekat dengan apa yang mereka rasakan. Mereka sadar bahwa mereka adalah orang-orang yang hidupnya ambyar. Sehingga, mereka merasa bahwa kegundahan hatinya terwakilkan oleh lagu-lagu Didi Kempot.

Merasa gak sih, kalau kehidupan kita penuh dengan hal-hal yang ambyar. Gak cuman tentang ambyarnya hati ini ketika diputusin pacar, dicampakkan kekasih, atau ditolak cewek, tapi juga banyak pergumulan dan permasalahan yang membuat hati, pikiran, atau hubungan kita dengan orang lain menjadi ambyar (gak beraturan atau gak jelas).

Hidup kita terasa ambyar ketika menerima penolakan dari lingkungan. Ketika kita udah belajar mati-matian untuk ujian, masih dapat hasil yang tidak memuaskan  dan ujian ditiadakan . Ketika ditanya, "Pacarnya mana?", atau, "Kapan nikah?", padahal masih jomblo. Ketika yang buat kesalahan dia, yang disalahin kita. Ketika kita dikecewakan oleh orang lain. 

Dan masih banyak lagi hal yang membuat kita menjadi ambyar.

Photo created by jcomp - www.freepik.com

"Belum selesai satu masalah, udah muncul aja masalah baru. . ."

Yang saat ini membuat segala sesuatu menjadi ambyar adalah, Covid-19. Saat ini, virus Covid-19 sedang menjadi ancaman besar di berbagai negara, termasuk Indonesia; memaksa kita untuk melakukan physical distancing sehingga menghambat kita berhubungan dengan orang lain. Hal ini menimbulkan banyak kesalahpahaman ketika berkomunikasi. Semua-muanya jadi ribet. 

Ada juga orang-orang yang tidak bisa bekerja kalau meninggalkan tempat kerjanya, sehingga harus tetap bekerja di luar rumah dalam situasi yang genting ini. Hal itu tentu membuat hati mereka gelisah. Atau para mahasiswa perantauan yang terjebak pilihan antara ingin pulang atau tetap berada di kost-an. Kalau pulang, takut membawa virus kepada orang-orang di rumah, kalau tetap di kost-an, khawatir. rindu, dan takut akan orang-orang di rumah. Sangat ambyar, bukan?

Ini juga dirasakan saat ini di gereja, di mana semua kegiatan yang melibatkan orang banyak harus dibatalkan. Gereja tempat saya melakukan pelayanan sekarang, terpaksa harus membatalkan semua kegiatan hingga Agustus tahun ini. Berarti kegiatan Paskah dan camp setiap komisi harus dibatalkan. Padahal, beberapa panitia dari kegiatan tersebut sudah melakukan rapat dan sudah membicarakan konsep hingga menentukan pembicara. Ambyarnya kuadrat.

Banyak hal di dunia ini yang kita sadari, menjadikan hidup kita senantiasa diliputi oleh masalah. Terus, gimana caranya biar kita bisa terus bahagia atau minimal bisa tersenyum dalam kehidupan kita yang serba ambyar ini?

Mungkin kita berpikir, mengapa pergumulan-pergumulan terus menghampiri saya. Apalagi saat ini virus Covid-19 menjadi sesuatu yang amat ditakutkan. Saya pun menemukan ayat yang biasa kita jumpai ketika menemukan suatu masalah atau musibah.

"Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."

(1 Korintus 10 : 13)

Bukan artinya ayat ini menilai pergumulan setiap orang adalah hal biasa, namun lebih untuk mengubah cara pandang kita terhadap pergumulan yang muncul. Seringkali kita hanya berfokus pada masalah-masalah yang kita hadapi. Jarang sekali kita berfokus pada solusi ataupun jalan keluar yang harus kita tempuh untuk menyelesaikan masalah tersebut. 

Iya.. mungkin semua hal yang ambyar udah biasa kita alami. Tapi ada saja pergumulan yang sulit dibilang sebagai pergumulan yang "biasa". Wajar sih, kalau ada yang bilang gitu. Mungkin ini pertama kalinya dia mengalami pergumulan tersebut. Tapi percayalah, seperti yang ditulis Paulus di ayat tersebut, bahwa Allah setia dan tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Percayalah, ada Tuhan yang senantiasa menuntun kita untuk menyelesaikan semua pergumulan dalam hidup kita.

Photo by Ben White on Unsplash 

Mungkin, kita gak tau sekarang kenapa 'kok hidup kita ambyar banget. Seolah-olah hidup kita merana terus. Sedih terus. Tetapi, cobalah untuk melihat kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Ketika kita menemukan kebaikan Tuhan dalam hidup, maka kita dapat bersyukur atas kehidupan yang sudah Tuhan beri. Dan ketika kita telah bersyukur atas kehidupan ini maka dengan mudah kita dapat menikmati segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Tentu saja ketika kita menikmati kehidupan kita, maka kita akan lebih mudah untuk merasa bahagia. 

Ada satu hal menarik dari setiap penampilan Didi Kempot ketika membawakan lagu-lagunya yang ambyar. Jika kita memperhatikan setiap konser atau performance dari Didi Kempot, maka setiap penonton yang hadir pasti akan berjoget dengan bahagia, mendengarkan hentakan gendang dan lantunan orkes yang mengiringi setiap lirik dari lagu-lagu Didi Kempot yang menyayat hati tersebut. 


Sumber : Kompas.com

Hal ini mengajarkan kita tentang suatu sikap, bahwa dalam menghadapi kehidupan yang serba ambyar, kita juga harus menikmatinya (enjoy), menghadapinya dengan senyuman dan penuh harapan dan tidak dengan marah ataupun menangis. 

Eitss... bukan berarti kita tidak boleh nangis atau marah, ya. Tapi seperti apa yang dikatakan Hindia, "Bersedihlah secukupnya", maka jangan terus jadikan tangisan (dan amarah) sebagai cara kita menghadapi kehidupan yang penuh dengan pergumulan dan masalah.

"Kehidupan kita yang ambyar ini, jangan hanya diisi dengan tangisan dan amarah, tanpa ada keceriaan. Yang ada malah kehidupan kita makin ambyar."

So, marilah menjadi pribadi yang dapat menerima dan menikmati hidup yang serba ambyar ini, seperti "Sobat Ambyar" yang terus berjoget selama tembang-tembang DIdi Kempot dinyanyikan. Dan jangan lupa untuk membagikan semangat itu kepada teman-teman kita yang juga hidupnya penuh pergumulan dan masalah.

Selamat berjuang menjadi agen kebahagiaan di tengah kehidupan yang serba ambyar!

 

LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER