Di saat aku merasa ditolak

Best Regards, Live Through This, 20 July 2020
"If we spend all our time brooding, we won't be ready when it counts!" - Elarra (Final Fantasy Record Keeper)


“...We regret to inform you that your application has not been successful.”

Sepenggal kalimat (mungkin tidak persis, tetapi seharusnya mirip) tersebut masih saja menempel di otakku saat lamaranku untuk kuliah S1 di National University of Singapore (NUS) serta Nanyang Technological University (NTU) ditolak, walaupun lebih dari empat tahun telah berlalu sejak kalimat tersebut diutarakan oleh admission officer dari universitas yang bersangkutan via email. Kalau aku jujur, aku merasa sangat down dengan keputusan tersebut. Utamanya, aku seakan menjadi merasa bodoh, merasa menjadi seorang yang gagal dalam hidup. Apalagi saat melihat teman-teman yang les bersamaku berhasil dipanggil untuk tes masuk dari universitas-universitas tersebut (dan diterima pula!). Perasaan tersebut juga masih membekas hingga saat ini; aku masih merasa bodoh setiap kali aku melihat teman-temanku meraih pencapaian yang tidak dapat aku raih, seperti Best Grade Scholarship dari kampusku (beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa yang meraih Indeks Prestasi / GPA tertinggi dalam satu kelas). Aku pun terkadang masih sering merasa bersalah, kenapa aku malas-malasan pada saat aku masih SMA; aku terlalu banyak bermain game disaat aku seharusnya belajar untuk ujian, sehingga nilai saat aku SMA tidak cukup untuk diterima di salah satu dari dua kampus impianku tersebut.

Tapi sebelumnya, apa kata Alkitab mengenai penolakan?

Berbicara soal penolakan, satu cerita yang langsung hinggap ke otakku itu lagi-lagi mengenai cerita Kain dan Habel, cerita yang aku kutip di tulisanku sebelumnya. Pada saat persembahan korban dari Habel 'diterima' Tuhan namun, persembahan dari Kain ternyata ditolak Tuhan. Aku pun langsung teringat  pada Kejadian 4:4-5: 

“Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.”

Kasus lain mengenai penolakan yang aku pikirkan adalah pada saat Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menolak untuk menyembah berhala yang dibangn oleh Raja Nebukadnezar. Padahal, semua orang yang dipanggil Raja Nebukadnezar menyembah patung tersebut setelah sang Raja memberikan perintah untuk menyembah patung yang ia bangun. Nah, kasus ini bertolak belakang dengan kasus Kain dan Habel, serta kasus penolakan yang aku hadapi saat SMA. Raja Nebukadnezar mendapat penolakan dari manusia yang memiliki kasta yang di bawahnya. Sedangkan, Kain mendapatkan penolakan dari Allah sendiri; Allah yang paling berkuasa di dunia ini! Menariknya, kedua penolakan tersebut memiliki konsekuensi yang mirip; penolakan tersebut membangkitkan amarah dari pihak yang merasa ditolak. Kemarahan Kain memacu dia untuk membunuh adik kandungnya sendiri, dimana kemudian ia dihukum oleh Allah atas perbuatannya tersebut. Sedangkan, Raja Nebukadnezar menjadi murka dan melempar Sadrakh, Mesakh, dan Abednego ke perapian yang menyala-nyala.

Tipsku menghadapi penolakan

Nah, dari ceritaku yang ditolak untuk kuliah di Singapura, serta cerita Kain dan Raja Nebukadnezar, hasil dari penolakan bisa berakibat sangat buruk, hingga pembunuhan pun dapat terjadi. Kita sendiri pun dapat merasa sedih dan kesal kepada diri sendiri atas penolakan tersebut.


 

Salah satu pesan yang membekas di otakku saat bermain game Final Fantasy Record Keeper (DeNA, 2015)

Akan tetapi, life must go on. Tidak baik untuk terus berkutat terus menerus dalam kegagalan. Seperti pada gambar di atas, kita diingatkan bahwa jika kita menghabiskan semua waktu kita untuk terpuruk dalam kegagalan, maka kita mungkin tidak siap untuk menghadapi hal yang lebih penting. Nah, berikut aku kasih beberapa tips yang aku sendiri lakukan untuk menanggulangi efek negatif dari penolakan.

Menangis

“HAH, Cowok masa nangis sih?”

Banyak sekali stigma yang kurang baik mengenai menangis, terutama jika lelaki menangis. Sebuat artikel dari Doidge (2015) menyatakan bahwa lelaki diajarkan agar kuat, tidak menangis saat menghadapi kesulitan. Jika seseorang menangis, maka biasanya orang tersebut akan dimarahi, disuruh tahan menghadapi kesulitan yang dihadapi.

Padahal, menurutku, walaupun membuatku terlihat lemah, menangis menjadi cara yang cukup bagus untuk membuang perasaan negatif dari diri kita. Lebih mending mana, kita menangis selama satu / dua jam, tetapi kita setelahnya bisa beraktivitas secara normal, atau kita terlihat kuat di depan orang lain, tetapi perasaan negatif tersebut terus dipendam dan mengganggu performa kerja / kuliah kita. Nah, aku sendiri sih menangis kurang lebih satu jam deh setelah penolakan dari NUS / NTU (tentu saja, aku menangisnya sendirian di kamarku, karena malu dilihat orang, plus aku bakalan dimarahi juga sama orangtuaku).

Memberikan Selamat bagi yang Sukses

Kembali lagi ke penolakan dari NUS dan NTU, yang diberikan kepadaku. Setelah mendapatkan penolakan tersebut (dan tentu saja setelah puas menangis!), aku pun bertanya ke teman-teman lesku, apakah mereka mendapatkan undangan untuk mengikuti tes masuk NUS / NTU. Setelah mendapat kabar bahwa sebagian besar dari mereka berhasil mendapatkan undangan tersebut, aku yang masih sedih dan kesal pada diriku sendiri, menyempatkan diri untuk memberikan selamat kepada teman-temanku yang sukses. Dengan menyelamati teman-temanku, perasaanku pun menjadi lebih tenang. Aku pun merasa memberikan berkat kepada teman-temanku, dan ternyata, aku juga merasa senang jika teman tersebut berterima kasih kepadaku setelah diselamati.

Berdoa kepada Allah

Tapi jangan lupa, yang paling penting adalah berdoa kepada Allah. Ingat, Allah yang telah menyertai kita selama hidup kita; Dialah yang sudah melahirkan kita, membimbing hidup kita hingga saat ini. Aku juga merasa bahwa Tuhan itu berperan sebagai pengingat dari hidup kita. Setiap kali aku merasa mengalami penolakan, aku berdoa kepada Tuhan, agar Tuhan dapat memperkuat hati kita dalam menghadapi penolakan yang aku alami.

Di Alkitab juga tertulis, di Yeremia 29:12, yang berbunyi demikian:

“Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan”


Nah, dari sini sih lagi-lagi ada tiga hal yang aku share, kali ini mengenai cara menghadapi penolakan. Aku setuju, penolakan memang tidak enak rasanya. Tetapi, kita harus mencoba untuk move on dari kejadian yang tidak mengenakkan tersebut. Aku berharap, caraku menghadapi kegagalan ini dapat berguna bagi kalian yang sudah membaca artikelku ini. Jesus Bless You all!

Referensi:

DeNA (2015). Final Fantasy Record Keeper. [Online] Android. Google Playstore: DeNA

Doidge, K. M. (2015). It’s Time To Stop Shaming Men For Crying. https://archive.attn.com/stories/4789/men-crying-stigma




LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER