Pilah Sebelum Pilih

Going Deeper, God's Words, 12 April 2019
Pemilu 2019 semakin dekat. Kampanye serta propaganda pesertanya semakin menguat. Masyarakat Indonesia semakin tersekat-sekat. Bukan karena tak lagi bersahabat, tetapi, tersekat karena perbedaan pendapat. Pendapat dalam menentukan siapa yang layak menjadi birokrat. Lantas sebagai umat Kristiani, khususnya pemuda, apa yang harus kita perbuat?

Berdasarkan data hasil sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia yang memeluk agama Kristen (Protestan dan Katolik) mencapai 23,4 juta jiwa, atau setara dengan 9,87% dari keseluruhan penduduk Indonesia. Tentu saja angka tersebut akan berpengaruh jika seluruhnya berpartisipasi dalam Pemilu 2019.

Memang, angka tersebut tidak dapat memberi kepastian jumlah partisipan dalam Pemilu. Selain karena sensus sudah dilakukan 9 tahun yang lalu, jumlah penduduk dengan rentang usia yang masuk dalam kategori pemilih tentu tidak sama. Namun yang jelas, dari angka tersebut merepresentasikan jumlah pemilih Kristen yang tidaklah sedikit, meski termasuk golongan minoritas di Indonesia.

Jika seperti itu, apa yang harusnya kita lakukan sebagai murid Kristus? Haruskah kita diam saja? Tidak berpartisipasi dalam Pemilu? Memilih Golput? Jawabannya, tentu saja tidak.


Photo by Lea Böhm on Unsplash

Amsal 16:33 mengatakan, “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.” Sering kali, umat Kristen menganggap bahwa partisipasi dalam memilih pemimpin itu tidak begitu penting, karena segala keputusan berasal dari Tuhan—sudah jadi kehendak-Nya. Namun, kutipan Amsal di atas mengatakanbahwa kita harus tetap “membuang undi”. Artinya, harus tetap ada partisipasi dan aksi yang dilakukan oleh umat-Nya, meski hasil yang diperoleh tetaplah keputusan Tuhan. Jadi, jangan sampai Golput, ya!

Kalau begitu, pertanyaannya adalah, pemimpin seperti apa yang harus kita pilih? Yang satu agama dengan kita? Atau satu suku dan golongan dengan kita? Tentu saja bukan. Memilih pemimpin yang satu agama atau satu suku dan golongan dengan kita, tentu boleh saja, tetapi bukan itu prinsipnya. Firman Tuhan menuntun kita untuk memilih seorang pemimpin yang baik.

Dalam kitab Yeremia, Tuhan mengajar kita untuk melihat dan memilih pemimpin yang “mengenal Allah” melalui perwujudan: melakukan keadilan dan kebenaran serta memperhatikan dan memperlakukan orang sengsara dan miskin dengan adil.


Photo by Chuttersnap on Unsplash

Untuk mengetahui apakah calon pemimpin tersebut merupakan pribadi yang mengenal Allah atau tidak, kita perlu untuk memerhatikan dan meneliti rekam jejaknya. Bagaimana kebijakan dan program kerja yang pernah dan akan dibuat? Apakah melalui kebijakan dan program kerjanya, tercermin bahwa ia merupakan seseorang yang mengenal Allah?

Selain itu, pemimpin yang sebaiknya kita pilih adalah yang memiliki karakter melayani. Dalam Matius 20:26, Tuhan Yesus berkata, “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”

Punya karakter melayani berarti punya kasih. Kasih agape. Kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, kasih tanpa batas, dan kasih tanpa syarat. Seorang pemimpin yang baik, haruslah mau melayani orang lain dan memiliki kasih agape, karena itulah tugas dan kewajibannya. Dia diberikan kepercayaan untuk mengabdi pada rakyat, pada orang banyak, bukan untuk dirinya sendiri.

Contoh konkretnya dapat kita lihat pada saat mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Ia berani pasang badan saat serta ngotot mempertahankan uang rakyat sebesar 12,1 triliun rupiah yang hendak dikorupsi lewat 4.000 anggaran fiktif dalam APBD DKI Jakarta tahun 2015.

Ahok berani pasang badan, karena baginya, dia disumpah untuk membuat rakyat hidup sejahtera. Jadi, karakter yang demikianlah yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin. Karakter itu pula yang seharusnya menjadi landasan bagi kita semua dalam memilih.


Photo by Arnaud Jaegers on Unsplash

Pemilu 2019 semakin dekat. Kampanye serta propagandanya makin jelas terlihat. Sudah cukup waktu bagi kita sebagai pengamat. Kini waktunya memilih pemimpin yang sungguh-sunguh mau jadi wakil rakyat. Jangan lupa, tahun ini tanggal tujuh belas bulan empat. Saatnya kita, milenial, memilih pemimpin yang beramanat!


Penulis : Theo Andita Nugraha

LATEST POST

 

“Swing low, sweet chariotComing for to carry me homeSwing low, sweet chariotComing for to carr...
by Christan Reksa | 18 May 2019

Belakangan ini sering terjadi perdebatan, bahkan perpecahan dari kedua kubu politik dimana para pend...
by Priska Aprilia | 18 May 2019

“Untuk beli bibit.. ““Untuk beli obat, Neng...”“Kemarin harga jatuh. P...
by Surya Hadi | 18 May 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER