Salib Kristus sebagai Identitas: Sudahkah Kita Menghidupinya dengan Benar?

Going Deeper, God's Words, 22 August 2019
Seorang Kristen tidak bisa hanya mencari aman dan hidup nyaman sementara kebenaran tidak dijalankan. Salib inilah yang menjadi fondasi dasar identitas dan harapan seorang Kristen.

Pertanyaan tentang siapakah manusia dan apa artinya menjadi manusia mungkin sudah sangat sering kita dengar dan bahkan kita pertanyakan. Banyak orang Kristen yang memiliki pengetahuan Alkitab yang kuat dan baik, mempunyai komitmen doktrinal yang ortodoks, tetap saja gagal menangkap pengertian yang dikatakan Alkitab tentang diri mereka. Kita juga dapat melihat bahwa pada zaman ini, manusia telah direndahkan dignity-nya sampai pada titik terendah dalam sejarah dunia. Pertempuran di Irak dan perang saudara di Rwanda membunuh manusia ibarat membasmi nyamuk malaria. Perdagangan anak dan pelacuran seolah-olah mengindikasikan bahwa manusia tidak lebih dari seonggok daging yang diperjualbelikan. Potret situasi masyarakat masa kini semakin mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. 

Children Of War, Hungry, Sadness, Waiting Line

Manusia sudah tidak lagi mengenali diri dan harkatnya sebagaimana mestinya. Mereka tergerus dan tenggelam dalam nilai akan identitas diri yang tentunya keliru. Mengejar pengakuan dan kesempurnaan berdasar nilai dan standar masyarakat pun menjadi "profesi" yang kian digeluti dan dinomorsatukan. Tak sedikit dari mereka yang merasakan lelahnya mengejar nilai tersebut dan pada akhirnya, berujung menghalalkan segala cara demi mendapatkan pengakuan "keren" oleh masyarakat luas. Individu masa kini sudah tidak lagi mengetahui kebenaran yang sejati mengenai identitas diri. "Kebenaran" tidak lagi diterima sebagai berwajah tunggal, melainkan jamak. Manusia masa kini terlalu berambisi untuk mengejar kesempurnaan yang distandarisasi oleh masyarakat. Mereka lupa akan hakikat eksistensi, esensi, dan status diri manusia di hadapan Allah. Barangkali ada di antara mereka yang tidak lupa, namun, mengesampingkan kebenaran Allah demi pengakuan kosong yang tak akan bertemu dengan titik cerah. 

C. S. Lewis pernah mengatakan, “There is one thing and only one in the whole universe which we know more about than we could learn from external observation. That one thing is ‘ourselves’”. 

Hanya saja, kita sering mengira bahwa kita mengetahui "informasi" yang ada di dalam diri kita, padahal sebenarnya kita keliru. Betapa dahsyat akibatnya apabila manusia tidak mengetahui identitas dan konsep diri yang sebenarnya. Kesalahan manusia dalam menilai diri dapat mengakibatkan timbulnya rasa sombong dan keminderan. 

Melihat seluruh aspek hidup kita yang telah tercemar dan rapuh, maka, kita harus berbenah, bangkit dan mengambil tindakan yang membawa perubahan. Siapakah kita? Apakah peran kita terhadap identitas tersebut?

Summit Cross, Peak Happiness, Hochlantsch, Mountain


Identitas, Syarat dan Panggilan Hidup Seorang Kristen

Sebelum membahas tentang pertanyaan tersebut, alangkah baiknya bagi kita untuk memahami kembali syarat-syarat untuk menjadi pengikut Kristus. Bahwa sebagai seorang Kristen kita harus menyangkal diri, memikul salibnya. Menyangkal diri yang dimaksudkan adalah menolak/melawan diri kita sendiri atau melepas “kepemilikan” atau “kekuasaan” atas diri kita sendiri. Perlu kita ingat kembali bahwa kejatuhan manusia dalam dosa telah merusak seluruh segi aspek kehidupan kita, termasuk motivasi dan fokus kita dalam menjalani kehidupan ini. Keberdosaan kita membuat kita cenderung untuk menjalani kehidupan dengan berfokus pada kepuasan duniawi baik dalam hal kebutuhan jasmani, materi, termasuk dalam hal kekuasaan, dan eksistensi. Sudahkah kita terus berusaha untuk menyangkal diri, melawan ambisi-ambisi duniawi kita yang kita kejar hanya untuk kepuasaan dan kemuliaan diri kita sendiri? 

Salib merupakan lambang penderitaan orang Kristen. Sama seperti Yesus telah menanggung salib sebagai bentuk ketaatan-Nya pada kehendak dan rencana Bapa, begitu pula kita harus menanggung berbagai tantangan dan penderitaan sebagai bentuk ketaatan kita pada kehendak dan rencana Allah. Karena kehidupan sebagai seorang Kristen bukanlah kehidupan yang nyaman dan mudah. Sebagai orang yang sudah ditebus dan dibebaskan dari perbudakan dosa, Tuhan memberikan kita mandat sebagai garam dan terang-Nya di dunia ini. Hal ini tentu bukanlah hal yang mudah. Bukankah Yesus sendiri telah mengingatkan bahwa pengikut Kristus bukanlah orang-orang dunia, sehingga dunia membenci pengikut Kristus (Yoh 15:18)?


white and gray field near body of water

Photo by Sweet Ice Cream Photography on Unsplash

Dalam teks Matius 5:13 Kristus menyatakan panggilan kita sebagai pengikut-Nya, yaitu, bahwa kita adalah garam dan terang dunia. Apakah makna dari pernyataan Yesus tersebut? Pada konteks zaman Yesus dahulu, fungsi utama garam bukanlah untuk memberi rasa (flavor) asin. Pertama-tama, garam digunakan untuk mengawetkan. Pada masa itu, kulkas belum diciptakan, sehingga masyarakat menggunakan garam untuk mengawetkan makanan, seperti, ikan dan daging. Garam dipakai sebagai preservative agar ikan dan daging tidak busuk. Hal tersebut relevan kepada kita, apakah artinya menjadi garam? Hal yang harus kita ketahui bahwasanya, garam itu tidak mungkin mengalami kebusukan, melainkan berpotensi  mencegah terjadinya pembusukan. 

“Kamu adalah garam dan terang dunia” berarti kita pada hakikatnya memiliki suatu kelebihan, kemampuan dan potensi untuk menerangi dan mencegah lingkungan kita dari kebusukan.  Penebusan (redemption) dalam iman Kristen bukan hanya mencakup pengampunan dosa, tetapi juga mencakup restorasi diri yang menjadikan kita ciptaan-Nya yang baru, sehingga kita memiliki terang-Nya di dalam hati kita. Terang tersebutlah yang kita bawa di tengah-tengah dunia. 

Sinclair Ferguson (1987) mengatakan bahwa kata kerja yang dipakai dalam teks tersebut bukan bersifat imperatif, yang bermaksud memberi perintah maupun paksaan (kamu harus menjadi garam dan terang dunia). Melainkan teks tersebut merupakan sebuah indicative statement of fact, yaitu menunjukkan sebuah realita bahwa kita adalah garam dan terang dunia. Martin Lloyd Jones mengatakan bagaimana menjadi garam dan terang dunia? Jawabannya adalah dengan menjadi diri sendiri. Jadilah dirimu, karena setiap kita sudah punya potensi pada hal ini. Kita sebagai gereja-Nya harus memiliki efek yang berfungsi untuk mencegah dunia yang beranjak menuju kebusukan. Garam dan terang merupakan suatu hal yang yang esensial bagi dunia.

Akan tetapi, tidak sedikit orang Kristen masa kini yang mengetahui bahwa lingkungan sekitarnya memerlukan garam dan terang, namun di dalam dirinya terdapat kepentingan diri sendiri, sehingga memutuskan untuk tidak memerankan fungsinya sebagai garam dan terang. Ia memilih untuk "steril" dan tidak terkontaminasi, kemudian ia meninggalkan dunia dan bernaung dalam zona nyamannya (baca: gereja). 

Sanctuary, Interior, St John The Baptist

Seberapa banyak dari kita yang mengaku menjadi pengikut Kristus, tetapi, enggan untuk "nyemplung" di tengah masyarakat? Seberapa banyak dari kita yang setiap minggunya sering ikut kegiatan gereja, tetapi, mengurung diri dari "dunia"? Ketahuilah bahwa, di dalam teks tersebut dikatakan apabila kita memiliki terang, tetapi cahaya tersebut ditutup oleh sebuah mangkok yang besar, maka, cahaya tersebut tidak lagi berguna. Untuk itu, sudahkah kita memerankan identitas kita sebagai pengikut Kristus selama ini? Kiranya setiap kita memiliki hati yang mau berada di dalam dunia dan turut mentransformasinya. 

Lebih lanjut, bacaan ini mengajarkan kepada kita tentang panggilan kita sebagai seorang manusia yang telah ditebus, yaitu menjadi garam, antara lain mengawetkan dunia yang perlahan mendekati kebusukan. Sedangkan menjadi terang berarti secara aktif hidup benar di hadapan Allah. Tokoh yang dapat kita teladani yaitu, Yusuf yang mana ketika ia dibuang, dijual menjadi budak, kita dapat melihat bahwa Yusuf terus melakukan hukum yang Allah tetapkan, ia terus bersandar pada Tuhan. Dirinya pun kemudian menjadi orang kepercayaan Potifar. Yusuf  sedang melakukan fungsi terang. Berlanjut ketika dirinya difitnah oleh istri Potifar, ia dimasukkan ke dalam penjara akan tetapi di tengah penderitaannya, ia tetap melakukan segara sesuatu menurut hukum Tuhan. 

Plouzane, Lighthouse, France, Landmark, Sea, Ocean

Perintah Yesus dalam ayat 16 benar-benar sangat sederhana. "Biarkan cahayamu bersinar di hadapan manusia sedemikian rupa sehingga mereka dapat melihat perbuatan baikmu, dan memuliakan Bapamu yang ada di surga." Ia memberi tahu para pengikut-Nya untuk membiarkan orang melihat siapa diri kita di dalam Aku, untuk itu, hendaklah kita tidak menyembunyikan cahaya yang telah diberikan-Nya. Biarkan orang lain melihat hal-hal baik yang kita lakukan, melalui tindakan kebenaran, sehingga orang-orang pun dapat memuliakan Allah Bapa. Mari kita senantiasa mengingat bahwa tujuan kita dalam hidup adalah membawa kehormatan bagi nama Tuhan dan menjadi berkat bagi semua orang. Apakah kita membiarkan terang tersebut bersinar dengan terus menghormati Tuhan dengan hidup dalam kebenaran? Atau apakah menyembunyikannya karena takut pada manusia?

Barangkali dalam upaya kita untuk menjadi terang, kita akan dihadapkan dengan beragam kesulitan dan tantangan yang tidak mengenakkan dan membuat kita menderita. Untuk itu, sebagai pengikut-Nya, kita dituntut untuk tidak lagi berfokus yang didasarkan pada diri kita sendiri, melainkan kepada kehendak Kristus yang menjadi Tuhan atas hidup, melakukan hal yang menyenangkan hati-Nya, menjauhi segala hal yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya, dan terus belajar dan berusaha untuk menjadi serupa dengan-Nya. Menjadi seorang Kristen berarti telah percaya kepada Yesus dan menjadi seorang pengikut Kristus yang diwujudkan dengan menjadi garam dan terang-Nya di tengah dunia.

Inilah panggilan kita sebagai orang Kristen yang sudah ditebus. Kita telah ditebus oleh darah Kristus bukanlah untuk menjadi individu yang bebas dari tuntutan. Justru karena kita telah dibebaskan dari jerat dan perbudakan dosa, maka, kita pun dikenakan identitas baru sebagai hamba kebenaran. Seorang Kristen tidak bisa hanya mencari aman dan hidup nyaman sementara kebenaran tidak dijalankan. Salib inilah yang menjadi fondasi dasar identitas orang Kristen. Ketika orang Kristen tidak mau menanggung salib, Yesus sendiri berkata bahwa mereka tidak layak untuk menjadi pengikut Yesus (Mat 10:38, Luk 14:27). Oleh sebab itu mari kita menjadi orang Kristen yang mau berjuang untuk menghidupi identitas kita sebagai pengikut Kristus yang telah diutus-Nya menjadi garam dan terang di tengah masyarakat sehingga kebenaran dan kerajaan-Nya pun dinyatakan. 


Soli deo Gloria. 

LATEST POST

 

Kita semua tentu tidak asing dengan DC Comics—salah satu perusahaan komik terbesar di Amerika...
by Febrian Eka Sandi Nugroho | 09 Oct 2019

Beberapa tahun lalu, saya mengerjakan penulisan untuk sebuah majalah ‘untuk kalangan Kris...
by Sobat Anonim | 09 Oct 2019

Kekacauan di Indonesia yang terjadi beberapa pekan terakhir melukai hati saya. Bisa dibilang, setiap...
by Eleazar Evan Moeljono | 05 Oct 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER