Me & My Suicidal Thoughts

Best Regards, Live Through This, 13 July 2019
Apakah teman-teman pernah punya masa lalu yang kelam? Apakah teman-teman saat ini merasa "kepenuhan jiwa" seperti yang sering sekali Mas Dedy Susanto PJ sampaikan? Atau pernahkah teman-teman berpikir untuk bunuh diri? Thank's to the Lord, you've got a friend like me. I've been there and done that.

Apa sih perasaannya kala itu?

Saya sendiri bahkan tidak tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bahagia, tapi juga saya tidak sedih. Ketika ada yang membuat saya tertawa, maka saya ngakak sampai melengking. Ketika ada yang membuat saya sedih, frustasinya sampai nonjok tembok. Tidak bisa sendirian, harus ramai. Bahkan malam hari ketika semua teman sibuk, saya pun keluar hanya untuk ngopi supaya tidak merasa sendirian di kos. Nginepin teman-teman di kos saya hanya untuk bisa lelah kemudian tidur. Malam kerap dilalui dengan mabuk dan rokok. Saya memiliki dunia yang sangat hitam, sampai-sampai... gak tau lagi deh.


Udah ke psikolog?

Saya sudah pernah ke psikolog yang ada di kampus saya kala itu, mencari alasan kenapa saya tidak bahagia. Mencari jawab, kenapa semenjak meninggalnya kakek saya dari pihak ibu, kok dunia ini menjadi rumit; padahal dulu saya bahagia sekali. Selain itu, saya ingin tahu saya ini orang yang seperti apa, saya merasa bahwa saya ada kurang-kurangnya. Teman yang saya kenal lewat KKN, mahasiswa jurusan psikolog, beranggapan bahwa saya ini memiliki psikosis, karena dirasa ada yang lain dengan kepribadian saya. Saya ingin mencari tahu itu semua.

Sesi konseling dengan psikolog kampus pun berlangsung dan ditemukan adanya beberapa hal yang terjadi dalam diri saya. Beliau  berkata, saya memiliki kecenderungan egosentris tinggi. Kemudian, hidup saya condong mengarah pada masa lalu, tidak bisa melangkah ke depan untuk melepaskan memori buruk,  padahal orang yang dulu melukai saya sudah tidak jahat lagi. 

Selain itu, saya tidak bisa menerima kenyataan bahwa saya ini orang dewasa yang harus menerima keberadaan adik saya. Mengingat masa lalu, saya selalu menganggap orang tua saya tidak bisa berperilaku adil, antara saya dengan adik saya. Psikolog tersebut juga menyampaikan bahwa setiap anak belajar mengenai sosok yang mengasihinya, atau menjalin keintiman dengan anggota keluarganya, ketika berumur 1-5 tahun. Mungkin pelukan almarhum kakek tafsirkan berbeda kala saya kecil, sehingga membuat saya lebih dekat dengan beliau dan sang nenek, istrinya, dibandingkan dengan bapak dan ibu saya sendiri.


Kenyataannya...

Saya berpikir untuk bunuh diri lagi. Saya menyayat tangan saya karena ada satu masalah yang tidak bisa saya hadapi dengan seseorang yang melukai saya. Saya patah hati karenanya. 'Drama'-nya lagi, saya foto tangan saya yang tersayat ke orang tersebut; bekas luka sayatan itu pun masih ada sampai sekarang. Keluarga saya kaget ketika teman-teman melaporkan saya karena ingin bunuh diri, mungkin karena saya nampaknya ceria, ramah, periang di hadapan keluarga. Bagi saya, karya dari band Avenged Sevenfold, Disturbed, My Chemical Romance, Linkin' Park, justru yang paling mengerti saya saat itu dibanding keluarga saya. 


Gak pernah berdoa sama Tuhan?

Woi! Saya dari remaja aktif pelayanan. Saya dari TK sampai SD sekolah Kristen diajarin berdoa di sekolah dan di rumah. Saya setiap bermasalah selalu berdoa sama Tuhan. Tapi, saya tidak tahu suara-Nya ada di mana; saya merasa... Tuhan tidak pernah menjawab doa-doa saya.


Apa sih penyebabnya?

Selama ini saya berpikir, saya ingin bunuh diri karena tidak mengerti cara berhadapan dengan laki-laki, apalagi kalau patah hati. Tapi, setelah diingat-ingat, saya juga pernah berpikir untuk bunuh diri saat masih SD. Saat itu guru saya mengambil soal ulangan saya karena dikira berisik, padahal saya tidak berisik saat itu; alhasil saya pun menangis dan ingin loncat dari kelas. Di bangku SMP saya juga pernah ingin bunuh diri karena hp disita guru, saya minum deterjen di depan kelas.

Kemudian waktu kuliah -inilah yang terparah- saya merasa mendengar ada suara seorang pria tua yang menyuruh saya menyayat tangan. Setelah, semua 'drama' itu terjadi, saya menangis karena mendengar suara pria tadi menjadi tertawa. Saya tidak tahu di mana pria tua tersebut, atau pun siapa dia. Setelah saya pahami, ternyata saya memang tidak bisa mengatasi masalah dengan cara yang baik dan benar, karena saya merasa tidak pernah diajarkan cara menyelesaikan masalah. Selain itu, setelah baca vlog dan Instagram Mas Dedy Susanto PJ, nampaknya saya memang 'kepenuhan jiwa.' 


Victims of a Crime

Saya pernah nonton film rohani judulnya The Shack, kisahnya tentang seorang anak laki-laki lahir di keluarga Kristen. Namun, ayahnya sering melakukan KDRT dan ia pun menjadi korban dan merasa kepahitan. Sampai suatu saat anak itu mengalami kecelakaan dan ia mendapat penglihatan bertemu Allah Tritunggal di sebuah pondok. Dalam penglihatannya, Allah menjelaskan alasan ayahnya melakukan KDRT - yakni karena sejak dulu ayahnya juga sering dipukul oleh orang tuanya; sang ayah pun  terbiasa menyelesaikan masalah juga dengan kekerasan. 

Persis kisah hidup saya! Saya sering melihat bapak melakukan KDRT kepada ibu. Bahkan saya pernah melihat ibu saya pingsan karena dicekik bapak, hanya karena permasalahan sepele. Kala itu ibu meminta tolong bapak untuk mencuci popok adek saya karena ia kelelahan. Bapak menolak dan berkata bahwa beliau juga lelah setelah mencari uang. Dan akhirnya mereka berantem lagi. 

Singkat cerita, ibu pun berkata, “Ya sudah, saya mati saja bunuh diri.” 

Bapak pun membalas sambil membawa pisau, “Mati sajalah kamu. Ini pisaunya, bunuh diri sana!”

Akhirnya ibu mengalah, masuk ke kamar mandi dan mencuci popok. Saya mendengar suara ibu dalam kamar mandi, ia bertanya, “Kalau ibu mati bunuh diri, gimana?” Saya memang gak mengerti, tapi sontak saya menangis. Kalau ia mati, siapa lagi ibu saya?

Keruwetan ini semakin diperparah setelah ayah sering pilih kasih kepada saya. Saya minta handphone, ia tidak berikan. Tapi di lain kesempatan, saya melihat adik saya punya Nintendo DS. Sepele memang, tapi sakitnya itu terasa seperti saya ini bukan anaknya. 

Di sekolah pun saya mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Saya sering dijewer karena tidak bisa matematika oleh guru. Main dengan teman-teman sekolah pun dikatain banci kaleng, padahal saya wanita tulen. Masuk mobil jemputan pun dilecehkan supir penjemputan. Pulang ke rumah juga diperlakukan buruk. 

Saya pendam rapat-rapat hidup ini. Sampai secara tidak sadar, saya jadi pelaku kekerasan tersebut. Saya ikut ngebully teman saya. Saya menyiksa sahabat saya hanya karena kesal. Saya tampar teman saya karena handphone dirusakin dia. Hal yang paling membebani saya, yang membekas dalam benak dan disesali seumur hidup adalah peristiwa ketika saya kesal dengan adik saya yang susah untuk makan dari suapan; saya menginjaknya. 

Beranjak dewasa, saya pikir saya menemukan orang yang menyayangi saya. Katanya sih sayang, tapi minta 'jatah belai-belai'. Saya kira itu keharusan, makanya saya beri. Putus dengan yang satu, ketemu dengan yang lain. Minta 'keadilan' yang sama. Saya jadi terbiasa dengan pergaulan seperti ini. Hingga akhirnya, saya terpaksa kehilangan 'harga diri'. Saya hanya diam. Lagian, siapa yang percaya perempuan diperkosa pacar sendiri? Saya pun terbiasa dengan pergaulan bebas ini.

Korban ini akhirnya menjadi pelaku juga.


Kesembuhan itu

Dia memanggilku seperti ini, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamuakan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." Matius 11:28-30

Saya mengaku dosa dan jujur akan semua kepahitan itu. Perbedaannya adalah ketika saya dulu berdoa tentang segala sesuatunya itu, saya masih tetap mencari suara-Nya. Ketika itu, saya meyakini bahwa selama ini saya berdoa itu karena saya mengadu sendirian, menanggung sendirian, sakit sendirian. Saya tidak menyadari bahwa berdoa kepada Tuhan dalam beban dan hati sesak adalah Sabda-Nya, sehingga saya pun tidak meyakini bahwa Dia yang memberi kelegaan. 

Selain itu, hal terberat yang saya lakukan adalah ketika saya harus mengaku kepada ibu bahwa telah menginjak adik karena kesulitan menyuapi. Saya pikir saya akan dimarahi habis-habisan. Ternyata, Ibu memeluk saya dan berkata, "Gak apa-apa itu, namanya juga kakak-adik berantem. Dulu juga pernah mama pernah berdarah gara-gara main dengan pamanmu. Tapi kan sekarang baik-baik saja dan tidak diulangi." Ini memberikan kelegaan bagi saya. Selain merasa diampuni, saya juga mengalami rekonsiliasi di tengah-tengah keluarga secara bertahap.

Selanjutnya, saya memakai kuk yang dipasangkan Tuhan, yaitu saya mengampuni seluruh orang yang memberikan kepahitan jiwa kepada saya. Inilah kuk yang sebenarnya. Beban berat dalam kehidupan kita ini adalah mengampuni. Saya bisa bicara karena saya mengalaminya; tidak semudah membalikkan telapak tangan. Siapa yang gak stres ketika kita belajar bersyukur atas tubuh kita, justru orang seenaknya aja body shaming? (Tapi jangan bilang orang melakukan body shaming  kepada kita, kalau kita memang tidak mau dinasihati karena pola hidup yang tidak sehat. Kolesterol juga yang ada).  Siapa yang gak trauma semasa kecil mendapat aksi bullying atau trauma keluarga broken home? Siapa yang mau kehilangan “harga diri”-nya? Tidak jarang perempuan menjadi pelaku karena terlanjur, termasuk saya.

Saya tahu hal itu sulit. Tapi, saya mau belajar dari dan bersama Kristus. Saya tidak tahu seberapa beban psikologis Tuhan ketika disalib padahal semua tahu Beliau tidak bersalah (Lukas 23:22).  Sakitnya dikhianati Petrus dan Yudas. Tapi, kataNya, “Bapa, ampunilah mereka. Sebab, mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34). Padahal luka itu membekas begitu dalam (Yohanes 20: 25). 


Kuk itu Tentang Pengampunan dan Keikhlasan

Saya pernah mendengar cerita dari orang desa kalau kerbau yang memiliki tenaga lebih besar, itu kuknya lebih besar daripada kerbau yang lebih lemah tenaganya. Kerbau yang tenaganya lebih besar itu badannya cenderung sedikit lebih di depan dibanding yang lainnya. Selain itu, agar mudah untuk diarahkan agar sawah itu mudah terbajak.

Saya tidak ingin menggurui, saya juga tidak paham teologi. Saya hanya tahu apabila saya tidak mengampuni, maka Bapa tidak akan mengampuni dosa saya (Matius 6:14-15). Sebab, semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Bapa, termasuk saya. (Roma 3:23) Ini juga menjadi tali kekang yang dikenakan Bapa untuk orang seperti saya. Tapi, ini pun lebih mudah dibandingkan harus menebus dosa diri sendiri. Tidak sesulit yang Tuhan Yesus alami yang harus menanggung dosa semua manusia, yang Dirinya sendiri tak bersalah, disamping Ia juga memberikan pengampunan. 

Melalui pengampunan-Nya yang saya hidupi, saya mendapatkan ketenangan jiwa. Saya bisa berekonsiliasi dengan keluarga saya, termasuk silaturahmi dengan mantan. Saya tidak tahu kabar orang-orang lainnya, tapi saya berharap mereka semua dalam lindungan dan tuntunan tobat dari Tuhan, seperti Ia menuntun saya. Daripada saya ingat kesalahan orang terus-menerus dan menangis tiap malam. Lebih baik dilupakan dan diikhlaskan, meski butuh bertahun-tahun melupakannya, karena saya juga tidak ingin orang yang telah saya lukai mengingat-ingat kesalahan saya juga. 

Saya tidak tahu kenapa ibu dulu sempat berpikir untuk bunuh diri. Saya hanya tahu bahwa ayah tidak pernah memukul saya, karena beliau kerap dipukul sejak dulu dan ia tahu rasanya dipukuli itu sakit. Saya juga tidak tahu alasan kenapa orang-orang dulu menyakiti saya, mem-bully maupun mengambil hal penting dari setiap wanita. Tapi, saya mau melepaskan itu semua dan bangkit dari keterpurukan. Seperti Yesus Kristus yang bangkit dari antara orang mati. 


LATEST POST

 

“Dek, kamu mau gak ikut pelayanan?”“Engga.”Yups, aku yakin bahwa k...
by arthia anada | 17 Aug 2019

Bulan ini, Ignite GKI sedang membahas serba-serbi gereja. Bagiku, seiring dengan beredarnya akun-aku...
by Chintya | 17 Aug 2019

Pagi ini, sebelum ada yang datang, lelaki itu sudah tiba, mendirikan motornya, membuka pagar, mengge...
by Prioutomo | 17 Aug 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER