DOA dan AUTOSUGESTI

Going Deeper, God's Words, 04 May 2022
“The subconscious mind resembling a fertile garden in which weeds will grow in abundance if the seeds of more desirable crops are not sown therein. Autosuggestion is the agency of control through which an individual may voluntarily feed his or her subconscious mind on thoughts of a creative nature, or, by neglect, permit thoughts of a destructive nature to find their way into this rich garden of the mind.” (Napoleon Hill: Think and Grow)

Ignite people, apa makna doa bagi kita? Barangkali ada ribuan makna doa bagi setiap umat di dunia. Salah satu maknanya ialah bahwa berdoa merupakan relasi antar pribadi, yaitu pribadi manusia dan pribadi Allah. Allah berbicara kepada manusia melalui Kitab Suci, demikian sebaliknya manusia berbicara kepada Allah melalui doa (Barus, 2001). Kitab Suci pun memuat banyak sekali tulisan mengenai doa. Salah satunya ditunjukkan dalam 1 Tesalonika 5:17 yang berbunyi “Tetaplah berdoa!” Ayat ini digunakan Paulus untuk mengingatkan jemaat untuk tetap berdoa. Dalam doanya, jemaat dapat menyampaikan kebutuhan dan kesusahannya kepada Allah. Berdoa adalah suatu kebebasan, yang Allah berikan kepada jemaat. Karena itu, percaya berarti menggunakan kebebasan ini untuk menyampaikan kebutuhan dan kesusahan kita kepada Allah (bdk. Kis. 2:42; 6:4; Ef. 6:18; Kol. 4:2) (Abineno, 1994).


Photo by Shutterstock

Poin terpenting yang perlu kita perhatikan dalam doa adalah inti dari doa yang kita naikkan tersebut. Dalam doa, hal yang pokok bukanlah tentang meminta atau memohon, melainkan mempercayakan diri kepada Tuhan. Hal ini berarti doa berperan sebagai ungkapan iman kita (Jacobs, 2004). Ingat bahwa percaya adanya Tuhan tentu tidak sama dengan percaya kepada Tuhan (lih. Yak. 2:19). Meski esensi utama dari doa bukanlah meminta atau memohon, namun hal tersebut tidak sepenuhnya salah. Kita pantas untuk meminta dan memohon segala yang kita butuhkan. Yesus sendiri mengajarkan kita untuk memohon dengan mengajarkan “berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya” (Mat. 6:11). Doa permohonan sangatlah wajar, namun bukan esensi utama dan bukan satu- satunya bentuk dari doa. 


Salah satu wujud lain dari doa permohonan tersebut dituangkan dalam bentuk doa meminta kesembuhan (penyembuhan). Meski telah banyak penelitian ilmiah yang mengungkapkan bahwa ada penyembuhan karena doa, namun hal itu tidak berarti bahwa doa menjadi semacam obat sehingga sakit apa pun pasti sembuh hanya dengan doa. Faktanya, orang dapat sembuh, namun dapat juga tidak. 


Photo on PxHere

Kita tidak dapat menolak fakta bahwa tentunya ada pengaruh autosugesti dan pengaruh psikis akibat doa. Tetapi dapat dipastikan bahwa tidak semua kasus penyembuhan adalah karena autosugesti. Autosugesti adalah istilah yang merujuk kepada semua sugesti dan rangsangan yang timbul dari dalam diri sendiri yang akan mencapai pikiran melalui kelima panca indera (Hill, 2004). Autosugesti disebut juga sebagai self-suggestion atau sugesti diri. Dalam autosugesti, pikiran-pikiran yang mendominasi (baik pikiran negatif ataupun positif), akan dibiarkan tetap berada dalam pikiran sadar, kemudian pikiran-pikiran tersebut akan mencapai dan mempengaruhi pikiran bawah sadar melalui Hukum Autosugesti. 


Ketika kita berdoa, doa menjadi jalan dan aktualisasi dari pengalaman mendalam akan kehadiran dan kuasa Allah. Kehadiran dan kuasa Allah dapat terjadi dengan cara yang tak terhitung banyaknya, namun cara biasa untuk masuk lebih dalam ke dalam doa adalah melalui meditasi (perenungan) Kitab Suci. Jika kita berdoa tanpa meditasi maka persekutuan kita dengan Allah akan menjadi buruk dan jauh (Keller, 2014). Meditasi Kitab Suci menjadi semacam jembatan yang akan membawa manusia untuk menerapkan autosugesti pada dirinya ketika berdoa. Berbekal pengenalan dan pemahaman mengenai semua kebenaran Kitab Suci, manusia meletakkan iman kepercayaannya dalam doa penyembuhan yang disampaikannya kepada Allah. Pengenalan akan Allah akan membawa seseorang ke dalam doa permohonan yang dipenuhi dengan iman dan pengharapan (direalisasikan dengan kata-kata autosugesti) yang selanjutnya hal itu membawa kepada penghiburan yang dirasakan.


Hal tersebut dibuktikan melalui penelitian secara neuropsikologis yang menunjukkan bahwa ketika kita berdoa atau bermeditasi, bagian otak yang paling kanan akan aktif, yaitu bagian medial prefrontal cortex dan posterior cingulate cortex (Jobson et al., 2021). Bagian otak ini aktif ketika kita sedang melakukan refleksi diri dan merasakan ketenangan. Ketika seseorang merasakan sakit (terlebih ketika sudah sakit parah atau menahun), jiwanya akan tertekan. Tekanan tersebut mengakibatkan sistem limbik dalam otak akan menjadi hiperaktif. Saat hal itu terjadi, bagian dalam diri kita yang mampu membuat kita berpikir secara logis dan rasional akan terhambat. Namun hal ini dapat diatasi dengan melakukan meditasi Kitab Suci dan berdoa. 


Selamat berelasi dengan Allah melalui doa!


PUSTAKA

Abineno, J. L. C. ; (1994). Doa menurut kesaksian Perjanjian Baru. BPK Gunung Mulia.

Barus, A. (2001). Spiritualitas Pastoral (2nd ed.). STT Amanat Agung.

Hill, N. (2004). Think and Grow Rich. The Mindpower Press.

Jacobs, T. (2004). Teologi Doa. Penerbit Kanisius.

Jobson, D. D., Hase, Y., Clarkson, A. N., & Kalaria, R. N. (2021). The Role of the Medial Prefrontal Cortex in Cognition, Ageing and Dementia. Brain Communications, 3(3), 1–25. https://doi.org/10.1093/braincomms/fcab125

Keller, T. (2014). Prayer: Experiencing awe and intimacy with God. Dutton, Penguin Group USA.

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER