Agung Eka Oktaviano; Palu Gada GKI D.I Panjaitan

All About GKI, People of GKI, 05 August 2019
...tapi dalam hati aku berkata bahwa itu semua terjadi karna kemurahan Tuhan. Aku pun juga selalu berdoa agar Tuhan juga menyatakan kemurahannya kepada Bapak, Ibu, Mbah, Indra, dan kalian semua selalu tanpa perlu merasakan penyesalan.

Tadi waktu aku jadi penerima tamu Minggu pagi, aku banyak melihat anak Sekolah Minggu yang datang beribadah bersama ayah dan ibu mereka naik mobil. Mengingatkan aku pada masa Sekolah Minggu dulu. Aku dulu juga sering pergi ke gereja diantar Bapak. Bedanya, Bapak mengantarnya naik motor, bersama Mbah Uti dan juga Indra, adikku. Berempat kita jadi satu motor. Indra duduk di depan, Bapak jadi supir, Mbah di tengah, dan aku di belakang. Aku rindu momen itu, tapi tidak mungkin terulang kembali. Aku, Indra, dan Bapak sudah terlalu besar untuk naik satu motor, dan Mbah pun sudah tidak bisa pergi dari rumah. Sekarang, Bapak pun tidak jarang hanya mengantar saja sampai depan gerbang. Aku dan adikku Indra  tentunya rindu Bapak rajin ke gereja dan Ibu kembali pulang ke rumah.

Tapi sekarang aku dan adikku baru sadar, bahwa Bapak sudah berjuang untuk mempertahankan Mbah dan menjaga Mbah. Saat ini pun kami percaya bahwa rencana Tuhan itu indah, dengan mengizinkan Bapak memilih menjaga dan merawat Mbah. Ya, begitulah kehidupan, semuanya adalah pilihan. Terkadang dalam menjalaninya terasa cepat, tapi juga terkadang menjadi sangat lambat. Lambat ketika kita mendapatkan suatu masalah, dan cepat ketika kebahagiaan itu datang. 

Aku pernah menjadi anak yang sangat nakal, sampai aku sering diejek ‘gesek’. Saat itu tidak jarang pula aku membantah kata-kata Bapak, sampai aku terkena hasil buah dari polahku sendiri. Tepatnya saat kelas 2 SMP, aku memutar pikiranku dan akhirnya menyesali semua polahku. Life must go on. 

Aku belajar banyak hal dari masa gelapku dan mulai berkomitmen untuk memperbaikinya. Aku mulai berniat untuk ikut terlibat dalam pelayanan. 

Seorang Agung Eka yang nakal itu ikut melayani Tuhan? Pelayanan macam apa? tanyaku dalam hati. Saat itu hanya apa yang bisa aku lakukan ya aku lakukan, begitu saja. 

Syukurnya itu berbuah baik pada aku yang sekarang. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun berlalu. I enjoy doing everything with God. Memang aku orangnya tidak bisa diam, duduk mendengarkan khotbah 30 menit saja sudah seperti cacing kepanasan. Tapi aku menjadi sangat bersyukur karena keuntungannya adalah aku menjadi jarang mengeluh ketika dimintai tolong. 

Aku selalu senang bila ada orang yang memanggilku "Agung, tolong ini." ‘'Agung, ambilkan ini." "Agung ini…" ‘"Agung itu..." 

Sebuah kesempatan mendapat berkat yang belum tentu dapat dirasakan orang lain. Di setiap hal yang bisa aku lakukan ya aku lakukan, di setiap hal yang bisa aku ikuti, ya aku ikuti. Melayani Tuhan bukan hal yang tanggung-tanggung, pelayanan juga merupakan penyerahan diri. Kegiatan di gereja ketika aku sanggup ikuti, ya aku ikuti, kadang sampe bisa setiap hari ke gereja. Kata Bapak sih, boleh tiap hari ke gereja, asalkan masih ingat rumah dan ingat jaga Mbah juga. 

Aku juga ikut tim angklung yang pemainnya oma opa. Ya nggak masalah, toh, biar keliatan muda sendiri. Lagian juga aku di sekolah sering dipanggil 'mbah'. Hahaha. 

Tidak jarang juga Pdt. Raymond mengajakku untuk ikut acara pemuda remaja yang ada, bahkan bisa dibilang setiap event. Meskipun kadang acara yang diikuti, pembicaraannya jauh dari apa yang dapat aku pikirkan. Setelah sekian lama aku merasakan bahwa melayani Tuhan itu asik, bisa nambah pengalaman, nambah temen, dan nambah kemampuan kita. 

Ya begitulah bahagia yang aku rasa saat aktif-aktifnya di GKI D.I Panjaitan. Namun di sana terasa sangat cepat, ya namanya juga kehidupan yang membahagiakan. Sekarang aku harus berangkat pergi ke Tangerang untuk bekerja karena tidak ingin merepotkan Bapak lebih lagi. Semoga di tempat yang baru ini aku dapat berproses menjadi lebih baik lagi dalam melayani Tuhan.

O iya… Belum lama ini ada temanku bertanya ke Kak Raymond, "Apakah seseorang harus merasakan dulu titik terendahnya baru dapat berubah?" Pertanyaan ini terasa seperti sindiran bagiku meskipun sepertinya tidak dimaksudkan begitu. Bagiku, berbahagialah kalian yang sudah dapat berubah sebelum merasakan titik terendah kalian, dan jangan jadikan alasan orang lain untuk kamu membatasi diri melayani Tuhan. 

Temanku juga sering bilang "Kamu tah rajin jadi udah pro, apalah aku mah masih noob kalo pelayanan." Aku jawab, "Ya makannya rajin hehehe." Meski dalam hati aku berkata bahwa itu semua terjadi karna kemurahan Tuhan. Aku selalu berdoa agar Tuhan juga menyatakan kemurahannya kepada Bapak, Ibu, Mbah, Indra, dan kalian semua selalu tanpa perlu merasakan penyesalan tentunya.”

Omong-omong, jangan pernah melupakan sahabat, karena merekalah yang menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi keluarga dalam kesukaran :

“Aku kangen Agung. Agung itu temenku dari Sekolah Minggu, ya wis akrab banget yambok dari kecil. Dia mah bukan rajin lagi, kegiatan apa aja ikut. Dari guru Sekolah Minggu, jadi ketua Komisi Anak. Sampe angklung yang pemainnya KUL (Komisi Usia Lanjut) aja ikut. PA ya ikut juga, apa bae melu lah. Dulu biasanya apa-apa setiap acara mondar-mandirnya sama Agung. Sekarang ngga ada Agung koh.”

- Niel Pasca (Tim Musik GKI Panjaitan)


“Tiga tahun sekelas sama Agung, dia tuh orange baik. Terus juga di kelas sering dipanggil ‘mbah’ ya seneng-seneng aja. Engga pernah marah, karena ya emang dia paling tua. Hahaha. Paling semangat tuh dia pelajaran produktif sama agama, entah kenapa. Padahal kalo pelajaran agama kadang harus ke sekolah lain dulu. Tapi menurutku dia terlalu sibuk dengan HP-nya, setiap jam kosong dia seringnya asik sendiri sama HP-nya dan jarang main sama yang lain. Atau mungkin dia baca Alkitab di HP. Semangatnya udah kaya pejuang tahun 45 pokoknya.”

-Romandrio David (Teman Jurusan di SMK)


“Nyong gumun banget koh bisa-bisane ana menungsa kaya Agung.. Kae bocah mbuh kepriwe.. Diomong apa bae ya nrimaan banget.. Mbokya kesuh apa protes apa ngapaa.. jaan dadi bocah koh nrimaan banget”

(“Aku kagum sekali, masih ada ya manusia kaya Agung. Dia anak ga tau gimana. Dibilang, diejek kaya apa aja nerima, ngga marah apa protes gitu.. jadi anak ya menerima sekali”)

-Lita (Pengurus KPR GKI Panjaitan)


“Iya emang kakakku aktif banget di gereja. Dia dah mau jadi kaya kak Raymond Dua. Kak Raymond juga apa-apa pasti ngajak dia. Kakakku tuh orangnya ngga mau ngerepotin orang lain, terutama ngga mau ngerepotin Bapak. Kalo ada masalah pesti disimpen sendiri, ngga pernah cerita sama orang lain. Tapi satu hal, aku lebih seneng lagi kalo aku bisa tuker tambah kakak, ya setidaknya yang lebih ganteng lagi lah”

- Robert a.k.a Indra Kusuma (Adik Agung)


“Setiap ke Gereja pasti liatnya Agung mondar-mandir. Tapi gak kebayang kalau aku jadi Agung, apakah aku rajin ke gereja dan aktif terlibat pelayanan. Mungkin sih enggak, karena menurutku hampir semua pemuda jaman sekarang [dan mungkin aku termasuk] terlibat pelayanan karena asal-mulanya karena orang tua mereka adalah orang yang aktif di gereja. Sedangkan Agung enggak, Salut banget sama Agung, bisa aktif melayani tanpa diawali dengan disuruh orangtua.”

-Anti (Simpatisan GKI Panjaitan)


LATEST POST

 

Mungkin saya akan memulai artikel ini dengan sebuah pernyataan kontroversial Ayub. “Mengapa or...
by Lay Lukas Christian | 31 May 2020

Ketika mendengar bahwa di Surabaya Raya akan diterapkan PSBB pada pertengahan April lalu, sedikit ba...
by Kevin Susanto | 31 May 2020

Salah satu hobi saya adalah menonton konser, terutama grup musik cadas (rock). Selain musiknya, sela...
by Christan Reksa | 30 May 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER