Jangan Berhenti Pada Mental "Katanya"

Best Regards, Live Through This, 12 April 2020
Paskah macam apa yang seharusnya aku hayati? Sudah cukup kah peziarahanku hingga hanya pada "katanya" saja?

Saat masih duduk di bangku SMA, aku seringkali bercanda dengan kawan sepermainanku. Satu ketika dia menceritakan cerita konyol. Aku bingung untuk mengekspresikannya. Aku tak sanggup menanggapi ceritanya, kecuali dengan tawa. Saking konyolnya, aku tak tahan untuk memukul bahunya. 

Katanya, “Ada seorang Bapak, lewat depan rumahku. Dia berjalan dengan sepatu merahnya. Saat aku harus mengeluarkan motorku, dia menatapku. Entah apa yang salah denganku, lalu ia terantuk batu, dan secara tidak sengaja, terjatuh. Tapi anehnya Kas, aku malah tertawa. Memang, aku setampan itu ya, sampai seorang bapak-bapak saja terpesona melihatku?” Hingga sekarang aku tidak tahu kebenarannya, tetapi cerita lucu itu cukup terngiang di benakku.

“Katanya” menjadi kunci tulisanku ini. Kata tersebut menggambarkan kalau bukanlah kita sendiri yang melihat, mendengar, atau apapun itu. Ada orang lain yang melakukannya. Lalu, ada pihak lain yang kemudian menangkap maksud kita dan mengatakannya kepada orang lain. Kata yang sering kita temukan dalam berbagai kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya kemudian adalah: kalau ditanyakan, siapakah Yesus itu? Apakah kita juga akan menjawab dengan awalan “katanya”? Katanya Ia yang melakukan banyak mujizat. Katanya ia yang menyembuhkan orang sakit. Katanya ia yang mati disalibkan. Katanya Ia bangkit. Banyak orang Kristen masih bergulat dengan “katanya”, “katanya”, dan “katanya” . aku jadi bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku juga bermain dengan mental “katanya”?



Memang benar, kita tidak hidup pada zaman Yesus hidup di dunia, hingga mati, dan bahkan “katanya” bangkit. Semua itu kita ketahui dari para pembicara yang flamboyan, yang mampu menyihir jemaatnya untuk percaya kepada perkataannya. Atau semua itu kita ketahui dari cerita-cerita guru sekolah minggu kita yang kadang memasang wajah konyol untuk memberitakan cerita tentang “Tuhan Yesus yang hidup”. Atau, dari teman-teman yang bersekolah di sekolah teologi, dan menganggap diri mereka adalah yang paling suci daripada yang lain. Kalau memang merekalah yang memberitahukan kebangkitan Yesus padamu, pertanyaannya, apakah kita (kamu dan aku) percaya akan adanya kebangkitan itu?

Pada zaman Yesus hidup, tidak semua golongan percaya dengan kebangkitan. Golongan tersebut dikenal dengan golongan Saduki. Golongan ini terkenal kaya raya, namun mereka tidak mempercayai adanya kebangkitan setelah kematian (Matius 22:23). Golongan Saduki tidak percaya adanya kebangkitan tubuh seperti yang sering diberitakan Yesus pada zaman itu. Logika tentang kebangkitan tubuh memang terdengar janggal. Bahkan bagi saya secara pribadi, bagaimana mungkin arwah mampu mengendalikan dirinya sendiri, dan kembali ke tubuh atau jasadnya?



Saya teringat dengan salah satu film Scooby-Doo The Movie yang berlatar taman bermain. Ada segolongan orang di sebuah pulau terpencil, yang percaya bahwa ia bisa memimpin arwah, dan mengambil arwah-arwah pengunjung di taman itu. Arwah itu disimpan pada suatu mangkuk raksaksa, sedangkan tubuh orang-orang itu dikendalikan oleh arwah setan-setan yang ada di bawah kendali Scrappy, anjing kecil yang diceritakan sebagai keponakan Scooby. Pada akhir cerita, arwah orang-orang itu kembali ke tubuh mereka masing-masing dan sadar kembali. Cerita animasi dan fantasi ini jelas tidaklah nyata. Namun menarik untuk memperhatikan alur ceritanya. “Kebangkitan” yang mungkin adalah arwah yang kembali pada tubuh matinya itu, apakah sebuah kejadian nyata? Apakah masuk akal orang mati dapat hidup kembali?

Banyak “teori konspirasi” beredar pada abad pertama. Mulai dari sebenarnya bukan Yesus yang disalibkan, tetapi Yesus yang disalibkan adalah Yesus lain, bukan Yesus yang juga disebut Kristus itu. Atau pemikiran bahwa, benar Yesus mati dan dikuburkan, tetapi mayatnya dicuri oleh para murid-Nya. Atau pemikiran bahwa sebenarnya Yesus tidak mati, tetapi hanya tidur. Atau bisa jadi, Yesus yang “berkeliaran” setelah kematian-Nya itu bukanlah Yesus Kristus yang mati di kayu salib, tetapi orang lain. Teori-teori konspirasi ini berkembang di abad pertama. Bahkan hingga sekarang para pengikut masing-masing teori ini juga masih ada.

Kebangkitan Yesus memang sulit diterima dengan akal manusia. Kebangkitan Yesus masih menjadi perdebatan para ahli. Apakah Yesus benar-benar bangkit? Kalau ada yang mengatakan, “Lukas, kamu sesat!” aku akan terima itu dengan lapang dada kok. Kebenaran kebangkitan-Nya pada titik ini sulit diterima oleh nalarku. Kalau hanya Alkitab sebagai dasarnya, aku ingat pernyataan salah satu dosenku, “Alkitab itu salinan dari salinan dari salinan dari salinan dari salinan dari salinan dari salinan. Sehingga apakah Alkitab yang kita pegang sekarang itu asli?” Jika demikian, masihkah kita percaya akan Alkitab, yang ternyata hanya salinan ke sekian? Jika kita masih bersikeras pada pemikiran Yesus bangkit, tunjukkan buktinya!

Atau jangan-jangan salah satu teori konspirasi itulah yang benar, teori-teori konspirasi itulah yang sesuai dengan kenyataan. Iya kah?



Banyak orang berusaha menghindari pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan “Alkitab yang katanya adalah Firman Allah” itu, dan menganggap kami yang mempertanyakan kebangkitan Kristus, sebagai golongan sesat, tak beragama, atheis, dan banyak pikiran lainnya. Kebangkitan Yesus, bagi saya adalah sebuah rahasia Ilahi, rahasia yang akan sulit untuk dapat diterima. Mungkin, salah satu pemikiran yang bisa kita pegang adalah, kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang diperdebatkan, namun iman kita berusaha untuk membenarkannya. Iman kita kemudian “mengajak” pikiran kita untuk mengafirmasi bahwa kebangkitan Yesus benar adanya. Sehingga, dasar kepercayaan akan kebangkitan itu, bukan hanya semata-mata pada Alkitab atau teori positif, tetapi berdasar pada iman percaya kita bahwa Sang Mesias itu benar-benar mati dan benar-benar bangkit. Mental “katanya” yang sering kita gunakan perlu kita evaluasi kita. Gunakanlah imanmu kawan, apakah benar Yesus itu benar-benar bangkit? 

Saya mau menutupnya dengan kisah Emaus (Lukas 24:13-35). Yesus berusaha untuk menunjukkan diri-Nya pada kedua murid-Nya (Kleopas dengan temannya). McBride mengatakan bahwa apa yang dilalui oleh kedua murid itu adalah sebuah peziarahan yang akhirnya membuat mereka dapat melihat Yesus yang bangkit itu. Lalui peziarahanmu kawan! 

Peziarahan yang mungkin takkan berhenti, tetapi lalui itu dengan satu pegangan, Tuhanmu itu yang akan menuntunmu melalui peziarahanmu.

Saya tidak mengatakan kamu harus percaya pada cerita-cerita Alkitab, tetapi mintalah kepada-Nya untuk mendampingimu melewati peziarahan hidup itu. Selamat Paskah! Selamat menjalani peziarahan itu! 


LLC-2020

Menikmati indahnya Paskah dari dalam kamar.

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER