Apakah Sekadar Mujizat?

Going Deeper, God's Words, 28 July 2021
Apakah hanya sekadar mujizat—atau ternyata mujizat yang luar biasa—yang ternyata mampu mengubahkan sifat dan mampu menggerakkan hati manusia? . Mari kita melihat jauh ke dalam berbagai kemungkinan yang terjadi dalam sebuah mujizat yang bukan hanya sekedar mujizat, melainkan sekaligus sebuah tanda perubahan dalam kehidupan.

Pernahkah terpikir bahwa ketika sedang pergi ke suatu tempat yang jauh, Ignite People bisa bertahan hidup tanpa membawa apapun—baik gadget, makanan, pakaian, uang dan kebutuhan lainnya? Mungkin di zaman sekarang, hal itu mustahil terjadi karena ketika mendengar istilah “semua tidak ada yang gratis”. Ya, betul bahwa semuanya sekarang harus membayar. Namun, kalau ditelisik lebih jauh, mungkinkah hal itu tampak pada zaman dahulu, ketika orang-orang bepergian mengikut Yesus tanpa membawa apapun, alias hanya membawa diri mereka saja?

Mulai di sekolah minggu hingga di dalam khotbah ibadah lainnya, biasanya kita tidak asing dengan kisah lima roti dan dua ikan yang Yesus gunakan untuk memberi makan lima ribu orang. Di satu sisi, kita bisa merasa bahwa mujizat ini adalah mujizat yang sangat fantastis karena makanan yang diberikan tidak habis-habis, dan justru menyisakan dua belas bakul banyaknya. Di sisi lain, pernahkah terlintas di pikiran kita apa jadinya ketika bukan makanan yang tidak habis-habis, tetapi juga lebih dari itu?

Meskipun dapat memakai berbagai macam kacamata dalam membaca Alkitab, tetapi kita harus juga bertanggung jawab dengan apa yang kita kemukakan melalui tafsiran yang ditulis. Nah, saya rindu mengajak Ignite People untuk melihat teks Alkitab dan melihat apa saja kemungkinan yang akan terjadi, dan bagaimana jika pandangan kita terhadap probabilitas terjadinya peristiwa itu ternyata benar-benar terbukti dan masuk akal saat itu juga. Sebelumnya, kita harus mengingat bahwa dalam setiap mujizat yang Yesus lakukan pasti ada sebuah pelajaran yang kita dapatkan—tidak hanya satu, melainkan banyak pelajaran yang kita bisa gali dari teks yang sangat kaya akan berbagai macam nilai-nilai kehidupan.



Photo by Thabang on Unsplash


Karena pada saat itu Dia mengadakan banyak mujizat, perhatian orang-orang tertuju pada Yesus lalu mengikuti-Nya ke manapun Dia pergi (selengkapnya bisa dibaca di Yohanes 6:1-15). Ketika hari menjelang gelap, murid-murid Yesus kebingungan bagaimana merespons-Nya yang menanyakan makanan untuk orang-orang itu. Bayangkan saja, untuk memberi makan lebih dari lima ribu orang tentu membutuhkan sejumlah uang yang sangat besar. Tidak heran jika mereka khawatir uang yang dibawa tidak cukup untuk membeli roti untuk dimakan orang sebanyak itu. Kemudian, Andreas—salah satu seorang murid Yesus—menemukan seorang anak yang membawa lima roti dan dua ikan, lalu menyerahkannya kepada Sang Guru. Setelah menerima pemberian anak itu, Yesus menyuruh orang-orang yang mengikut-Nya untuk duduk, mengucap syukur atas roti dan ikan, lalu membagikannya kepada orang-orang di sekitar-Nya. Akhirnya, mereka dapat makan hingga kenyang, bahkan masih ada dua belas bakul roti jelai yang tersisa.

Kalau kita memperhatiakn dengan saksama orang-orang yang mengikuti Yesus, apakah mungkin mereka pada saat itu tidak ada sama sekali yang membawa persediaan makanan? Dalam bukunya, Barcley menyinggung kekhawatiran manusia yang tidak mau berbagi, karena takut kekurangan ketika membagikannya. Hal ini mungkin terjadi pada saat itu. Bisa saja sebenarnya orang-orang ini membawa persediaan makanan yang cukup untuk mereka dan mungkin lebih bagi diri mereka masing-masing, tetapi mereka khawatir ketika mereka mengeluarkannya orang-orang di sekitarnya akan meminta dan kemudian habis. Uniknya, ada seorang anak yang memberikan contoh sebagai sang pembawa makanan, yang kemudian makanannya dibagikan kepada orang-orang. Anak itu tampil sebagai pematik sikap berbagi kepada orang-orang yang khawatir untuk berbagi kepada orang lain, padahal mereka satu dengan yang lain (besar kemungkinannya) sama-sama membawa persediaan makanan, dan ternyata ketika orang-orang kompak untuk berbagi satu dengan yang lainnya menghasilkan kelebihan sebanyak dua belas bakul.

Jika hal ini adalah yang terjadi, maka Yesus tidak hanya melakukan mujizat, melainkan sebuah perubahan besar dalam sikap hidup orang-orang yang masih egois pada saat itu. Iya, Yesus membuat mujizat yang luar biasa karena Dia mengubah sikap hidup orang banyak sekaligus untuk berbagi satu dengan yang lainnya melalui seorang anak yang mau memberikan yang ia miliki untuk dibagikan. Sungguh sebuah hal yang tidak terduga, peristiwa yang sangat tidak mungkin menjadi mungkin terjadi karena kehendak-Nya.


Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Dalam hidup ini, ada kalanya kita memiliki kesempatan untuk menjadi pematik seperti si anak kecil tadi, tetapi bisa saja kita memilih diam karena khawatir keputusan kita tidak didukung oleh orang lain. Hei, tidak apa-apa. Ingatlah bahwa Yesus senantiasa memampukan kita untuk menjadi garam dan terang dunia hingga akhir kehidupan ini. Meskipun tidak tahu kepada siapa dampak itu akan terlihat, ketika kita bersedia menjadi pematik sikap positif bagi sekitar kita, kita menciptakan sebuah kualitas hidup yang jauh lebih baik dari pada sebelum lewat penyertaan Yesus di dalam setiap sikap hidup yang kita perbuat di dunia. Selamat memberi dampak, dan menjadi cara Tuhan menyatakan mujizat-Nya bagi dunia yang sangat membutuhkan kehadiran-Nya ini!


LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER