Tentang Kehilangan: Belajar dari Lagu Glenn Fredly

Best Regards, Live Through This, 22 October 2020
Where there is a great love, there are always miracles ~Mother Teresa

Catatan: tulisan ini dipersembahkan untuk orang-orang yang berduka di tengah-tengah masa pandemic COVID-19.


"Tuhan mengapa dia harus pergi? Tuhan mengapa secepat itu Kau memanggil dia?, Tuhan kau jahat!! Aku masih membutuhkan dia dihidupku Tuhan, Tuhan dengar aku!!, Tuhannnn!!!" Begitulah kalimat yang keluar dari mulutku ketika aku mendengar bahwa orang yang sangat aku cintai dan kasihi di dalam hidupku pergi meninggalkanku begitu cepat. Ya, orang itu adalah ibuku. Wanita yang paling aku kasihi seumur hidupku. Wanita yang selalu ada dan menguatkanku di setiap waktu ku lemah. Wanita yang menjadi tempat pulang ku. Dan hari ini dia harus pulang ke pangkuan Bapa di Sorga.

Aku sangat yakin bahwa tempatnya adalah sorga. Tapi sekarang aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tahu apakah aku bisa kembali semangat menatap langit esok hari. Aku tidak tahu apakah aku masih sanggup melihat matahari terbit dan terbenam. Yang aku tahu hanyalah bahwa hariku seketika hitam dan putih. Hari ku kelam. Hari ku mendung, Dan hari ku rapuh. 

Satu lagu yang hampir setiap hari ku dengar adalah lagu alm. Glenn Fredly yang berjudul "Sekali Ini Saja." Lirik yang yang membuat ku terngiang ialah: 

Tuhan bila waktu dapat kuputar Kembali

Sekali lagi untuk mencintainya

Namun bila waktu ku telah habis dengannya

Biarkan cinta ini hidup untuk sekali ini saja

https://www.instagram.com/p/BzTGNBhAyPX/?utm_source=ig_web_copy_link

Lirik ini membuat aku setiap hari berdoa kepada Tuhan untuk meminta satu hari aja aku bisa memutar waktu dan bertemu dengan ibuku. Jujur aku rindu bahkan sangat rindu. Aku berdoa untuk sanggup bertahan hidup tanpa mengingat ibu satu hari saja, tapi ternyata malah itu yang membuat ku semakin merasa kehilangan. 

Hari ini aku diingatkan dari surat 2 Korintus 7:10 yang mengajarkan aku bahwa datangnya dukacita dan kematian tidak bisa kita duga. Tidak ada yang bisa melarang jika Tuhan berkehendak mengambil seseorang dari hidup kita. Tidak ada yang bisa menahan jika itu adalah takdir. Siapa sih yang bisa menerima orang yang paling dikasihinya pergi? Apalagi yang pergi meninggalkan kita itu adalah orang tua kita, orang yang paling kita kasihi. Boro-boro orang tua. Jika kita harus menjalani LDR dengan pacar pasti rasanya galau. Mengeluh dan menangis karena dipenuhi rasa rindu.

Tapi yang terjadi apa? Galau, ngeluh, menangis, dan menyalahkan diri sendiri bukanlah jawaban. Malahan kita akan semakin dipe  rnuhi rasa tersiksa. Satu kalimat yang sampai saat ini aku pegang “People come and go,” dari kalimat ini kita bisa memaknainya bahwa tidak ada manusia yang bisa abadi menjadi teman kita di dunia ini. Seiring berjalannya waktu pasti mereka akan pergi meninggalkan kita.

Lantas, apakah kita tidak boleh sedih? Apakah kita tidak boleh berduka? Apakah salah jika kita rindu? Tidak. Semua wajar terjadi karena kita memiliki perasaan, Tapi ingatlah, semakin dalam rasa penyesalan itu ada, maka semakin besar pula luka yang ada di dalam hati.

https://www.instagram.com/p/Btd6hSzgo91/?utm_source=ig_web_copy_link

Banyak dari kita, termasuk aku, yang menjadikan makna kematian dan perpisahan sebagai sebuah kejadian yang mampu merobohkan dunia kita. Ketika aku mencoba memaknai perpisahan dan kematian itu sendiri, makna itu adalah kehancuran.

Di tengah tahun pandemik seperti ini, banyak ketakutan, kegusaran, ketidaknyamanan kita alami sehari-hari. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika kita mendengar kabar dukacita bahwa orang-orang yang menjadi malaikat penolong manusia (dokter) harus pergi meninggalkan dunia ini. Yang lebih sakit adalah ketika mereka yang menolong dan meninggal adalah bagian dari keluarga kita sendiri. Wah tentu rasanya nyesek, hancur, bahkan tidak bisa berkata apapun.

Namun, sadar atau tidak, perpisahan karena kematian menjadikan kita lebih mampu menghadapi persoalan yang sulit. Walaupun berat dan kita merasa tidak mampu, tapi secara perlahan kita sanggup melewati itu semua.

Pertanyaannya, apakah Tuhan hanya akan membiarkan kita berhenti di kesesakan itu? Apakah Tuhan tidak membantu kita? Percayalah, setelah perpisahan yang menjadikan dunia kita roboh, Tuhan akan memberikan gantinya. Tuhan akan memberikan pengganti untuk kita kembali membangun menara yang roboh itu. Tuhan akan memberikan kita kehidupan yang baru yang dipenuhi sukacita yang lebih besar.

Siapa sih yang bisa menerima orang yang paling dikasihinya pergi? Pasti jawabannya tidak ada, karena itu sangatlah berat walau dengan alasan apapun. Mungkin berat bagi kita untuk menerima itu semua, tapi semua sudah diatur Tuhan. Perjalanan hari ini, besok, lusa, dan selanjutnya adalah misteri dari sang Ilahi.

Menyalahkan dan membenci Tuhan bukanlah jalan untuk mengakhirinya, seperti di kitab 2 Timotius 4:7,

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman Dari ayat ini bisa kita lihat bahwa orang yang dipanggil Tuhan adalah orang yang telah berhasil menyelesikan segalanya misinya di dunia dan Tuhan percaya bahwa orang tersebut sudah layak ada di sisi-Nya.

Tuhan tahu apa yang terbaik dan Tuhan tidak bersembunyi. Dia ada di kesesakan kita. Dia ada di balik robohnya dunia kita. Dia ada di balik perpisahan kita dengan orang yang kita kasihi.

LATEST POST

 

"Ayo, kita naik gunung bersama!" Demikian beberapa teman mengajakku, dan aku menyetujuinya...
by Olyvia Hulda | 05 Dec 2020

Satu lagi karya ajaib buatan tangan Tim Dapur Visinema yang diberkati dengan kreativitas tanpa batas...
by Grifith Mercia | 05 Dec 2020

Note: Silahkan membaca Part 1 dan Part 2 terlebih dahulu.Kini kita telah memasuki bagian akhir dari...
by Alviedo Yuda | 05 Dec 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER