SIRKUS

Best Regards, Fiction, 29 September 2023

Dengan bantuan petromaks-petromaks yang digantung di tiang pancang tenda, aku bisa melihat dengan jelas arena sirkus. Padatnya kursi penonton, dan mengilapnya panggung para pemain. Dari semaraknya, aku pun bisa merasakan rasa penasaran sekaligus kegembiraan mereka yang sudah membeli tiket masuk.

Saat pemandu acara mengangkat tangan, suasana di dalam tenda semakin riuh.

Semarak.

Mata semua orang langsung tertuju pada lubang kecil yang dibatasi oleh kain hitam yang legam, termasuk diriku. Aku menanti-nantikan pertunjukan yang sebentar lagi akan dimulai, membayangkan siapa yang akan keluar dari lubang itu. Seperti apa bagusnya kebolehan para ahli sirkus itu.

Ketika pemandu acara menurunkan tangan, kemeriahan pun berangsur hilang.

Sunyi.

Sepi.

Tak lama, kain hitam itu mulai bergerak-gerak. Bukan karena tiupan angin, melainkan karena … lintah? Bukan. Aku begitu yakin itu bukan lintah.

Seraya mempertajam mata, pikiranku terus menebak-nebak wujud kecil yang membuat kain hitam itu bergerak-gerak. Lambat laun bayangan hitam tidak lagi menghalangi wujud kecil itu. Semakin lama, aku bisa melihat bentuk keseluruhannya.

Itu bibir! Pekikku kegirangan.

Iya, bibir. Lebih tepatnya bibir manusia!

Dan memang itu adalah bibir yang berusaha menyibakkan kain hitam.


Photo by Zach Guinta on Unsplash


Saat kain hitam itu terlepas dari kaitnya lalu jatuh ke lantai, sungguh aku lebih bisa melihat dengan jelas bahwa si pemain sirkus itu berjalan dengan bibirnya.

Mataku membulat, membayangkan bagaimana mungkin seseorang berjalan menggunakan bibirnya? Kenyataannya, yang kulihat benar-benar seperti itu.

“Sulit dipercaya! Dia sungguhan menerima tantanganku!” kata seorang di samping kananku sambil menunjuk si pemain sirkus.

“Kau mengenalnya?” tanyaku penasaran.

“Ya, dulu dia adalah musuh bebuyutanku di sekolah.”

Sejujurnya aku sedikit tidak memercayai ucapannya. Toh, kesaksian apa yang bisa diharapkan dari seorang musuh bebuyutan? lebih baik bagiku bila kembali menonton pertunjukan.

Kali ini, si pemain sirkus berjalan gontai menggunakan bibirnya ke tengah arena. Napasnya terengah-engah seperti kelelahan, lalu ia mematung. Aku menerka ia sedang mengumpulkan segenap tenaga. Oh, ternyata ia sedang bersiap-siap meraih tali. Menyematkannya di antara bibirnya, lalu perlahan bergerak ke atas. Gerakannya tidak jauh berbeda dengan laba-laba yang beringas memanjat benang dari tubuhnya. Sontak gemuruh tepuk tangan para penonton membuat tiang-tiang pancang bergoyang.

"Bagaimana cara ia belajar memanjat tali menggunakan bibir?" gumamku.

“Haha... Kau tak usah bingung, Nak!” cetus pak tua di sisi kiriku.

Aku tak begitu yakin dengan ucapan pak tua itu. “Maksudnya?”

“Kau tak perlu bingung karena dia memang menciptakan bibirnya untuk bisa seperti itu!”

“Bukankah Tuhan yang menciptakan bibir?”

“Ah, kau terlalu lugu, Nak! Zaman sekarang ini, manusia menciptakan bibirnya sendiri.

Sebenarnya aku tetap belum mengerti maksud pak tua, jadi aku bertanya lagi, “Kalau begitu kau mengenalnya?”

“Tentu! Dia pernah bekerja di perusahaanku, Nak!”


Photo by The Ian on Unsplash

Belum sempat aku mengomentari jawaban Pak Tua, perhatianku kembali ke arah pemain sirkus yang sedang bersiap-siap mengayunkan badan dengan tali yang tertaut di bibirnya. Bagaimana rasanya terayun-ayun dengan cara yang begitu ekstrem? Rasanya mungkin seperti ada es batu yang meluncur di lambung. Sungguh pertunjukkan yang mengerikan sekaligus mengagumkan!

Tiba-tiba saja orang di depanku menoleh padaku dengan tatapan sinis. “Kau tidak perlu kagum dengannya! Sudah sepantasnya dia berada di sirkus ini!”

Aku tidak tahu jawaban apa yang harus kulontarkan. Yang jelas, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa si pemain sirkus itu berjuang mati-matian agar tidak jatuh. Bibirnya terkatup begitu kuat menahan berat badannya hingga berdarah-darah. Sungguh aku bahkan melihat darah di ujung bibirnya. Matanya pun tampak sedang menahan air mata. Otot-otot tangan serta kakinya juga terlihat menegang. Kurasa ia benar-benar kesakitan.

Di titik ini, sorakan para penonton nyaris membuat tiang pancangnya roboh.

Hanya saja, teriakkan sejumlah orang kali ini membuatku terperangah. Kupikir mereka merinding dan setuju denganku bahwa si pemain sirkus butuh pertolongan. Cukuplah dia menyakiti diri sendiri. Nyatanya….

Teriakkan mereka adalah hujatan. Makian. Cacian. Tidak ada yang lebih kotor dari kata-kata yang mereka ucapkan. Sangat tidak manusiawi!

Ketika aku terpaku mendengar sorakan para penonton, seseorang di belakangku berbisik persis di dekat telingaku. “Kami yang duduk di sini mengenal si pemain sirkus. Percayalah dia akan selalu mendengarkan semua perkataan kami. Termasuk ucapanmu, jika saja dia bisa mendengarnya!”

LATEST POST

 

Pemerintahan di dunia ini dilaksanakan dalam berbagai metode, namun pada intinya adalah mengatur sec...
by Oliver Kurniawan Tamzil | 29 Feb 2024

Image on PexelsMarilah kita membayangkan diri kita sendiri ketika kita sudah tua nanti? Apakah kita...
by Samuel wangsa | 18 Feb 2024

Lagu Kidung Jemaat no. 249 berjudul "Serikat Persaudaraan" mungkin sudah tidak asing lagi...
by Alviedo Yuda | 14 Feb 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER