Tuhan, Mengapa Aku Berbeda?

Best Regards, Live Through This, 03 March 2021
Kiranya kita bisa sama-sama terus bertumbuh kepada pengenalan akan Dia, bahwa iya sungguh-sungguh kita dikasihi dan dicintai tanpa syarat, bukan supaya kita menjadi orang lain. Tetapi menjadi versi diri kita yang terbaik.

Setiap dari kita pasti pernah mengalami momen di mana kita merasa sangat tidak berharga. Momen saat kita direndahkan sama orang lain. Pasti sedih dan berat, ya. Tetapi, mari yuk belajar untuk memandang diri kita berharga, seperti Tuhan sudah memandang kita berharga layaknya biji mataNya.

Dalam perjalanan hidup, ada beberapa masa saya mengalami the lowest point (dan berharap itu sudah selesai sih, tidak ada the lowest point lagi). Salah satunya adalah ketika saya merasa tidak berharga dan tidak di-support dari orang terdekat atau saya kasihi. Jujur, ketika kita memiliki orang yang kita sayangi, tentu ekspektasi kita terhadap mereka akan tinggi dan akhirnya hanya berujung kecewa ketika mereka tidak berhasil memenuhi ekspektasi kita tersebut.

Saya rasa, teman-teman pun ada yang pernah merasakan hal serupa: Menerima perkataan yang tidak baik tentang kita (bahkan dikata-katai), sehingga membuat kita terkadang jadi meragukan keberhargaan diri kita. Padahal, Alkitab jelas mengatakan bahwa kita ini berharga dan mulia. 

Belum lama ini pun, saya bergumul dengan perkataan-perkataan dari orang yang menyakitkan. Sebenarnya, sudah cukup banyak sih menerima kata-kata buruk dari orang. Ada yang bisa saya utarakan, ada yang tidak, karena saya masih berusaha memaafkan. Antara lain diejek dengan sebutan gejala psikis atau disabilitas tertentu. Hal itu diucapkan bukan dari orang asing, tetapi dari orang-orang terdekat.  Tidak ingin saya ingat sebenarnya. Tapi saya percaya, kalau Tuhan ijinkan saya alami ini, mungkin Tuhan ingin juga supaya saya bisa berbagi dan membantu  teman-teman yang mengalami hal serupa.

Dari perkataan-perkataan negatif itu, ada yang bisa saya lupakan dan memaafkan begitu saja, ada yang butuh waktu, bahkan sampai hari ini. Namun, biasanya saya berusaha untuk tidak ambil pusing karena saya tahu, saya pegang erat Alkitab; Tuhan berkata kalau saya berharga di mataNya dan Tuhan mengasihi saya. Jadi, orang mau bilang apa saya tidak emosi, tidak marah. Karena apa yang dia bilang itu tidak benar. Namun, rasa sakit, terluka.. iya ternyata ada. Itu yang bikin tidak mau ingat atau membicarakannya. Sampai hari ini pun rasa sakit itu masih membekas. 

Saya memang bukan orang yang sempurna. Tetapi dari itu semua, saya pun jadi diingatkan juga apakah perkataan saya melukai orang lain atau tidak. Dan terus berusaha mendekat sama Tuhan, cari tahu apa yang Tuhan katakan tentang saya.


Teman-teman, sering kali kelemahan atau kekurangan kita bisa digunakan oleh orang lain untuk menyerang kita. Tapi hari ini yuk, kita belajar untuk menjadi pribadi yang tidak mudah patah semangat. Orang lain bisa menyebut kita dengan julukan apa pun, tetapi yang terpenting adalah apa kata Tuhan dan bagaimana kita memandang diri kita. Jadi, jangan pusing ya dengan kata orang. Memang nggak mudah tapi biarlah kita senantiasa minta hikmat dari Tuhan.

Perkataan-perkataan negatif tentang kita itu pastinya bikin kita terus memikirkan yang jelek tentang kita atau orang lain. Teman-teman harus berdoa untuk bisa melepas pengampunan dan sadarilah, kita tidak perlu membuktikan apa pun terhadap mereka. Segala sesuatu pasti Tuhan tahu. Dan Dia akan memberi kita yang terbaik. Tuhan menghitung setiap kebaikan yang kita lakuin dan percayalah, kelak itu kembali sama kita. Begitu pun dengan hal buruk. Orang lain bisa memperlakukan kita jahat, tapi Tuhan juga tidak akan tinggal diam. Yuk, belajar serahkan segala beban kita sama Dia.

Yuk belajar untuk lebih mencintai diri kita. Self-love bukan berarti selfish lho. Jadi, tidak ada salahnya jika teman-teman belajar untuk positif thinking tentang diri kalian. Saya, bukan orang yang selalu punya pikiran baik. Lebih banyak overthinking ke hal-hal buruk. Kadang saya butuh orang-orang untuk mengingatkan saya. Saya masih butuh orang-orang yang bilang kalau saya dicintai, semua akan baik-baik saja dan seterusnya. Kiranya kita bisa sama-sama terus bertumbuh kepada pengenalan akan Dia, bahwa iya sungguh-sungguh kita dikasihi dan dicintai tanpa syarat. Bukan supaya kita menjadi orang lain, tetapi agar kita menjadi versi diri kita yang terbaik. 

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER