Proses Katarsis di Balik Sebuah Tulisan

Best Regards, Live Through This, 03 September 2020
Aku baru menyadari ternyata menulis bisa jadi proses katarsis untukku.

Wikipedia menjelaskan katarsis atau katharsis pertama kali diungkapkan oleh Sigmund Freud dan populer di kalangan para filsuf Yunani kuno, yang merujuk pada upaya "pembersihan" atau "penyucian" diri, pembaruan rohani, dan pelepasan diri dari ketegangan. Singkatnya, dalam dunia literasi, proses katarsis ini juga sering digunakan dalam penciptaan karya tulis sebagai proses pelepasan, atau bila mengacu pada Injil, berarti penyucian diri. Nah, aku pun pernah mengalaminya dalam proses penulisan sebuah karya.


Aku sudah lama sekali nggak nulis. Beberapa bulan lalu, selalu ada dorongan dalam hati untuk mulai menulis lagi, bahkan topiknya sudah terpikirkan dalam benak. Kerjaan kantor yang tak kunjung usai selalu melenyapkan dorongan menulis. Rasanya seperti uap yang sebentar saja hadir sebentar lagi hilang. Satu hari, dua hari berlalu, seminggu, sebulan, dua bulan hingga tiga bulan terlewat sudah. Setiap ada niat -hari libur tuh- sudah buka laptop, eh ujung-ujungnya drama Korea jadi prioritas yang akhirnya dipilih, daripada mengetik satu kata pada lembar kosong Microsoft Word yang dibiarkan terbuka begitu saja. Satu jam berikutnya, justru tergoda untuk membuka akun olshop dan kembali menguburkan niat menulis kalimat pertama karya itu. Begitu terus berminggu-minggu. 


Duh, jengkel dengan diri sendiri, nggak jadi nulis, padahal udah ada di pikiran. Hati rasanya udah "ngebet banget" disuruh nulis, tapi kedagingan meninabobokan ketaatan.



So, singkat cerita, tetiba di suatu pagi muncullah sebuah info di group chat tentang lomba menulis. Iseng-iseng buka infonya, niatnya ingin menemukan kesempatan. Di sisi lain, pada waktu yang sama juga berharap semoga dipersulit syaratnya, waktunya pasti sudah lewat, atau kriterianya memang tidak memenuhi, -hanya karena ingin melepaskan diri dari ketaatan- mencari sejuta alasan untuk mundur dari panggilan.


Ternyata hari pendaftaran ditutup di hari dimana aku pertama kali membuka info itu, padahal pendaftaran lomba sudah mulai dibuka dua bulan sebelumnya dan aku baru terima di hari itu. 


"Wah wahh.. kode ini.. fix.. kudu nulis!


Oke, sesegera itu juga aku membuka lebih detil infonya dan terhenti pada satu halaman berisikan "syarat dan ketentuan ikut lomba". Aku yang terdiam cukup lama pada halaman itu, berkali-kali mengulang membaca, takut ada info yang kurang jelas atau salah baca. Ketika sampai pada tulisan "pendaftaran dikenakan biaya", aku terdiam -kudu bayar gaes- terpaku membeku, mulai secara perlahan membuka isi dompet, melihat saldo rekening tabungan dari aplikasi handphone. Aku galau, bergulat dalam pikiran, mencari beribu-ribu alibi. 


"Duhh, ini tuh akhir bulan lhoo.. mepet sekali sisa uang ini, mana belum gajian lagi kan, duhh.. Bayar kagak?! Ikut kagak?! Duhh gimanaa ya..??!!”

“Hmm... Bisa sih ikut lomba tapi besok makan apa ya?!" Sambil cengar-cengir berusaha menyangkal diri dari panggilan.

Keresahan tingkat dewa, hati mulai chaos, pikiran runyam tak beraturan (bermaksud dengan sengaja mengulur-ulur waktu yang tersisa). 


Siang itu ternyata di tengah kekalang-kabutan yang terjadi, aku mendapat kejutan, pesanan produk olshop tiba-tiba muncul pada kolom notification dengan jumlah pesanan yang cukup banyak. Setelah dihitung, jumlah penghasilan labanya ternyata cukup dong (pas banget buat bayar daftar lombanya). 


"Ya.. ini sih fix harus daftar!!"  


Baiklah, akhirnya aku mendaftarkan diri dan mulailah berproses menulis. Aku hanya punya sisa waktu dua minggu untuk mengumpulkan dua tulisan karya, padahal pekerjaan kantor di minggu itu sangatlah padat merayap. Sambil menatap barisan semut pada sudut dinding kamar, haluan dalam pikiran mulai kembali bergrilya.


"Mungkinkah aku sedang kembali menghindari panggilan?"

"Tidak, tidak, aku tidak ingin meninggalkan panggilan itu."

"Menghindarinya terus-menerus justru semakin menyiksa perasaan ini." 

Kata dan bahasa seketika tertumpah-ruah dalam ratusan kata tersusun rapi di barisan sang kalimat-kalimat paragraf. Aku menulis apa yang ada di pikiran saat itu dan apa yang paling kurasakan tanpa filter sedikit pun. Sehari jadi! Tapi yang aneh, muncullah perasaan yang tidak tenang dan kurang nyaman dalam jiwaku setelah tulisan itu selesai. Aku meminta bantuan seorang teman untuk membacanya dan juga memberi masukan dari tulisan itu. 


Taraaa.. Oh no.. Kupikir tulisannya sudah oke, ternyata banyak "cacat". Baiklah, aku coba membacanya lagi dengan memposisikan diri sebagai pembaca, “Wah iya, bener banget kata temanku, ini mah jatuhnya aku sekedar curhat-curhat belaka aja, yang nggak sampai meaning-nya, isinya malah kebanyakan ngeluh, capek banget bacanya.”


Temanku bilang kalau dia nggak dapet pesan penting tujuan yang ingin disampaikan dari tulisan itu. Semalaman aku menggalaukan jiwa dalam kesendirian, merenung, berdoa ditemani dengan sebuah lagu dari akun Youtube Ignite, berjudul "Tak 'Ku Tahu 'Kan Hari Esok"Oh ya, karya tulisan yang aku tulis itu sangat berkaitan erat dengan lagu itu (kenapa aku putar lagunya). Btw, thank you buat teman-teman Ignite yang sudah rekaman lagu itu, ya.


Berkali-kali aku putar (lebih dari lima kali ada deh), aku coba meresapi lagunya lagi, memaknai dan mendalami lebih lagi. Nahh kan benar, aku akhirnya tersadar. Ada kesalahan yang baru saja aku lakukan. Tuhan seketika menegurku malam itu. Tuhan lho yang memintaku untuk menulis lagi, karena Tuhanlah yang sebetulnya ingin menyampaikan pesan-Nya untuk orang lain. Aku ini hanya alat-Nya, dipakai untuk mengetikkan pesan-Nya Tuhan, lha kok kenapa justru aku yang banyak bercerita tentang aku dan bukannya tentang Tuhan. Seperti sedang tertampar, lalu bangun dari lamunan panjang. Sakit tapi segera tersadarkan diri. Seketika itu juga aku memohon ampun atas apa yang telah aku lakukan pada Tuhan. Aku tiba pada proses pemurnian itu -proses katarsis- dalam diri.



Aku sudah menulis dengan penuh keegoisanku, jatuhnya itu hanya berisi tentang perasaanku yang aku ingin orang lain pahami karena memang cerita dalam tulisan itu adalah cerita yang belum pernah kuungkapkan dengan detil sebelumnya. Jadi, mungkin ada perasaan dimana aku perlu menunjukkannya kepada dunia: Ini aku lhoo, begini kejadian yang sebenarnya, begini perasaanku. Aku yang ingin didengar, ingin dianggap, ingin dimengerti, yang justru tanpa sadar melupakan Dia yang telah memanggil aku dalam pekerjaan ini. 


2 Timotius 1:9 mengatakan:

"Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman."

Pada akhirnya pun, proses menulis ini menjadi proses yang Tuhan pakai untuk mengubahkan hatiku. Mengubahkan keakuan dan keegoisanku. Ini bukan tentang aku, seharusnya memang bukan aku yang perlu ditonjolkan, tapi ini tentang Dia yang memintaku melakukannya. Dia sungguh Allah yang luar biasa, selalu tak pernah berhenti memprosesku dalam hal sekecil apapun yang aku alami. Bahkan proses penulisan dipakai-Nya untuk berbicara sesuatu kepadaku. Ia sedang terus membentuk dan mengubahkanku. Aku bersyukur pada proses ini.  


In the end, setelah satu bulan pengumpulan karya tulisan itu, ternyata karya-Nya masuk dalam top 50 kisah inspiratif se-Indonesia dan dimuat dalam sebuah buku. Ditambah lagi, ada pengembalian dana biaya pendaftaran lomba untuk para pemenang disertai dengan beberapa hadiah lainnya yang dikirimkan padaku sebagai penghargaan dari hasil karya tulisan itu. Memang tidak pernah menyangka kalau ending-nya akan dapat hasil seperti itu. Berawal dari sebuah ketaatan, panggilan yang terus mendesak hati untuk melakukan apa yang Tuhan perintahkan, hingga mengasilkan sebuah Karya Indah dari Sang Maestro Kehidupan. Bahkan yang paling aku syukuri, ternyata dalam proses menulis suatu karya pun Tuhan mampu menjadikan proses pembentukan karakter dalam diriku dan menyentuhku secara pribadi. Tujuannya pun kembali lagi, bagi kemuliaan-Nya.


Aku bersyukur untuk setiap pengalaman proses penulisan karya yang pernah dan yang akan aku alami berikutnya. Semoga tulisan itu pun bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk mengenal bagaimana Allah bekerja dan berkarya dalam banyak segi kehidupan. Dalam proses behind the scene menulis sekalipun, selalu ada kejutan-kejutan indah yang Tuhan sedang kerjakan untuk bisa selalu disyukuri. 


Terima kasih untuk para komentator tulisanku yang tidak perlu disebutkan namanya, sudah menjadi alarm-ku (alat-Nya Allah) untuk mengingatkan aku kembali pada tujuan yang seharusnya. Terimakasih sudah menjadi bagian di dalam proses karya itu. Terimakasih Ignite people yang sudah setia membaca pengalaman ini, semoga bisa semakin menyemangati kita semua untuk terus berkarya dan berbagi inspirasi melalui tulisan.


Menulis adalah proses mencipta. Dalam suatu penciptaan, seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi juga perlu menyertakan jiwa dan napas hidupnya. Itu kenapa menulis butuh HATI. Bahkan hati yang JUJUR, yang bersedia dibentuk dan diproses.


"Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang, 

sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu." 
- 2 Korintus 9:13-14

Hargai setiap hal kecil yang terjadi di hidupmu, bisa jadi Tuhan mau pakai hal kecil itu menjadi Karya Indah-Nya. SemangArt dan selamat berkarya bersama-Nya.

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER