#SPY2 – Belajar dari Yael Trusch : Pola Asuh dalam Yudaisme

Going Deeper, God's Words, 23 January 2021
What G-d is to the world, that parents are to their children - Philo Judaeus (Philo of Alexandria)

Baca #SPY1 di sini

Yael Trusch, seorang ibu yang berprofesi sebagai seorang penulis dan juga pembicara ini menulis sebuah artikel dalam website www.chabad.org berjudul “7 Jewish Parenting Principles, Inspired by Experience”. Dalam artikelnya tersebut, Yael menceritakan bagaimana dirinya belajar menjadi orang tua untuk pertama kalinya di tahun 2006, dengan berbekal buku ‘warisan’ dari sang ibu. Namun ia tetap saja kesulitan menghadapi realitas kehidupan sebagai orang tua. Menyadari keterbatasannya tersebut, ia kemudian mencoba "menilik" kebijaksanaan Yudaisme kuno untuk menemukan sebuah jawaban. Baiklah, mari kita melihat tujuh prinsip pola asuh yang Yael temukan dalam Yudaisme berbasis Kitab Tanakh dan Talmud


Parenting Is a Partnership

Yael Trusch mengutip sebuah perikop dalam Mishnah yakni, Kiddushin 30b. Ayatnya yang pertama dikutip Amsal 7:4,

“Katakanlah kepada hikmat:

Engkaulah saudaraku dan sebutkanlah pengertian itu sanakmu,”


Frasa ‘"engkaulah saudaraku" yang ditujukan kepada hikmat diartikan (dalam Kiddushin) sebagai sebuah ajakan untuk setiap kita sebagai manusia berkawan karib dengan hikmat, itu artinya manusia juga diajak untuk memiliki hikmat yang setara dengan hikmat yang ada dalam Torah. Kemudian, penulis Kiddushin 30b juga mengutip beberapa ayat dalam Mazmur (127:4, 120:4, 45:6) yang mengatakan bahwa nasib anak-anak panah yang tajam, yang mampu ‘menembus jantung musuh raja’ itu berada di tangan si pemanah atau disebutkan sebagai "pahlawan", begitu juga anak-anak di usia muda (127:4b). 


Jika dikaitkan dengan Amsal 7:4 tadi, maka kita melihat bahwa penulis Kiddushin 30b ini, ingin menunjukkan bahwa orang tua sebagai "sang pemanah’", perlu memiliki hikmat dalam mendidik anaknya, sebab didikan itu akan berdampak begitu besar terhadap masa depan sang anak. Namun, hikmat yang sejati yang kita kenal ialah hikmat dari Allah saja, bukan? Itu berarti manusia, dalam hal ini orang tua, juga turut diundang untuk berkawan karib dengan Allah dalam pengasuhan terhadap anak-anaknya. Sebab, bila "si pemanah" tadi dengan tepat mengarahkan anak panahnya kepada target yang dituju, maka anak panah itu mampu mengalahkan musuh (artinya mempunyai dampak), namun, jika tidak diarahkan secara tepat, boleh jadi anak panah yang tajam tadi hanya jatuh ke tanah. Begitupun dengan orang tua, jika berhasil mendidik anak-anaknya dengan tepat, maka anak-anak itu akan memiliki dampak bagi dunia di sekitarnya di masa depan, jika tidak, mungkin ia akan redup dan kehilangan makna hidupnya sendiri. Nah, Yael Trusch mengatakan bahwa orang tua tidak bisa memungkiri bahwa ada banyak hal yang terjadi di luar kemampuannya dalam mengasuh anak-anak, dan orang tua tidak akan mampu melewatinya tanpa bantuan dan hikmat dari Tuhan. Itulah kenapa dalam mengasuh anak, sudah semestinya orang tua menjadikan Tuhan sebagai mitra, artinya berkawan karib dengan Tuhan sehingga orang tua mendapatkan hikmat dalam mengasuh anak-anaknya. 


Photo by Standsome Worklifestyle on Unsplash 


Uniknya, dalam Kiddushin 30b:2, mitra disebutkan sebagai "enemies in the gate". Jika demikian, bagaimana orang tua dapat bermitra dengan Tuhan kalau Dia disebutkan sebagai "musuh"? Kata "musuh’" di sini diartikan sebagai hubungan antara dua pihak dalam sebuah diskusi ilmiah atau studi mengenai suatu hal (misalnya hubungan antara para Rabbi dan murid-muridnya). Jika Tuhan menjadi mitra sekaligus "musuh" orang tua dalam mengasuh anak, kita dapat membayangkan sebuah situasi dimana Tuhan dan orang tua berdiskusi dan bercakap-cakap tentang cara pengasuhan yang tepat terhadap sang anak. Bisa jadi dalam diskusi tersebut, orang tua tidak setuju dengan apa yang dikatakan Tuhan, lewat Alkitab, tanda-tanda, suara hati, atau juga hal lain. Ketidaksetujuan ini tidak perlu dipandang buruk, sebab kita tahu hubungan bermitrapun bukan hubungan yang terhindar dari konflik. Penulis Kiddushin 30b juga menambahkan, sebab meskipun mereka ialah  musuh, mereka tidak akan meninggalkan satu sama lain sebelum dicapainya kembali hubungan cinta kasih di antara keduanya. 


Maka, bermitra bersama dengan Tuhan dalam mengasuh anak-anak berarti sadar bahwa orang tua perlu berkawan karib dan terus mencari hikmat Tuhan dalam kehidupan berkeluarga, khususnya dalam hal menjadi orang tua. Ketika hikmat Tuhan tadi terasa begitu berat untuk dilakukan, maka coba ingatlah bahwa hikmat sejati yang kita kenal hanya hikmat yang berasal dari Tuhan, untuk itu, kita mempersempit ruang bagi kemungkinan untuk meninggalkan atau menjauh dari Tuhan, sebagai mitra maupun musuh.


Selamat bermitra dengan Allah!

*Prinsip-prinsip Jewish Parenting dari Yael Trusch lainnya akan dibahas pada artikel-artikel #SPY selanjutnya. See you!

LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER