"Mudah Menyerah" Bukan Nama Tengahku

Best Regards, Live Through This, 11 November 2019
It is not "Do the best and God will do the rest" but "Do the best with God till the end".

Aku menulis ini di dalam sebuah kereta yang membawaku kembali pulang. Aku baru saja selesai menikmati liburanku yang sangat remeh (menurut beberapa temanku). Ya, pergi ke Jakarta untuk liburan sebenarnya memang terdengar tidak menarik. Tapi bagiku perjalanan ini sangat menarik. 

“Mengingat hidup” - Sepertinya judul ini yang tepat menggambarkan liburanku kali ini. 

Photo by Ankush Minda on Unsplash


Cerita ini dimulai pada awal tahun 2017. Bocah yang baru saja lulus kuliah dan ingin mencoba mencari peruntungan seperti orang-orang di ibukota. Berangkat dengan semangat dan membawa semua mimpi ke sana. Berbekal ijazah kelulusan lengkap beserta fotokopi transkrip nilai yang sudah dilegalisir dan beberapa lembar sertifikat, aku pergi ke Jakarta. 

Mencoba peruntungan dengan mengirimkan segepok berkas ke puluhan perusahaan, mulai yang baru kudengar namanya sampai perusahaan yang sering muncul di iklan. Sudah puluhan kali aku melalui berbagai tahap pencarian kerja, puluhan kali juga aku tidak menerima kabar lanjutan.

"Mau sampai kapan?" adalah pertanyaanku setiap hari ke Tuhan, dan sekaligus pertanyaan untuk diriku sendiri. Mudah menyerah mungkin akan menjadi nama tengahku jika aku berhenti, jadi aku memilih untuk istirahat sebentar. Beberapa kali aku memilih untuk pulang ke Jogja dan beberapa kali pula aku harus pergi lagi ke Jakarta karena ada perusahaan yang memanggilku wawancara. "Sepertinya ini jawaban Tuhan," harapku sembari menunggu kereta menuju ke Jakarta. 

Aku mengikuti semua kemauan Tuhan. Berdiam di Jakarta dengan dana pas-pasan, pulang karena menyerah, dipanggil kembali ke Jakarta, berdiam, pulang, kembali dan begitu seterusnya sampai aku merasa berada pada titik terendahku setelah berjuang selama 7 bulan. Aku menyerah dan tidak peduli jika "mudah menyerah" ada di nama tengahku. 

"Sudah cukup Tuhan. Ini adalah perusahaan terakhir. Jika aku tidak mendapatkan pekerjaan di perusahaan ini, aku akan pulang dan tidak akan pernah kembali." Betul saja, pada hari surat penolakan itu masuk ke e-mail, aku memutuskan untuk pulang dan berhenti. Rasanya hancur sekali. 

Photo by chuttersnap on Unsplash

Beberapa bulan berlalu, Tuhan seperti datang memberi pengharapan lagi. Setelah lima tahun tidak pernah membuka seleksi, pekerjaan yang aku impikan akhirnya mencari kandidat. Aku mengikuti proses seleksi administrasi dan aku berhasil. Pada hari pertama ujian, aku datang dua jam sebelum jadwal. Namun, ternyata aku salah jadwal.

Seharusnya aku tes pukul 11, tetapi yang aku pikirkan adalah tes pukul 13. Menurut peraturan aku tidak boleh ikut tes, tetapi entah mengapa tes di jadwal sebelumnya mengalami keterlambatan sehingga aku masih bisa masuk. Dengan gemetar hebat, aku menjawab semua pertanyaan di komputer. Mataku terasa penuh dengan kunang-kunang saat aku melihat hasil akhirku tepat saat aku selesai mengerjakan tes. 

Nilai tertinggi di antara seluruh kandidat pada tes di jadwal itu. Tuhan memberikan akhir manis, kataku. Beberapa tes kulalui dengan hati yang berkobar. Rasanya senang sekali karena Tuhan akan membuka pintu yang selama ini tertutup. 

Hingga waktu pengumuman tiba dan aku dinyatakan tidak lulus. 

Photo by chuttersnap on Unsplash

Nilai yang berbeda 0,1 dari peserta yang diterima seharusnya membuatku sesak atau marah, tetapi aku tidak merasakannya sama sekali. Saat itulah aku merasa bahwa penyertaan Tuhan adalah nyata. Pada titik itu aku disadarkan bahwa jika aku tidak merasakan kegagalanku sepanjang tahun 2017, bisa saja aku akan depresi saat mendapatkan pengumuman kegagalanku. Jika saja Tuhan tidak membuatku terbiasa datang lebih awal saat melakukan tes di Jakarta, mungkin aku tidak mendapatkan kesempatan merasakan tes yang aku idamkan karena aku akan datang terlambat. 

Aku percaya Tuhan tidak main-main dengan perjalananku. Aku dibentuk dan diproses dengan keras tapi Ia tidak pernah meninggalkan aku sendiri. Ia selalu memberikan kecukupan dan kebahagiaan, mulai dari keuangan keluarga yang cukup untuk membuatku bisa hidup nomaden, teman-teman yang terus ada, kebahagiaan dalam hal-hal kecil selama perjalanan hidupku sepanjang tahun.

Aku menyadari bahwa pintu itu sebenarnya tidak pernah tertutup. Hanya saja, aku tidak pernah berusaha melihat celahnya. 

Photo by Joaquin Paz y Miño on Unsplash

“Mengingat hidup,” kuingatkan lagi judul liburanku kali ini pada kalian. Merasakan bagaimana penyertaan Tuhan nyata, mencoba mengingat bahwa aku pernah berada di dalam gedung-gedung tinggi itu serta pernah bertahan berjam-jam di dalam gerbong ekonomi untuk pergi berjuang. Aku tahu bahwa aku tidak akan pernah tahu rasanya bangkit jika aku tidak pernah jatuh dan Ia yang membuatku menjadi sangat kuat sampai hari ini.


Kereta Matarmaja, 11 November 2019.

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER