Menata Ulang Kehidupan: Mengembalikan Kursi Sutradara kepada-Nya

Best Regards, Live Through This, 06 August 2019
Tuhan akan bekerja melalui diri kita ketika Dia terlebih dulu bekerja di dalam kita.

Ada beberapa pertimbangan yang membuatku harus merelakan impian yang sangat ingin kuraih dan memilih untuk taat pada keputusan keluarga besar. Jadi di sinilah aku, menjalani empat tahun perkuliahan tanpa semangat dan tujuan. Kehidupanku dipenuhi dengan penyesalan dan kemurungan. Bukannya mendekat pada Sang Sumber Kehidupan, kekecewaan akan impian dan rencana masa depan yang kandas justru membentukku menjadi manusia berjiwa kering, tandus, dan tidak berbuah.

Keadaan tersebut juga disokong dengan kenyataan bahwa akulah satu-satunya yang beragama Kristen di lingkungan kampus! Ini juga yang menyebabkan absennya perbedaan antara cara hidupku dengan teman-teman di sana. Bahkan saat ada sahabat dekatku yang sering bertanya tentang kekristenan, aku malah menjawabnya dengan sambil lalu.

Yeah, ternyata pemahaman mengenai dasar-dasar iman belum tentu membuat seseorang memiliki kehidupan rohani yang mendalam. Sebanyak apapun doktrin yang masuk ke otak, nyatanya sampai saat itu tidak ada signifikansinya bagi kehidupanku. Karena itulah, menghindari pertanyaan-pertanyaan tentang hal tersebut menjadi jalan keluar yang mudah. Keegoisanku terlalu besar, sehingga aku hanya mampu mengasihani diri sendiri atas kegagalan dalam meraih cita-cita.


Image by Jason Wong from Unsplash


Menemukan Titik Kesalahan

Suatu hari, di tahun terakhir perkuliahanku, aku melihat sebuah bukuyang tak kuingat bagaimana bisa ada di situ, dan sepertinya juga belum pernah kubaca. Dalam buku itu, ada kalimat yang menempelak hidupku:

“Ketakutan kita yang terbesar sebagai individu atau gereja seharusnya bukan terhadap kegagalan, tetapi terhadap keberhasilan dalam hal-hal di hidup ini yang sebenarnya tidak terlalu berarti.” — Tim Kizziar

Kalimat tersebut menyadarkanku bahwa selama ini, aku justru menjadikan Kristus sebagai "alat bantu", bukan sebagai penguasa hidupku. Fokus utamanya adalah diriku sendiri, sehingga Dia hanya kugunakan untuk mencapai keberhasilan dan impian-impian menurut versiku, bukan versi-Nya. Akibatnya, saat semuanya tidak berjalan sesuai rencana, hanya kekecewaan dan putus asa yang tersisa. Padahal seharusnya, Kristuslah yang jadi sutradara dalam kehidupanku, bukan pesuruh.


“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2 : 5 - 8


Ketaatan seperti itulah yang Kristus teladankan.

Bukan kehendak-Nya yang jadi, melainkan kehendak Bapa. 

Bukan kemegahan dan keberhasilan dunia yang jadi tujuan-Nya, melainkan kemuliaan Bapa. 

Bukan kenyamanan yang Ia terima, melainkan cawan murka Allah.

Bukan ketaatan bersyarat yang dikerjakan-Nya, melainkan ketaatan mutlak.


Kalau begitu, apakah aku masih berhak untuk terus mengasihani diri? Tidak.




Pikiran dan Jiwa yang Baru

Mulai hari itu, cara berpikirku mulai diubahkan secara perlahan-tapi-pasti oleh Tuhan. Aku menyadari bahwa diri ini telah terlalu berfokus pada apa yang tidak Tuhan berikan, sehingga melupakan apa yang sudah jelas-jelas diberikan-Nya padaku. Aku mulai melihat ke arah para sahabatku yang belum mengenal Kristus, bertanya dan bergumul di dalam-Nya, “Tuhan, apa yang Engkau mau untuk aku lakukan bagi mereka?

Satu hal yang aku percaya, Tuhan akan bekerja melalui diri kita ketika Dia terlebih dulu bekerja di dalam kita. Setelah menyadari hal ini, aku kembali bersekutu dengan-Nya melalui perenungan firman dan doa. Tuhan juga mempertemukanku dengan orang-orang yang menjadi teman seperjalanan untuk belajar tentang kasih, ketaatan, dan iman.

Perlahan-lahan, pengenalanku terhadap Tuhan semakin bertambah, imanku semakin bertumbuh, dan jiwaku senantiasa dipuaskan-Nya. Di saat kerohanianku mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan, Tuhan juga menjawab salah satu doaku. Beberapa bulan kemudian, seorang sahabat yang sering menanyakan tentang imanku itu bersedia menerima Alkitab dan mengenal lebih dalam tentang Kristus. 




Akhirnya semua menjadi lebih jelas. Tuhan memang tidak mengizinkan impian lamaku terwujud, karena Ia memiliki rencana tersendiri dengan menempatkanku di kampus itu dan mempertemukanku dengan sahabat-sahabatku yang sekarang. Sesuatu yang menakjubkan bahwa hal yang dulu selalu kuhindari, kini menjadi sukacita luar biasa dalam diriku! Aku tidak habis pikir, mengingat kekecewaanku pada Kristus beberapa waktu silam menjadi penghalang untuk sahabatku dalam mendengar Injil.


Bagi kamu yang mungkin sedang kecewa akan hal-hal yang kamu pergumulkan, jangan langsung tutup hatimu. Tuhan menempatkanmu di posisi itu untuk membentukmu semakin serupa dengan-Nya. Mintalah agar Dia menajamkan kepekaanmu akan apa yang dikehendaki-Nya, serta ketaatan untuk menjalaninya. Biarkan Kristus yang menjadi sutradara kehidupanmu, dan nantikan hingga segalanya terlihat jelas.


“Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” — Yohanes 4 : 34

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER