#SPY1 - GET TO KNOW : Yudaisme, Tanakh, dan Talmud

Going Deeper, God's Words, 23 January 2021
God has only one simple request from each of us – that we get to know Him - Rabbi Shalom Arush

Hai, Ignite People! Mulai dari artikel ini (hingga beberapa buah kemudian), saya ingin mengangkat sebuah tema yang terbagi menjadi beberapa artikel kecil, yaitu #SPY. Nah, apa itu #SPY? Apakah kita akan membahas cara untuk memata-matai seseorang seperti stalking gebetan?

Tenang, #SPY yang saya maksud adalah singkatan dari Seri Parenting dalam Yudaisme. Mungkin beberapa dari kita pernah atau bahkan sering mendengar bagaimana orang-orang Yahudi dikenal sebagai bangsa yang jenius. Itulah yang menumbuhkan ketertarikan saya untuk mengkaji bagaimana pola asuh bangsa Yahudi (khususnya Yudaisme yang berbasis pada Kitab Tanakh dan Talmud), sebab pola asuh pasti berpengaruh pada bentuk kepribadian serta pola pikir anak di masa depan. Namun, sebelum itu baiklah kita mengenal dulu apa itu Yudaisme, Tanakh dan Talmud.

Apa yang selama ini kita pahami tentang orang-orang Yahudi yang seringkali disebutkan dalam berbagai kisah di Perjanjian Baru? Sebuah bangsa, agama, ras, atau sebuah kelompok kepercayaan? Sebagian besar kita mungkin juga tidak asing dengan nama-nama seperti orang Saduki, Farisi, dan ahli-ahli Tauratdan mungkin yang terlintas dalam benak kita saat mendengar nama-nama itu  ialah penolakan terhadap kehadiran Yesus. Banyak pertanyaan-pertanyaan seputar bangsa Yahudi juga Yudaisme yang terus mendarat di permukaan dalam banyak percakapan para umat Kristen. Pertanyaan seperti, sebetulnya bagaimanakah Kekristenan jika diperhadapkan dengan Yudaisme?



Photo by Zoltan Tasi on Unsplash 


Yudaisme diperkirakan lahir dan berkembang pada awalnya di daerah Syria (sekarang Palestina), dan Abraham"pendiri" agama Israel Kuno sekitar 4.000 tahun silam. Karena itu, Yudaisme mempercayai bahwa merekalah turunan asli dari agama Israel Kuno, pun menurut sejarah dan tradisi Alkitab. Dalam tradisi Alkitab, Perjanjian Lama menggambarkan perjalanan bangsa Israel sebagai umat pilihan TUHAN dengan agamanya yang disebut Israel Kuno. Kemudian, dalam Perjanjian Baru, Alkitab menggambarkan kehidupan masyarakat Yahudi dengan Yudaismenya yang kuat, beberapa golongan seperti Farisi, Zelot, Sanhedrin dan Saduki mewarnai dinamika kehidupan umat pada saat itu. Bahkan, Yesus pun lahir dalam keluarga yang begitu menjaga dan melestarikan Yudaisme (Lukas 2:41). Baru setelah kenaikan  Yesus ke surga itulah, para murid pergi ke luar daerah untuk mengabarkan injil Kristus, sampai terbentuklah jemaat mula-mula dan kekristenan semakin berkembang. 

Jadi, bila kita melihat runtut sejarahnya memang Kekristenan sebetulnya lahir pasca kenaikan Yesus ke surga dan Yudaisme telah berkembang jauh sebelumnya. Itulah alasan Yudaisme tidak memiliki kitab semacam Perjanjian Baru yang menceritakan perjalanan kehidupan Yesus sebagai Mesias yang dinantikan dan kelahiran kekristenan serta gereja-gereja, seperti dalam kekristenan, sebab mereka tidak meyakini bahwa Mesias yang selama ini dinantikan telah hadir dalam diri Yesus. Yudaisme menggunakan kitab Tanakh (kita mengenalnya dengan sebutan ‘Alkitab Ibrani’) sebagai kitab suci mereka. Pertanyaan mengenai perbedaan kitab suci dalam Yudaisme dan Kekristenan agaknya juga masih sering muncul dalam kalangan umat Kristen. Nah, mari kita sama-sama mengenal apa sebenarnya yang dimaksud Tanakh dan Talmud dalam Yudaisme!




Kitab Tanakh

Nama Tanakh sebetulnya merupakan sebuah akronim dari pembagian Alkitab Ibrani ke dalam tiga bagian besar, yakni Torah, Nevi’im, dan Ketuvi’im. Kitab Tanakh merupakan kitab suci bagi Yudaisme yang mencakup keseluruhan hukum Taurat, perjalanan hidup para leluhur mereka dan memiliki otoritas tertinggi untuk menilai setiap tindakan umat. Kitab Torah bahkan mencakup 613 hukum Taurat yang sangat ditaati oleh para Rabbi dan umat Yudaisme yang masih betul-betul strict dalam menjalani Taurat Musa. Tanakh menjadi salah satu sumber hukum paling penting dalam Yudaisme.  

Kitab Tanakh terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu :

1.Torah: Bagian ini sering juga dihubungkan dengan ‘taurat-taurat Musa’. Torah sendiri dalam Bahasa Ibrani berarti "Pengajaran" dan dalam Bahasa Inggris disebut sebagai "Law’" Kitab-kitab yang menjadi bagian dari Torah ialah, Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan.

2. Nevi’im: Dalam Bahasa Ibrani, Nevi’im berarti “Nabi-nabi”. Pada bagian kedua dari Kitab Tanakh ini, dituliskan sejarah perjalanan para raja, nabi dan hakim-hakim  Israel. Nevi’im kemudian terbagi lagi menjadi tiga bagian, bagian pertama disebut juga former seperti kitab Yosua, Hakim-Hakim, 1 dan 2 Samuel, dan 1 dan 2 Raja-Raja. Bagian kedua (latter) terdiri dari kitab-kitab nabi besar pada masa pembuangan seperti Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel. Dan, bagian terakhir (The Twelve Minor) yakni 12 nabi-nabi kecil seperti, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi.

3. Ketuvi’im: Bagian ini dikenal juga sebagai kitab-kitab sastra dan surat-surat, dalam Bahasa Inggris disebutkan "Poetry". Yakni, kitab-kitab yang berisikan puisi, nyanyian, dialog-dialog yang menjadi prosa juga surat-surat beberapa tokoh Alkitab, seperti kitab Mazmur, Amsal, Ayub, Kidung Agung, Pengkhotbah, 1 dan 2 Tawarikh, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia, dan Ratapan.


Photo by Thomas Vogel on Unsplash 


Kitab Talmud

Selain Tanakh, ada kitab lain yang juga dipakai oleh sebagian besar umat agama Yahudi, yakni Talmud. Talmud merupakan kitab yang berisikan pengajaran dan tafsiran (disebut juga sebagai "Taurat lisan yang tercatat"), khususnya pada bagian Torah, oleh para Rabbi-Rabbi besar yang kemudian juga dijadikan salah satu sumber hukum (meskipun otoritasnya tidak setinggi Tanakh) dalam mengatakan benar-salah pada ritus-ritus keagamaan maupun kehidupan sehari-hari. Pada masa kini, para Rabbi modern mulai menemukan tafsiran-tafsiran lain yang lebih kontekstual, meskipun begitu Talmud tidak ditinggalkan, ia tetap menjadi basis dalam metode tafsir apapun yang lebih modern dan kontekstual. 

Kitab Talmud dibagi ke dalam dua bagian besar, yaitu :

1. Mishnah: Disusun oleh Rabbi Judah Ha’Nasi, seorang Rabbi abad ke-2 (135-217 M) yang memegang peranan penting dalam komunitas Yahudi yang berkembang di zaman pendudukan Yehuda oleh Romawi. Ia menuliskan hukum-hukum Taurat lisan, agar tidak terjadi misinterpretasi di kemudian hari. Bagian ini menjelaskan bagaimana seharusnya umat mengikuti apa yang disebut dengan Mitzvot (dalam bahasa Ibrani berarti perintah atau "commandment"").

2. Gemara: Di dalamnya memuat diskusi-diskusi para Rabbi, terkait dengan apa yang tertulis dalam Mishnah. Gemara mengandung apa yang disebut Halakhah (legal material) dan Aggadah (narrative material) juga komentar-komentar Rabbi-Rabbi lainnya. Gemara menjelaskan kata atau istilah-istilah pelik yang muncul dalam Mishnah dalam pandangan para Rabbi.

Kiranya tulisan singkat mengenai sejarah dan apa itu Yudaisme serta tentang seperti apa Kitab Tanakh dan Talmud ini, membantu teman-teman untuk lebih mengenal dunia Yudaisme yang sebetulnya begitu lekat dengan perjalanan iman kita. Oh iya, jika teman-teman tertarik untuk membaca Talmud serta teks-teks lain dalam Yudaisme, teman-teman bisa akses di www.sefaria.org.


Let’s dive in!

See ya on the next part!

LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER