Tertidur Karena Dukacita: Pembacaan Getsemani dalam Depresi di Kala Pandemi (1)

Going Deeper, God's Words, 21 September 2020
"Di saat seperti ini tidak ada gunanya bersaing mengaku-ngaku paling menderita. Namun tetap, bagi setiap orang, kesesakan kali ini adalah personal."

Masa pandemi ini menyesakkan. Saya yakin semua mengamini pernyataan ini, bahkan mungkin merasa pernyataan ini terlalu halus. Tidak perlulah saya mengulang-ulang data korban Virus Corona beserta dampak ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan yang menyertainya.

Setiap kita mengalami kesesakannya sendiri-sendiri di masa ini. Ada yang mengalami menjadi korban positif, ada yang orang terdekatnya positif dan bahkan meninggal, ada yang kehilangan pekerjaan dan kesulitan dalam bisnis, ada rasa takut beraktivitas, ada kecurigaan satu sama lain, ada yang mengalami kelelahan mental-fisik luar biasa khususnya yang dialami tenaga kesehatan, hingga munculnya amarah berlarut-larut terhadap gagalnya penanganan negara maupun terhadap masyarakat yang masa bodoh, bahkan mengeluarkan bacotan teori konspirasi. Semua adalah kesesakan yang valid.

Di saat seperti ini tidak ada gunanya bersaing mengaku-ngaku paling menderita. Namun tetap, bagi setiap orang, kesesakan kali ini adalah personal. Begitu pula bagi saya, yang walaupun memiliki privilege kelas menengah urban, juga punya masalah yang membuat berkali-kali ingin menyerah: Posisi sebagai pengangguran tepat sebelum pandemi merebak, beserta kondisi depresi yang terus menghantui.


KECEMASAN DIMULAI: PANDEMI YANG MENYESAKKAN

Keputusan resign dari pekerjaan sebulan sebelum Corona “resmi” masuk Indonesia adalah “keberuntungan” yang membuat miris. Saya menyesali kebodohan diri, tidak memastikan pekerjaan baru sebelum resmi mengundurkan diri. Saya pun diperhadapkan pada masa penuh kekhawatiran. Berbulan-bulan bergantung pada cadangan dana darurat dan kemurahan hati dari sana-sini, beserta pencarian kerja tak berkesudahan, yang sempat terasa sia-sia karena berbulan-bulan tidak ditanggapi. Yah, siapa pula yang mencari pegawai baru saat Corona sedang gila-gilanya merasuk histeria?

Sementara itu, pergumulan dengan depresi klinis nampaknya terus menjadi kisah “benci-cinta” tiada akhir. Ketika saya merasa pulih, dia menghampiri dengan cara-cara baru, seolah-olah menegur keangkuhan saya saat merasa mampu dan hebat. Tahun ini dia begitu rajin menyapa, memunculkan lagi konflik-konflik di kepala, dengan keluarga maupun dengan pasangan, overthinking soal berita-berita menyedihkan di media, maupun ketakutan pengelolaan finansial yang hancur berantakan.

Tujuh bulan ini penuh dengan tidur berlebihan. Setiap orang dengan pergumulan kesehatan mental memiliki gejala yang unik. Gejala yang cukup menonjol untuk saya adalah jam tidur yang liar, kadang melalui malam tanpa memejamkan mata, tapi lebih sering tertidur sampai 9 jam lebih. Tidur berlebihan karena tidak sanggup menampung rasa berat, sedih, cemas, murung, dan dukacita yang berkecamuk, yang kadang bahkan saya tak kenali alasannya. Saya tertidur karena dukacita.

Tidur karena dukacita. Frasa yang baru saya kenali ulang ternyata ada di Alkitab, di Lukas 22:45, saat murid-murid Kristus mendampingi Dia yang berpeluh darah di Getsemani. Taman tempat pemerasan zaitun yang ternyata juga jadi tempat pemerasan segala emosi juga kecemasan Yesus dan para murid-Nya menjelang pengkhianatan dan penangkapan.


KECEMASAN MULAI MERASUKI MURID-MURID: SIA-SIAKAH INI SEMUA?

Photo by Kasper Rasmussen on Unsplash 

Ketiga Injil Sinoptik mengulas dengan lengkap (Matius 26, Markus 14, dan Lukas 22) rangkaian peristiwa dan preseden menjelang penangkapan yang menyesakkan itu. Ketiga pasal dimulai dengan disusunnya rencana pembunuhan Yesus mendekati hari raya Roti Tak Beragi, atau Paskah Yahudi. Pengkhianatan Yudas mulai direncanakan. Meja perjamuan di Masa Raya Paskah telah disiapkan. Perjamuan itu mulai, murid-murid mulai melihat gelagat-gelagat mencemaskan dari-Nya yang berbicara mengenai roti sebagai tubuh-Nya dan anggur sebagai darah-Nya. Murid-murid kebingungan, malah berdebat soal siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus mulai berbicara mengenai goncangnya iman para murid. Mereka pun tidak terima, bahkan Petrus merasakan urgensi untuk mengonfirmasi imannya. Tapi Yesus malah membicarakan pengkhianatan dan penyangkalan mereka.

Saya tidak akan berpura-pura paham kecemasan dan ketakutan para murid. Tapi saya ingin coba membaca pasal-pasal krusial ini dengan menempatkan diri dalam posisi para murid di masa itu. Suara-suara pun mulai berkecamuk di kepala.

“Benar, Yesus Kristus begitu luar biasa. Sudah tampak saat Dia memanggil kita. Dia berkuasa, bernubuat dan berkhotbah. Perumpamaannya sering membuat bingung tapi begitu tampak hikmat-Nya yang bukan dari dunia ini. Dia membuat berbagai mukjizat yang mengherankan, melawan kakunya aturan Taurat yang mulai kehilangan esensinya, menyampaikan pesan pemberontakan terhadap imperium Romawi, menyerukan Kerajaan Allah sebagai perlawanan dan penggenapan pembaruan ciptaan.

"Tapi, ada yang janggal. Mengapa Mesias ini semakin aneh? Mana revolusinya? Bukankah Mesias seharusnya membawa pembebasan bangsa dari cengkeraman penjajah menjadi kenyataan? Bukankah Mesias seharusnya menunjukkan kedigdayaan, kemegahan, otoritas nyata, bahkan merancang pemberontakan yang agung? Mengapa bukan kuda perkasa, malah keledai yang memalukan? Mengapa malah bicara soal hidup yang berkorban dan kematian yang semakin mendekat? Mengapa revolusi lemah lembut, alih-alih revolusi yang menghimpun massa untuk bertarung hebat?

"Mengapa semakin gelap? Apakah keputusan mengikut yang menyebut diri-Nya Anak Allah ini ternyata keliru dan bodoh? Kenapa rasanya kegagalan gerakan ini semakin mendekat? Malah Dia semakin mantap memberikan diri, entah ke siapa, kepada pemuka Yahudi dan pemimpin Romawi mungkin? Apakah ini semua ternyata hanya kesia-siaan, dan tiga tahun ini hanyalah buang-buang waktu?

"Ini tidak benar. Tidak mungkin. Kuasa-Nya dan hikmat-Nya begitu mengherankan. Tapi kenapa Dia kini semakin menampakkan kerapuhan-Nya? Merendah untuk melayani? Barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan?

Photo by K. Mitch Hodge on Unsplash 

"Mengapa ini semua semakin mencemaskan? Mengapa pengharapan makin redup? Di mana optimisme sejak awal yang memampukan itu?

"Apakah jangan-jangan Yudas menyadari kenyataan ini sejak awal? Benar, dia pengkhianat yang jahat. Tapi bukankah dia hanyalah orang yang lebih awal sadar bahwa harapannya sia-sia?

"Tidak, tidak boleh, iman terhadap Mesias sudah bulat. Kebenaran dan pembelaan harus dipertahankan. Ini hanyalah overthinking. Masa depan akan cerah dan penuh kegemilangan penaklukan atas mereka yang fasik. Pengkhianatan kami? Tidak mungkin! Perjuangan akan diteruskan dan kemenangan sudah dekat!

"Tapi mengapa rasa sepi yang memekakkan telinga ini begitu menyengat? Mengapa Dia terasa diam? Mengapa Dia terasa semakin kehilangan kemahakuasaan-Nya? 

"Ini tidak benar. Ini akan jadi bencana. Aku takut. Jangan-jangan memang kekalahan itu di depan mata. Kita akan mati. Hancur. Lupakan revolusi omong kosong. Kita hanyalah sekumpulan orang bodoh yang mendekati ajal. Tiga tahun mengikut Sang Guru ini sia-sia.”


bersambung ...

LATEST POST

 

"Ayo, kita naik gunung bersama!" Demikian beberapa teman mengajakku, dan aku menyetujuinya...
by Olyvia Hulda | 05 Dec 2020

Satu lagi karya ajaib buatan tangan Tim Dapur Visinema yang diberkati dengan kreativitas tanpa batas...
by Grifith Mercia | 05 Dec 2020

Note: Silahkan membaca Part 1 dan Part 2 terlebih dahulu.Kini kita telah memasuki bagian akhir dari...
by Alviedo Yuda | 05 Dec 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER