Tips Menjadi Bahagia Bersama Masalah

Best Regards, Live Through This, 19 November 2023
Yesaya 40 : 29 “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya.”

Kesehatan mental dan kebahagiaan merupakan salah satu bahan diskusi yang banyak dibicarakan orang, akhir-akhir ini. Mulai dari selebriti, akademisi, hingga politisi terus menunjukkan perhatian akan isu tersebut dan tampaknya penemuan akan sindrom, disorder, serta solusi penanganannya semakin beragam juga. Well, sepertinya pemahaman masyarakat akan isu ini ternyata semakin membaik dan kini, kita masuk pada tahap perkembangan selanjutnya yakni cara mengambil sikap.


Dengan sejuta informasi di luar sana tentang kesehatan mental, tentu ini amat membantu masyarakat untuk bisa mengenal dirinya lebih jauh dan memudahkan akses bantuan yang dibutuhkan. Namun, di sisi lain, terjadi juga hal yang menarik. Tampaknya, masyarakat kini dapat dengan mudah mengkategorikan dirinya mengidap penyakit/kelainan tertentu dengan mudah tanpa mempertimbangkan pendapat ahli. Dengan mudahnya, kita merasa bahwa diri kita memiliki segudang masalah yang pelik dan itu semua disebabkan dari bagaimana cara kita dibesarkan, bagaimana orang tua kita memberikan atau tidak memberikan cintanya, serta lingkungan yang kita hadapi. 


Mark Manson dalam Buku “The Subtle Art of Not Giving A F*ck” mengatakan bahwa masyarakat kita kini berevolusi menuju peradaban yang baru. Masyarakat yang sebelumnya menghadapi masalah-masalah fisik atau badani seperti tantangan pangan, kemakmuran, medis, dan finansial, kini menghadapi masalah abstrak atau rohani, salah satunya ialah kesehatan mental. Memang tampaknya hal ini merupakan tantangan yang serius bagi kita.



Dengan segala kemudahan yang memanjakan kita, fenomena ini juga menggeser pemahaman manusia tentang dirinya sendiri dan melupakan esensi penting dari kehidupan manusia, yaitu masalah. Siapapun kita, yang saat ini tengah menjalani kehidupan, pasti bisa sepakat bahwa masalah adalah sebuah aspek yang tidak akan lepas dalam kehidupan. 


Banyak orang menawarkan hal menarik untuk membantu kita menyelesaikan masalah yang kita miliki atau sekadar melupakan sejenak tantangan hidup yang harus dihadapi, namun ini lah hal yang berbahaya untuk diadopsi. Sebagai contoh, kita bisa melihat bagaimana budaya staycation atau liburan healing semakin populer demi alasan menjaga kesehatan mental. Kita bisa pergi ke restoran atau kafe fancy yang menyajikan makanan yang menggugah selera serta suasana yang nyaman untuk nongkrong atau sekedar me time. Belanja barang-barang mewah namun kurang penting juga menjadi salah satu opsi untuk melakukan self reward kepada diri sendiri. Apakah semua itu salah? Tentu tidak ada yang salah untuk sesekali memanjakan diri dan menikmati momen, tetapi sepertinya ini bukan hanya tentang salah dan benar. Ini adalah tentang bagaimana kita mengambil sikap dalam mengambil pilihan yang penting dalam hidup kita. 


Dengan sejuta opsi menawarkan kenyamanan dan pengalaman, hal ini akan jadi lebih menarik untuk dinikmati. Perlahan, kita akan merasa bahwa manusia tidak selayaknya mendapatkan masalah dan masalah merupakan aspek hidup yang harus dihindari. Ini tidak akan menolong kita membangun kondisi pikiran yang sehat, karena kita akan terbiasa untuk lari dari masalah atau menyelesaikan masalah dengan instan tanpa peduli proses. 


Kita bersyukur berkat inovasi teknologi, perkembangan ekonomi, dan medis yang ada, kini sebagian besar orang dapat menikmati hidup yang panjang dengan mudah. Untuk menyeimbanginya, penting untuk membangun kondisi mental yang sehat secara berkelanjutan. Agar kita dapat menikmati hidup yang panjang, kita harus bisa menikmati masalah yang dihadapi. Hidup ini bukanlah tentang bagaimana meminimalisir stress, namun tentang mengelolanya dan menerimanya menjadi bagian dari hidup kita.


Konsep antifragile atau mentalitas tahan banting, merupakan salah satu konsep yang diceritakan Tal Ben Sha-har sebagai pilihan alternatif dari kesenangan. Antifragile adalah kondisi mental yang tidak rapuh, adaptif, dan tahan dari tempaan. Tampaknya ini bukan solusi yang kita harapkan, namun antifragile akan menolong kita dalam menjalani karir, hubungan, serta aspek kehidupan pribadi kita.


Akan ada masanya ketika pekerjaan yang kita jalani terasa berat, atau pertengkaran dengan pasangan/keluarga sudah terlalu jauh, dan kita merasa terjebak atau linglung ketika melihat kehidupan kita. Ketika rasa senang atau bahagia tampak jauh dan payah, sebuah mentalitas yang baik akan membantu kita untuk menghadapi semuanya dan membuat kita bertahan. Daya juang yang tinggi adalah salah satu hal yang amat dibutuhkan di masa ini.


Langkah berikut adalah kiat-kiat kita dalam membangun kondisi mental antifragile yang lebih siap untuk kehidupan modern ini.


1. Merapikan tempat tidur dan kamar

Sudah banyak buku seperti “Make Your Bed” atau “The Life Changing of Tidying Up” yang menyampaikan bahwa rutinitas merapikan kamar atau tempat tidur di pagi hari akan membantu kita mempersiapkan diri pada hari tersebut. Ketika kita melipat selimut, merapikan bantal dan guling, serta membersihkan meja belajar/kerja kita, itu merupakan salah satu kemenangan kecil kita pada hari tersebut untuk membantu mentalitas kita dalam menghadapi tantangan yang lebih besar pada hari tersebut. Jadi, siap mencoba untuk menyisihkan 5-10 menit waktu mu untuk membersihkan kamar setiap hari?


2. Berolahraga 

Meski berat dan melelahkan, berolahraga akan membantu kita menjernihkan pikiran. Dalam rutinitas olahraga, kita dapat melatih kefokusan mental, menjaga ritme, serta menjaga konsistensi nafas. Olahraga merupakan simulasi kecil dari tantangan hidup yang akan kita hadapi dan kunci melewati sesi olahraga juga dapat kamu terapkan dalam menghadapi problema yang kita miliki.


3. Tidur yang cukup

Pikiran kita membutuhkan istirahat yang cukup setiap harinya. Untuk itu, usahakan senantiasa untuk menjadwalkan tidur kita secara cukup. Biasanya, 6-8 jam sehari adalah formula baku yang bisa kita terapkan untuk mengistirahatkan pikiran kita setelah letih beraktivitas seharian. Kita juga bisa menyisipkan waktu tidur di jam istirahat siang selama 5-10 menit.


4. Makan-makanan bergizi

Selain istirahat, pikiran yang sehat membutuhkan gizi yang seimbang juga. Otak manusia mengonsumsi sekitar 20 persen energi dari asupan kita sehari-hari. Dengan kebutuhan energi yang besar ini, perlu dijaga keseimbangan asupannya, seperti menjaga kadar kafein dalam minuman yang kita konsumsi, lebih banyak makan makanan berserat atau memiliki glikemiks rendah, serta mengonsumsi makanan yang terbukti bermanfaat untuk otak seperti ikan, kacang-kacangan atau biji-bijian, serta ragam jenis sayuran atau buah

 

5. Berdoa

Menjadikan doa sebagai bagian dari rutinitas pribadi kita, ternyata juga memiliki manfaat psikis. The Wall Street Journal, menyampaikan beberapa temuan bahwa berdoa akan membantu pikiran menjadi lebih tenang, meningkatkan pain tolerance, serta menurunkan tingkat anxiety dan stress. Maka itu, jangan lupa untuk meluangkan waktu kita untuk berada dalam hadirat Tuhan! Meski itu tidak lebih dari 5 menit, namun jika dilakukan secara terus menerus, tentu ini dapat menjadi rutinitas yang menolong kita untuk menghadapi tantangan hidup selanjutnya.


Jadi, jika kamu selanjutnya menemukan kalimat “..., dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya,” ingatlah bahwa kamu sedang membaca dongeng. Dunia yang kita hidupi tidaklah sempurna, dan pemahaman kita akan kebahagiaan masih terlalu sempit.


Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” —1 Korintus 10:13




Ignite People yang kukasihi, semoga kita bisa terus ingat bahwa meski permasalahan hidup yang selama ini kita hadapi rasanya tak ada habisnya atau kita merasa terdesak dan tak melihat jalan ke luar, ingatlah selalu bahwa Tuhan tak pernah memberikan tantangan hidup yang lebih dahsyat dari yang dapat kita terima. Semoga kita bisa terus mengingat Tuhan dalam setiap pergumulan kita, agar bukan hanya kondisi pikiran kita saja yang terbangun menjadi lebih kokoh, namun kondisi hati dan hubungan pribadi kita dengan Tuhan pun menjadi lebih baik, intim, dan tentunya bermakna.


Pada akhirnya, pikiran kita merupakan anugerah dari Tuhan yang tidak hanya harus kita rawat dengan baik, namun Tuhan menciptakan hal tersebut dengan tujuan. Jagalah ketajaman pedang karena sewaktu-waktu, perang akan datang dan kita akan membutuhkannya. Jagalah dengan baik kesehatan dan ketajaman mental kita untuk memenuhi misi yang Tuhan berikan dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitar kita.

LATEST POST

 

Pemerintahan di dunia ini dilaksanakan dalam berbagai metode, namun pada intinya adalah mengatur sec...
by Oliver Kurniawan Tamzil | 29 Feb 2024

Image on PexelsMarilah kita membayangkan diri kita sendiri ketika kita sudah tua nanti? Apakah kita...
by Samuel wangsa | 18 Feb 2024

Lagu Kidung Jemaat no. 249 berjudul "Serikat Persaudaraan" mungkin sudah tidak asing lagi...
by Alviedo Yuda | 14 Feb 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER